BANJARAN DURNA (34)

Bima sudah emosi mendengar omongan Patih Sengkuni, tapi lalu dicegah oleh sang kakak, Puntadewa.

SESUAI perjanjian, mengingat, menimbang dan memutuskan, mestinya Pendawa Lima-lah yang jadi pemenang. Sebab bukti dalam TMK-100 jelas dan nyata bahwa  timbangan badan Pendawa Lima jauh lebih berat. Maka dialah yang berhak menerima negeri Ngastina secara utuh tanpa melalui pertempuran dalam Perang  Baratayuda Jayabinangun.

Tapi dari dulu kan Kurawa-100 itu ahlinya ahli dalam urusan ingkar janji alias wanprestasi. Maka Patih Sengkuni biangnya kelicikan dan kedengkian, menolak keputusan Dewan Juri yang memutuskan kemenangan Pendawa. Sejumlah argumentasi disampikan, kemenangan Pendawa Lima dicapai secara licik. Alasan pertama, jumlah Kurawa ada 100 orang, masa kalah berat dengan Pendawa yang hanya 5 orang. Kedua, Bima sempat keluar gelanggang untuk ke toilet, dicurigai dia pakai guna-guna. Ketiga ada peserta Kurawa yang hilang. Meski jelas di mana jatuhnya, dia tidak mau kembali lagi ke Ngastina.

“Dari dulu Sengkuni ngomongnya ngaco, mbelain gengnya.” Kata penonton,

“Husy, jangan keras-keras, ditangkep nanti kamu.” Ujar penonton lainnya.

Bukan hanya penonton, Bima pun yang kemenangannya mau dianulir, sudah emosi banget. Dia ingin menghajar mulut Sengkuni yang terlalu lancing itu. Tapi baru saja mau bergerak, sudah ditegur oleh kakaknya, Puntadewa. Dia dinasihati jangan ngumbar emosi di negeri orang. Selain harus jaga etika, juga bisa mati konyol seperti copet dalam bis kota, tewas dianiaya orang dalam satu bis. Apapun alasannya, tak mungkin satu orang melawan Kurawa-100.

Tangan Bima hanya bisa gatal tak keruan, karena urung nggebuki orang. Untung saja Aswatama selaku Ketua TMK-100 segera membubarkan acara dengan alasan situasi dalam kondisi darurat. Para tamu dan penonton diminta pulang dengan tertib. Tidak boleh menjadi kecebong dan kampret, baik secara pisik maupun kata-kata.

“Bapak-Ibu dan saudara sekalian, silakan kembali ke rumah masing-masing dengan tertib. Jangan sampai terjadi tragedy Kanjuruhan jilid II, karena kebetulan oksigin sedang menipis.” Ujar Aswatama dengan bibir bergetar.

“Kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, jika ada  umur panjang kita boleh hajar Sengkuni sampai mati….” Ujar seorang penonton yang kuwanen, tapi begitu didekati polisi langsung menyelinap di kerumunan penonton lain.

Rombongan para tamu kehormatan pulang dengan tertib, termasuk Patih Narada. Legalah Aswatama, karena sudah berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik. Cuma ketika dia membuka HP canggihnya, dia menemukan berita bahwa Bogadenta tak mau kembali ke Kurawa karena obyekan pengadaan timbangan raksasa boleh dikata rugi Bandar. Ketimbang nantinya dikejar-kejar debt kolektor, mendingan sembunyi saja di negeri Turilaya.

Benar nggak sih itu berita? Jangan-jangan hoaks. Sebab setelah era digital ini, semua orang bisa jadi wartawan tanpa harus jadi anggota PWI. Apa yang terlihat dan dirasakan, langsung diunggah sendiri ke  medsos tanpa melalui sensor ketat oleh seorang Redaktur. Dia tak peduli dampaknya bagi masyarakat, karena berita itu mengundang SARA atau intoleransi. Padahal berita resmi yang medianya diakui Dewan Pers, karena saking hati-hatinya sarat dengan tambahan kata diduga dan diduga.

“Bagaimana Aswatama TMK-100 berlangsung dengan sukses, kan? Selamat ya. Semoga kamu nanti dipromosikan jadi Komisaris BUMN.” Pertanyaan pertama Begawan Durna setibanya Aswatama di Sokalima.

“Apanya yang sukses, rama? Justru perhelatan ini setengah sukses. Masuknya Bima ke dalam timbangan begitu terlambat, dan mencelatnya Bogadenta sampai negeri Turilaya, dijadikan alasan Ngastina bahwa kemenangan Pandawa Lima tidak sah. Artinya, Kurawa tetap mau menguasai negeri Ngastina sampai kapanpun,” jawab Aswatama.

Ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri yang terselip di hati Begawan Durna. Sebab keberhasilan Bima menggenjot timbangan sehingga sejumlah bala Kurawa terpental jauh, adalah karena teknik dan politik buatannya. Jika tak dilihat oleh Aswatama, Begawan Durna ingin menepuk dada, “Aku kok…….!”

Tak percuma dia punya link di kahyangan Jonggring Salaka, meski koneksinya baru dewa sekelas Sanghyang Temboro. Faktanya Ajian Blabak Pengantep-antep itu telah menjadikan Bima memiliki kekuatan dan keberatan (baca: bobot) yang luar biasa. Jika kepepet, bisa dia menjadi kuli panggul di Pasar Induk Cipinang maupun Kramat Jati.

“Melihat berita lewat HP, kok Bogadenta yang terlempar sampai Turilaya dan tak mau kembali, katanya karena banyak utang di Ngastina. Bener nggak itu rama?” tanya Begawan Durna.

“Kayaknya bener itu. Sebab jaman jadi murid perguruan Sokalima dulu, Bogadenta kerjanya ngobyek melulu. Saya kasih PR, tak dikerjakan dengan alasan kulakan plastik di Pasar Beringharjo Yogya…” jawab Begawan Durna mengenang masa lalu Bogandenta. (Ki Guna Watoncarita)