BALI – Batas radius aman Gunung Agung untuk aktivitas diperpendek menjadi enam kilometer dari delapan hingga 10 kilometer dari Gunung Agung di Karangasem, Bali.
Gunung Agung saat ini masih berada dalam fase erupsi dengan aktivitas vulkanik yang relatif tinggi dan fluktuatif, dan masih berstatus Awas.
Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral menyebut berdasarkan hasil analisis data visual maupun instrumental (seismik, deformasi dan geokimia), saat ini Gunung Agung berada dalam fase erupsi, masih mengeluarkan material berupa lava yang mengisi kawah, hembusan/letusan abu, dan lontaran batuan.
Volume lava di dalam kawah sekitar 20 juta meter kubik atau sekitar 1/3 dari volume kawah (60 juta meter kubik). Laju pertumbuhan kubah saat ini rendah sehingga kemungkinannya kecil untuk memenuhi kawah dalam waktu singkat.
PVMBG memperkirakan potensi bahaya yang ada saat ini berasal dari lontaran batu pijar, pasir, kerikil, dan hujan abu pekat juga lahar hujan. Bahaya lontaran batu, pasir, kerikil, dan abu pekat diperkirakan melanda area di dalam radius enam kilometer dari kawah. Sedang bahaya lahar hujan akan mengikuti lembah sungai yang berhulu dari Gunung Agung, bergantung pada debit air maupun volume material erupsi.
PVMBG merekomendasikan Status AWAS dipertahankan mengingat saat ini Gunung Agung masih dalam fase erupsi, yang bisa berdampak pada permukiman penduduk, dan mengimbau semua pihak siaga mengantisipasi apabila terjadi perubahan yang cepat.





