28.8 C
Jakarta
Minggu, 5 Februari 2023

BANJARAN DURNA (38)

TOGOG iseng-iseng ikut baca sebagian berkas yang diterima Prabu Jungkung Mardeya. Ternyata ada salah satu persyaratan yang bakal amat-sangat merepotkan Prabu Jungkung Mardeya nantinya....

BANJARAN DURNA (37)

RUPANYA yang kasmaran akan Wara Srikandi bukan saja Begawan Durna dan  Harjua, tapi juga Prabu Jungkung Mardeya dari negeri Parang Gubarjo. Dia raja yang...

BANJARAN DURNA (36)

BERITA sakitnya Harjuna sudah sampai juga ke Dwarawati, melalui siaran TV. Sebagai kakak ipar yang baik, tidak enak rasanya jika tak segera membezuk. Beliauya...

BANJARAN DURNA (35)

BERKAT dapat kesempatan jadi Panpel TMK-100 yang tidak sukses-sukses amat, Aswatama punya tabungan makin bertambah, sehingga dia bermaksud mau ganti mobil yang sedang ngetrend,...

BANJARAN DURNA (34)

SESUAI perjanjian, mengingat, menimbang dan memutuskan, mestinya Pendawa Lima-lah yang jadi pemenang. Sebab bukti dalam TMK-100 jelas dan nyata bahwa  timbangan badan Pendawa Lima...

BANJARAN DURNA (33)

SAMBIL memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jubah, sehingga perut semakin nyata tonjolannya, Patih Narada dalam pidatonya menyambut baik TMK-100 sebagai solusi Perang Baratayuda...

BANJARAN DURNA (32)

MUJUR benar nasib Pendita Durna, Sanghyang Temboro ternayata ada di rumah kluster Sela Mangumpeng. Heran juga dewa yang suka ngelawak kadang-kadang jorok itu. Soalnya...

BANJARAN DURNA (31)

SEBULAN kemudian timbangan raksasa untuk kegiatan TMK-100 itu telah tiba dalam bentuk CKD (Completely Knock Down) alias harus dirakit dulu. Tenaga perakitnya semua wayang...

BANJARAN DURNA (30)

DENGAN  seijin Prabu Duryudana, Patih Sengkuni kemudian mencari tokoh alternatip sebagai pengganti Ketua Panpel TMK-100. Syaratnya tentu saja, bukan keluarga Kurawa-100 tapi sudah cukup...

BANJARAN DURNA (29)

PROYEK pengadaan timbangan raksasa untuk Trajon Massal Kurawa-100 ditangani oleh salah satu adik Duryudana yang bernama Bogadenta. Sesuai dengan namanya, boga yang berarti pangan...

SENYUM PAGI

Permainan Tradisional

BELUM lama ini penulis kirim WA ke sobat lama di Palembang, “Tahu nggak Mas, di pinggir sawah menjelang magrib, selalu terdengar suara thèk…thèk….thèk; ternyata itu suara demit bermain lato-lato!” Dia menjawab buruan, “Ngawur, itu suara percil si anak kodok.” Penulis tertawa, karena sobatku ini...

WAYANG PARODI

BANJARAN DURNA (43)

MEMANG begitulah karakter Patih Sengkuni, panas-panas tahi ayam, tapi ngakunya antitesa raja Dwarawati, Prabu Kresna. Awalnya semangat 45, belakangan lembek bin mleketrek. Dia ingin mendapatkan segala sesuatu secara instan tanpa melalui perjuangan. Contohnya, dia berhasil jadi patih Ngastina bukan karena prestasi, tapi lewat “koalisi...