spot_img

Gong Xi Fa Cai

TAHUN  baru Imlek 2574, Minggu 21 Januari 2023 yang dirayakan umat Tionghoa bermakna istimewa, selain saat Indonesia sedang berusaha beranjak dari pandemi Covid-19, juga di tengah tahun politik menjelang Pemilu 2024.

Menurut catatan, ada sekitar sepuluh juta Cina peranakan yang menjadi WNI atau sekitar 3,6 persen dari seluruh penduduk Indonesia sebanyak  275,3 juta jiwa (pada 2022).

Dari catatan sejarah, perpindahan bangsa China ke Nusantara mulai berlangsung pada Abad ke-5 Setelah Masehi, tepatnya pada 414,  semula menuju menuju India, namun kemudian terdampar di wilayah pantai utara Jawa.

Sementara menurut catatan buku Tionghoa di Pusaran Politik, penduduk Tionghoa di Indonesia pada 1683 sudah mencapai 5.000 orang dan pada awal abad ke 19 sudah sampai sekitar 100.000 orang

Pada era  Belanda, banyak perantau etnis China sebagai buruh atau pekerja tambang berdatangan ke wilayah Hindia-Belanda yang jumlahnya mencapai puncaknya, sampai sekitar setengah juta jiwa pada awal 1900-an.

Kiprah etnis Tionghoa, tidak bisa dinafikan, ikut berkontribusi dalam perjuangan bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan pada 1945, lalu pada pasca kemerdekaan, sejarah di negeri ini tak pernah sepi terkait keterlibatan mereka di berbagai bidang.

Jika di era kolonialisme Belanda, isu rasis dibangun guna memecah belah mereka dengan pribumi, pada pasca kemerdekaan terjadi sejumlah konflik dan benturan yang memosisikan etnis China sebagai kambing hitam dan juga korban.

Kesenjangan ekonomi yang terus berlangsung sejak Orba, membuat potensi konflik antara kaum minoritas Tionghoa yang mendominasi kegiatan bisnis dan industri di negeri ini, bagai “api dalam sekam” yang mudah disulut atau dikapitalisasi oleh kelompok tertentu.

Keterbatasan kaum Tionghoa di panggung politik dan pemerintahan, justru mengantarkan mereka fokus pada kegiatan usaha, apalagi dengan berkolaborasi dengan penguasa rezim Orba yang memberikan mereka sejumlah privilege atau keistimewaan.

Di era reformasi pasca Orba dimana politik identitas terutama isu agama dianggap sebagai “jualan” yang paling mudah dan murah untuk dikapitalisasi, ujaran kebencian kembali menyasar etnis China, tercermin dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019.

Menjelang Peimlu 2024, isu SARA dan identitas politik agaknya mulai dimainkan lagi tercermin dengan maraknya konten yang membangun narasi tersebut terutama di medsos.

Di tahun shio kelinci air yang bermakna usia panjang, kemakmuran dan kedamaian  ini, diharapkan saudara-saudara kita yang Tionghoa lebih mengokohkan kohesi kebangsaan, kepedulian dan kebersamaan di bawah naungan  NKRI.

Gong X Fa Cai!

 

 

 

 

 

 

 

 

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles