Italia: Pemilu Tanpa Koalisi Mayoritas

TIDAK satu pun partai dan aliansi partai yang diprediksikan akan memperoleh  mayoritas kursi dalam pemilu legislatif pasca pembubaran parlemen yang akan digelar Italia pada 4 Maret 2018.

Aliansi Liga Utara pimpinan Matteo Salvini dan Forza Italia pimpinan mantan   PM Silvio Berlusconi yang tergabung dalam kubu tengah-kanan diperkirakan akan memperoleh kursi terbanyak walau Berlusconi tidak bisa lagi menjadi PM akibat  terlibat kasus penggelapan pajak.

Sebaliknya, Salvini akan menduduki jabatan perdana menteri di aliansi kubu tengah-kanan yang menentang keras kehadiran imigran dan juga anti keanggotaan Italia di Uni Eropa (EU) jika partainya mengantongi suara terbanyak.

Forza Italia diprediksi akan mengantongi 16 persen suara, Liga Utara 13 persen serta salah satu anggota mitra lainnya yakni Persaudaraan Italia lima persen, sehingga aliansi ketiganya akan mengumpulkan total 34 persen suara.

Sementara itu, partai pemerintah yakni Partai Demokrasi (PD)  pimpinan PM petahana Paolo Gentiloni dan mantan PM Matteo Renzi diprediksikan hanya akan mampu mengantongi 25 persen suara.

Kebalikan dari PD yang popularitasnya cenderung anjlok, perolehan suara kelompok ekstrem yang diwakili partai Gerakan Bintang Lima diperkirakan akan naik sampai 23 persen.

Dari prediksi hasil pemilu legislatif tersebut, menurut analis politik Wolfango Piccoli, akan terjadi negosiasi  alot dan panjang terkait pembentukan pemerintahan dengan koalisi beberapa partai dengan kesepakatan gado-gado.

Gentolini sendiri menyebutkan keberhasilan partainya (PD) lima tahun penuh menjalankan roda pemerintahan di tengah tiga kali pergantian perdana menteri.

Koalisi pimpinan PD pada pemilu 2013 meraih 29,55 persen  atau hanya terpaut tipis (0,37 persen) dengan kubu tengah-kanan dengan 29,18 persen suara.

PM Enrico Letta hanya bertahan 10 bulan dan digantikan oleh Matteo Renzi yang juga harus lengser pada Desember 2016 setelah referendum konstitusi yang diusulkannya menemui kegagalan dan kemudian digantikan Gentiloni yang saat itu menlu menjadi PM hingga kini.

Walau terbilang sukses dalam memacu pertumbuhan ekonomi di penghuung pemerintahannya menjadi 1,5 persen, Itali adalah negara dengan utang publik terbesar di zona Euro setelah Yunani dan dengan angka pengangguran tertinggi.

Presiden petahana Sergio Mattarella akan menjadi sosok penentu jika setelah Pemilu nanti, partai pemenang gagal membentuk pemerintahan baru. (AP/Reuters/ns)

 

 

Advertisement