KA Semakin Bergaya

Kereta api tahun 1960-an, yang ditarik dengan lokomotif seri D bermesin uap.

 HARI ini PT KAI (Kereta Api Indonesia) berusia 76 tahun. Untuk manusia dalam usia segitu sudah kempong perot dan ngentutan. Tapi KA kita justru semakin bergaya sejak Dirutnya Ignasius Jonan (2009-2014). Dari kelas ekonomi sampai eksekutif, semua ber-AC. Tak ada calo tiket, tak ada penumpang berdiri dan PKL mondar-mandir dalam KA, dan tepat waktu lagi. Jayalah KA kita, 76 tahun telah melayani masyarakat.

PT KAI sekarang, semula bernama DKA (Djawatan Kereta Api), berawal dari pegawai KA yang menamakan dirinya AMKA (Angkatan Muda Kereta Api), dengan gagah berani merebut perusahaan KA itu dari tangan Jepang. Itu terjadi pada 28 September 1945, sekitar 76 tahun lalu. Tahun 1960-an berubah nama jadi PNKA (Perusahaan Negara Kereta Api), tahun 1971 menjadi PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), menyusul tahun 1991 jadi PT Perumka (Perusahaan Kereta Api),  tahun 1999 berubah menjadi PT KA   (Kereta Api Persero). Dan terakhir  tahun 2010 berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PT KAI), hingga sekarang.

Bung Karno awal menjadi Presiden RI geleng-geleng kepala ketika dapat laporan penumpang DKA banyak yang tak mau bayar. Alasannya, wong sudah dipimpin bangsa sendiri masak KA-nya membayar? Mungkin rakyat terbius lagu “Naik Kereta Api” karya Ibu Sud yang ada liriknya berbunyi: bolehlah naik dengan percuma. Tapi di masa itu lagu tersebut kan belum tercipta. Sedangkan lagu serupa dalam bahasa Jawa menyebutkan: Sinten numpak sepur lunga nyang Kediri, wong niki sepur dhur, bayare setali, kula trima mbonceng, konangan kondhektur, yen didhendha kenceng, napa mboten kojur.

            Nama perusahaan BUMN itu boleh berganti berulangkali, tapi perusahaan KA itu tak kunjung untung, karena terjadi kebocoran di sana sini. Dulu tentara naik KA bisa gratis, wartawan dapat reduksi 50 persen. Sampai tahun 1970, penumpang gelap cukup ngepelin sama kondektur. Jika naik KA barang, penumpang di bordes bayarnya sama tukang rem. Begitu juga yang naik lokomotif bisa bayar pada masinis. Karena itulah kondektur KA adalah profesi yang lumayan basah.

Baru setelah KA kita berganti nama PT KAI, dipimpin Ignasius Jonan sebagai Dirut, PT KAI mulai menangguk untung. Tak keliru Menteri BUMN Dahlan Iskan mengajak arek Surabaya ini membenahi KA kita. Gebrakannya banyak; penumpang KA harus pas bangku, sehingga tak ada penumpang berdiri. KA kelas ekonomi sampai eksekutif, ber-AC, tempat salat juga disediakan. PKL dilarang masuk gerbong. Jangankan masuk gerbong, jualan di seputar stasiun juga tidak diizinkan. Mirip pesawat terbang, nama penumpang harus sesuai dengan KTP-nya.

Aset tanah PT KAI yang selama ini disewakan ke swasta diambil alih. Tapi entah apa alasannya, rumah dinas pejabat DKA atau PNKA sampai sekarang ada juga yang bisa “diwariskan” pada anak dan cucunya. Padahal mestinya rumah tersebut menjadi haknya pejabat PT KAI yang berdinas sekarang.

Setahun di bawah pimpinan Ignasius Jonan, nilai laba-rugi perusahaan mulai biru. Dari yang sebelumnya minus menjadi plus. Bahkan keuntungan pada tahun 2014 mendekati Rp 1 triliun. Demikian sebagaimana tertulis dalam buku KAI Recipe: Perjalanan Transformasi Kereta Api Indonesia. Karena keberhasilannya inilah Presiden Jokowi kepincut, sehingga ditariknya menjadi Menteri Perhubungan.

Dirut-Dirut KAI selanjutnya tinggal meneruskan kinerja Ignasius Jonan selama 5 tahun. Sayangnya mulai Maret 2020 Indonesia kedatangan tamu tak diundang, namanya Covid-19. Berantakanlah keuangan PT KAI, sampai September 2021 merugi sampai Rp 700 miliar. Untungnya pandemi Corona sudah mereda sehingga pada semester I 2022 membukukan laba bersih sampai Rp 759 miliar.

Penulis saat menuntut ilmu di Yogyakarta (1964-1970) hampir seminggu sekali naik KA Bumel Jenar (Purworejo) – Yogyakarta. Dilanjutkan kerja si Solo (1972-1976) kembali sering naik Railcar Solo Balapan – Purwosari. Tahun 1965 saat masih berusia 14 tahun masih bisa beli karcis separo yang harganya Rp 7.500,- Tapi kondektur saat periksa karcis suka  menyindir, “Wis arep njaluk rabi kok tuku karcis separo!”  Para penumapang tertawa dan penulis hanya bisa nyengir kuda. (Cantrik Metaram)