
KIRGISTAN dan Tajikistan, dua negara sempalan Uni Soviet di kawasan Asia Tengah dengan penduduk mayoritas muslim terlibat sengketa militer gara-gara memperebutkan sumber air di wilayah perbatasan mereka.
Sebelumnya, Armenia dan Azerbaijan yang terletak di wilayah Kaukasus, Eropa tenggara juga terlibat perang habis-habisan mempebutkan wilayah kantong Armenia di Azerbaijan, Nagorno Karabakh, September 2020.
Tanpa “payung” Uni Soviet yang menaungi mereka, ke -16 negara-negara pecahan Soviet agaknya bagaikan anak ayam kehilangan induknya, melanjutkan kehidupan dan mencari jalan keluar sendiri-sendiri. Bahkan sebagian negara-negara tersebut seperti Latvia, Estonia dan Lithuania di Laut Baltik, memilih bergabung dengan Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Tidak hanya negara-negara sempalan Soviet, negara-negara satelitnya: Albania, Bulgaria, Ceko, negara-negara eks Yugoslavia (Kroasia, Makedonia, Montenegro dan Slovenia), Rumania dan Slowakia yang dulu bernaung dalam Pakta Warsawa, hijrah ke NATO.
Konflik bersenjata melibatkan militer Kirgistan dan Tajikistan pecah sejak Kamis (29/4) lalu di wilayah Batken untuk memperebutkan infrastruktur sumber air di Bendungan Golodnava, menewaskan belasan orang dan 31 luka-luka di kedua belah pihak.
Lebih sepertiga luas wilayah perbatasan Kirgistan-Tajikistan yang dipersengketakan berada di sekitar Varoukh, wilayah administratif yang secara de-facto masuk ke dalam teritorial Tajikistan. Konflik sebelumnya, pasca runtuhnya Soviet pada 1991 juga dipicu persoalan sama.
Berebut Penggunaan Air
Menurut saksi mata, sengketa berawal saat warga Tajikistan dekat Bendungan Golovnaya memasang CCTV di sejumlah lokasi untuk mengawasi warga Kirgistan yang juga beraktvitas di lokasi tersebut.
Saling lempar batu antara kedua warga negara bertetangga itu lalu mengundang keterlibatan militer dengan mengerahkan tank-tank dan unit labis baja masing-masing.
Situasi di Batken sebenarnya mulai memanas pada Rabu 28 April 2021 lalu. Kabarnya, disebabkan warga Tajikistan yang berada di Batken sengaja memasang kamera CCTV di sejumlah tiang listrik di dekat Bendungan Golovnaya, desa Kok-Tash, provinsi Khatlon.
Ternyata, pemasangan CCTV itu mendapat tentangan dari warga Kirgistan yang juga beraktivitas di sekitar wilayah itu dan kemudian mendesak warga Tajikistan untuk segera mencabutnya.
Desakan warga Kirgistan rupanya tidak digubris oleh warga Tajikistan sehingga bentrokan sipil pun terjadi, kedua belah pihak saling lempar batu, hingga pada akhirnya satuan militer Kirgistan dan Tajikistan melibatkan diri.
Kirgistan dan Tajikistan sudah pernah terlibat konflik di wilayah perbatasan Batken pasca runtuhnya negara komunis Uni Soviet pada 1990 dengan pemicu sengketa wilayah yang sama.
Lebih dari sepertiga wilayah perbatasan Kirgistan-Tajikistan yang disengketakan, berada di sekitar Varoukh, daerah administratif yang secara de-facto masuk ke dalam teritorial Tajikistan.
Dari perimbangan militer, Kirgistan di atas kertas lebih unggul, menurut Global Firepower berada pada ranking ke 99 dibandingkan Tajikistan pada ranking ke-93.
AB Kirgistan didukung 11.000 personil, diperkuat 150 tank dan 400 kendaraan tempur (ranpur) lapis baja, 189 pucuk artileri, 21 peluncur roket dan tujuh heli serang.
Sebaliknya AB Tajikistan memiliki 19.000 personil,didukung 253 tank dan 400 ranpur lapis baja, 80 pucuk artileri, 120 peluncur roket dan 25 pesawat angkut IL-76 dan 20 helikopter serang.
Hampir seluruh alutsista kedua negara berasal dai peninggalan Soviet seperti tank-tank T-72 , ranpur BMP dan BTR-60 dan BTR-80, heli serang Mi-8 dan MI-24 dan pesawat-pesawat tempur lawas era 1960’an MiG-21.
Hanya saja, Kirgistan yang memiliki kerjasama pertahanan dengan Rusia kabarnya akan menerima sistem pertahanan rudal S-300 Rusia dan drone-drone serang yang bisa mengubah perimbangan kekuatan militer di lapangan.
Dua negara tetangga, apalagi mayoritas sesama muslim, di tengah Ramadhan dan menjelang Idul Fitri 1442 H, selayaknya kembali ke meja perundingan.




