
KUBUĀ milisi separatis Ukraina pro Rusia di wilayah Donbass saling tuding dengan pasukan Ukraina tentang siapa yang menembakkan artileri ke posisi lawan yang berlangsung sejak Kamis (17/2) lalu.
Tidak diketahui jumlah korban kedua belah pihak, namun pemerintah Ukraina melaporkan, satu bangunan sekolah Taman Kanak-kanak di Luhansk (bagian wilayah Donbass selain Donetsk) rusak akibat artileri yang ditembakkan oleh milisi separatis pro-Rusia.
Lebih 1.100 anggota pasukan dan wargaĀ kedua belah pihak tewas dalamĀ konflik yang terjadi sejak 2014 antara sekitar 10-ribu kombatan separatis pro-Moskow melawan tentara Ukraina di Donbass,2014 beramaan dengan okupasi Krimea oleh Rusia.
Ketegangan kembali terjadi sejak empat bulan lalu, ketika Rusia menempatkan sekitar 100-ribu anggota pasukan didukung tank-tank dan senjata berat di perbatasan Ukraina.
Alasannya, negara beruang merah itu keberatan jika tetangganya, Ukraina yang dulu sama-sama bernaung di bawah Uni Soviet, bergabung ke Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) pimpinan AS.
Bergabungnya negara-negara eks-Soviet ke dalam NATO seperti dilakukan oleh Estonia, Latvia da Lithuania, juga negara-negara satelit seperti Albania, Polandia dan Ceko, ancaman bagi Rusia karena praktis negeri itu dikepung potensi musuh-musuhnya.
Bagi Ukraina, bergabung ke NATO adalah urusan internalnya, sehingga Rusia tidak bisa ikut campur tangan, begitu pula NATO yang menerima dengan tangan terbuka siapa pun yang ingin bergabung.
Merespons penempatan pasukan Rusia di tapal batas kraina, NATO pun tak kalah gertak dengan mengirimkan pasukan tambahan ke Estonia, Latvia, Lithuania dan Polandia serta mengirimkan bantuan alutsista pada Ukraina.
Ubah Strategi
Mungkin, memilih tidak ingin berhadapan langsung dengan 30 negara anggota NATO, Rusia mengubah strategi dengan mendorong separatis Ukraina di Donbass untuk menciptakan distabilitas dalam negeri Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin sendiri juga sudah menyatakan, tidak akan akan menginvasi Ukraina dan menunjukkan bukti-bukti sudah mulai menarik pasukannya dari perbatasan Ukraina,
Sebaliknya, Presiden AS Joe Biden yang dalam pernyataannya tidak akan membiarkan Ukraina sendirian menghadapi Rusia, juga berusaha meyakinkan dunia, invasi Rusia ke Ukraina sudah di hadapan mata.
Dari belanja militer 2021, AS yang tertinggi, menggelontorkan 740,5 milyar dollar (sekitar Rp10,5 quadriliun), dibandingkan dengan Rusia pada peringkat ke-11 dengan 42,1 mlyar dollar (Rp5.978 triliun).
Walau dengan mudah mampu melumat Ukraina, jika harus berhadapan dengan 30 negara NATO di bawah AS, Rusia tentu juga bakal fikir-fikir dulu.
Namun jika perang terbuka pecah antara AS dan sekutu-sekutunya di NATO yang sebagian memiliki kekuatan nuklir, begitu juga Rusia sebagai kekuatan nuklir dunia, semuanya bakal hancur lebur.
Jadi, pilihan terbaik, tetap agar semua pihak menahan diri, kembali ke meja perundingan. Demi kemaslahatan bersama dan perdamaian dunia, tidak ada yang tidak bisa dirundingkan.Ā Ā (AP/AFP/Reuters/ns)




