Kontroversi tentara Korut di Ukraina

Sejumlah pembangkit energi dan kota-kota di Ukraina mendapat kado Natal berupa kiriman 100 rudal dan 70 drone serang Rusia pada 25 Des. 2024

KEHADIRAN tentara Korea Utara di zona Perang antara Rusia dan Ukraina sampai hari ini tidak bisa dikonfirmasi oleh kedua negara, namun intelijen Amerika Serikat dan Ukraina mengaku hal itu tak terbantahkan lagi.

Jubir Dinas Intelijen Ukraina (GUR) Yevhen Yerin (23/12) mengungkapkan, paling tidak, ada sekitar 12.000 anggota tentara Korut termasuk sekitar 500 perwira dan tiga jenderal yang terlibat perang di Kursk, wilayah Rusia di tapal batas yang sebagian diduduki pasukan Ukraina sejak Agustus 2024.

Namun menurut Yerin, keterlibatan pasukan Korut di sejumlah pertempuran tidak berdampak signifikan untuk bisa mengubah  situasi medan. Jumlah personelnya juga tak terlalu signifikan,” kata Yerin kepada wartawan AFP.

Lebih dari itu Yerin menilai, pasukan Korut hanya memiliki sedikit pengalaman tempur modern, khususnya dengan drone, dan masih menerapkan taktik primitif sepertidi era Perang Dunia II.

Namun, kontingen Korut tersebut, lajut Yerin, juga terus belajar sehingga pasukan Ukraina tidak boleh meremehkan musuh karena mereka juga sudah memperhitungkan beberapa hal dalam aktivitasnya.

Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengatakan, sekitar 3.000 tentara Korut terbunuh atau terluka dalam perang Ukraina di pihak Rusia, sedangkan tetangga Korut yang juga seterunya, Korsel melaporkan 1.100 tentara Korut tewas atau terluka.

Sedangkan saat rumor terkait kehadiran tentara Korut di Ukraina kali pertama muncul di media Oktober lalu, belum jelas apa peran mereka dalam perang yang berkecamuk sejak invasi Rusia 24 Feb. 2022 itu.

Saat itu pihak Ukraina memrediksi, tentara Korut  hanya ditugaskan untuk peran non-tempur, mengingat kurangnya pengalaman mereka di medan perang.

Namun, setelah AS dan Ukraina mengungkap fakta bahwa pasukan Korea Utara terlibat langsung dalam pertempuran dengan tentara Ukraina, peran mereka dalam perang itu kemudian jadi sorotan.

Ada 11.000 tentara

Berdasarkan konfirmasi pihak AS, jumlah pasukan Korut yang dikerahkan—semula diperkirakan sebanyak 11.000 orang oleh Pentagon—diperdebatkan.

Bahkan menurut Bloomberg,  Pyongyang diyakiani telah mengerahkan sebanyak 100.000 tentara, namun informasi akurat sulit diperoleh karena Moskwa dan Pyongyang belum menanggapi secara langsung laporan ini.

Menurut peneliti CSIS Mark Cancian, sulit untuk mengetahui secara rinci  tentang kehadiran pasukan Korut termasuk terkait efektivitasnya walau Korut yang seba tertutup memiliki jumlah pasukan terbesar di dunia (sekitar 1,28 juta tentara aktif.

Tidak seperti militer Rusia, kata Cancian,  Tentara Rakyat Korea (KPA) tidak memiliki pengalaman terkini dalam operasi tempur walau mereka sangat terindoktrinasi, tetapi memiliki kesiapan tempur yang rendah”.

Meskipun demikian, menurutnya, mereka tidak dapat dianggap remah. Badan intelijen Ukraina dan Korea Selatan mengatakan bahwa banyak pasukan yang dikerahkan ke Rusia merupakan pasukan terbaik Pyongyang yakni Korps ke-11, yang juga dikenal sebagai Korps Badai, unit yang dilatih untuk melakukan infiltrasi, sabotase infrastruktur, dan pembunuhan.

Tentara-tentara ini “dilatih untuk menahan rasa sakit fisik dan penyiksaan psikologis yang berat”, kata Michael Madden, pakar Korea Utara dari Stimson Center di Washington.

“Apa yang kurang dari mereka dalam pertempuran, mereka tutupi dengan apa yang dapat mereka toleransi secara fisik dan mental,” ujarnya.

Cancian setuju bahwa “jika ini adalah pasukan operasi khusus, mereka (Korps Badai) akan jauh lebih siap daripada unit Korea Utara pada umumnya”.

“Lebih jauh lagi, Rusia tampaknya memberi mereka pelatihan tambahan, kemungkinan pada situasi khusus perang di Ukraina,” tambahnya.

Hal ini tampaknya didukung oleh munculnya video di media sosial yang menunjukkan beberapa pria yang diyakini warga Korea Utara mengenakan seragam pasukan Rusia, di tempat yang tampaknya merupakan fasilitas pelatihan militer di Rusia.

Dan saat perang di Ukraina memasuki tahun ketiga, pasukan Korut mungkin termasuk di antara “pasukan yang paling mampu” di antara pasukan yang tersedia bagi Rusia, kata Chun In-bum, pensiunan letnan jenderal tentara Korsel.

Rekrut tentara baru

Moskwa telah merekrut sedikitnya 20.000 tentara baru setiap bulan untuk membantu memperkuat pasukannya, dengan lebih dari 1.000 tentara Rusia tewas atau terluka rata-rata setiap hari, menurut pejabat NATO dan militer di Barat.

“(Rusia) telah mengirim pasukan ke garis depan tanpa pelatihan yang memadai. Dibandingkan dengan (pasukan) rekrutan tersebut, pasukan Korea Utara terlatih dan termotivasi. Mereka saat ini belum teruji dalam pertempuran, tetapi itu bukan inti masalahnya,” kata Letnan Jenderal (purn) Chun.

Meskipun demikian, beberapa pakar meyakini kendala bahasa yang nyata dan ketidaktahuan terhadap sistem Rusia akan mempersulit peran tempur apa pun.

Mereka menyarankan bahwa pasukan Pyongyang akan dimanfaatkan berdasarkan kemampuan teknik dan konstruksi mereka.

Para pengamat mengatakan, Moskwa membutuhkan sumber daya manusia, sedangkan Pyongyang membutuhkan uang dan teknologi. “Bagi Korea Utara, (penempatan pasukan seperti itu) merupakan cara terbaik untuk mendapatkan uang,” kata Andrei Lankov, direktur Korea Risk Group.

Intelijen Korea Selatan memperkirakan bayaran yang diterima sebesar 2.000 dollar AS (sekitar Rp 31,6 juta) per prajurit per bulan, dengan sebagian besar uang ini diperkirakan akan masuk ke kas negara.

Pyongyang juga dapat memperoleh akses ke teknologi militer Rusia, yang jika tidak dalam kondisi seperti saat ini, Moskwa enggan mentransfernya, tutur Lankov.

Tentu saja kehadiran kotingen Korut di Ukraina memperuwet persoalan, misalnya bagaimana jika negara-negara yang mendukung Ukraina juga mengirimkkan pasukannya untuk bertempur di sana?

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here