Kronologi Terungkapnya Kasus Pelecehan Sejumlah Santri oleh Pimpinan Ponpes di Bandung

Ilustrasi/ IST

GARUT – Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Garut, Jawa Barat, Diah Kurniasari Gunawan menjelaskan kronologi terungkapnya kasus pelecehan seksual terhadap senjumlah santri di pesantren di Bandung.

Dia mengatakan korban kekerasan seksual dan pencabulan pimpinan pondok pesantren di Bandung mengalami trauma dan tekanan yang cukup berat.

Bahkan, kata Diah, belasan santriawati tersebut harus tetap menjalani terapi dan pendampingan psikologis agar kondisinya stabil. Diah juga merupakan istri dari Bupati Garut Rudy Gunawan.

“Tim psikologi P2TP2A Garut melakukan terapi psikologi hingga saat ini para korban sudah mulai bisa kembali ke masyarakat,” kata Diah, dilansir CNNIndonesia.com.

Diah juga bercerita saat kasus tersebut terbongkar pertama kali semua orang tua korban syok sehingga Mereka harus diberi pemahaman dan pendampingan agar bisa menerimanya.

Kasus ini kata dia, mulai terbuka pada Mei 2021 lalu. Saat itu P2TP2A Kabupaten Garut menerima laporan dari seorang kepala desa dan orang tua santri terkait kasus dugaan pencabulan terhadap beberapa anak warga desanya yang mengenyam pendidikan di sebuah pesantren di Bandung.

“Sebelumnya, Kepala desa sudah melaporkan kasus tersebut ke Polda Jawa Barat,” kata dia.

Saat itu kata Diah, pihaknya juga langsung berkoordinasi dengan jajaran Polda Jawa Barat yang juga menindaklanjuti laporan kepala desa dan warga yang jadi orang tua santri. Diketahui ada 11 santri perempuan dari Garut yang menjadi korban. Bahkan dia ntaranya ada yang telah memiliki anak hingga ada yang tengah hamil.

Banyak dari orang tua santri yang belum mengetahui masalah yang menimpa anaknya, hingga P2TP2A berinisiatif memanggil para orangtua korban dan memberitahukan masalah yang menimpa anak mereka di pesantren.

“Saat inilah para orang tua banyak yang syok dan tidak terima,” kata dia.

Setelah kasus tersebut diselidiki, para anak asal Garut dijemput dari pondok pesantren oleh penyidik Polda Jabar dan dibawa ke rumah aman P2TP2A Garut. Mereka kata Diah langsung dipertemukan dengan orang tua masing-masing.

Untuk saat ini, Diah memastikan pihaknya akan terus fokus melakukan pendampingan terhadap para korban yang telah berhasil dibawa keluar dari pesantren tersebut.

Selain pendampingan kesehatan, P2TP2A juga melakukan pendampingan agar para korban yang masih berusia sekolah bisa kembali mengenyam pendidikan bahkan hingga ke bangku kuliah.

 

Advertisement