Lagi-lagi, Lemahnya Mitigasi Bencana

sebanyak 271 orang tewas, 151 hilang, ribuan rumah bangunan rusak dalam gempa di Cianjur, Senin (21/11). Lemahnya aksi mitigasi membuat jatuhnya banyak korban dan lambannya bantuan.

SEBANYAK 271 korban tewas dan sejauh ini 151 orang belum ditemukan pasca gempa berkekuatan magnitude 5,6 yang mengguncang 12 kecamatan di Kab. Cianjur, Jawa Barat, Senin (21/11).

Korban luka-luka 1.083 orang, sebagian dirawat di tenda-tenda darurat di halaman RSUD Sayang, Cianjur karena bangunan RS juga retak-retak terkena gempa dan cukup mengkhawatirkan saat terjadi serangan gempa susulan.

Sebagian pasien lagi dirawat di RS Bhayangkara, Cianjur dan yang kondisinya lebih parah dikirim ke RS-RS yang lebih lengkap fasilitasnya di kota-kota terdekat:  Sukabumi, Bandung atau Bogor.

Selain korban meninggal dan terluka, sekitar 61,9 ribu warga mengungsi ke berbagai titik pengungsian atau numpang di rumah sanak-kerabat mereka, 12.241 bangunan rumah rusak berat, 11.641  rusak sedang dan 22.090 rusak ringan.

Yang mendesak harus dilakukan, berpacu dengan waktu,  saat ini tentu saja untuk menyelamatkan nyawa 151 orang yang diduga masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan rumah-rumah mereka.

Ironisnya, upaya penyelamatan dihentikan pada malam hari akibat keterbatasan tenaga dan peralatan berat yang belum didatangkan ke wilayah terpencil seperti Desa Cijedil, Kec. Cugenang , menunggu puluhan jam sampai Rabu pagi.

Sampai Rabu siang (23/11), misalnya di Kampung Barukaso, Kec. Sukamulya, Kec. Cugenang,  yang juga terdampak berat gempa, bantuan juga belum tiba, karena dihadang oleh penduduk di desa-desa lain di bawah yang juga memerlukan bantuan.

Jika saja, sumberdayanya cukup, begitu pula dibantu anjing-anjing pelacak atau alat pemindai suhu tubuh, mestinya korban-korban yang masih hidup bisa segera diuayakan untuk diselamatkan.

Hal itu menunjukkan salah satu bukti, negeri ini yang berada di “cincin api” Pasifik di tiga tumbukan lempeng benua yakni Indo-Australia di selatan, Eurasia di utara dan Pasifik di sebelah timur yang merupakan rangkaian gunung api sepanjang 40-ribu km belum siap menghadapi bencana, khususnya gempa.

Seorang ibu asal Desa Cijedil  yang paling parah dilanda gempa, Ny Ainun mengaku, ia saat ini cukup mendapat perawatan, obat-obatan, makan minum setelah dilarikan ke RSUD Sayang, Cianjur.

Namun ia berharap bantuan pemerintah segera dikirim ke lokasi-lokasi bencana, sampai hari ketiga bencana (Selasa pagi, 23/11) karena warga belum mendapatkan tenda-tenda darurat, dapur umum dan juga fasilitas sanitasi.

Sebagian lansia dan anak-anak di Desa Cijedil yang rumah mereka luluh lantak akibat gempa sudah mulai terjangkit masuk angin, karena tidur  di tengah udara malam yang dingin, terkadang diguyur hujan,  hanya beratapkan karton-karton atau plastik seadanya.

Mitigasi Bencana

Mitigasi bencana, mulai dari perencanaan pengiriman bantuan, tim kesehatan, evakuasi harus disiapkan jauh-jauh hari sebeum musibah tiba, begitu pula fasilitas layanan kesehatan (Puskesmas, RS dan RS lapangan), fasilitas sanitasi, makanan dan obat-obatan.

Koordinasi secara terpusat perlu pula dirumuskan, agar bantuan yang mengalir dari berbagai pihak tidak tumpang tindih, mubazir, apalagi dijadikan jarahan oleh oknum-oknum tertentu seperti sering terjadi di berbagai musibah sebelumnya.

Simulasi untuk menghadapi bencana alam termasuk gempa, pertolongan saat situasi tanggap darurat, sampai rehabilitasi dan pemulihan perlu dilakukan, begitu pula perencanaan anggaran dan pengawasannya.

Sanksi hukum seberat-beratnya juga harus dijatuhkan pada oknum-oknum yang “mengail di air keruh” di tengah musibah atau pejabat  yang abai berbuat untuk menyelamatkan korban sesuai wewenangnya.

Sesar Mandiri

Pusat gempa di wilayah Cianjur kali ini yang berada 10 Km ke arah barat daya dipicu oleh gerakan Sesar Cimandiri yang membentang dari Selat Sunda sampai Gunung Tangkubanperahu.

Tercatat ada 12 kecamatan  yang terdampak gempa yakni Ciajur, Karang Tengah, Warung Kondang, Cugenang, Cilaku, Cibeber, Sukaresmi, Cikalong Kulon, Bojong Picung, Sukaluyu, Gebrong, dan Pacet.

Gempa di wilayah Cianjur-Sukabumi bukan kejadian langka karena sebelumnya tercatat terjadi pada 1844, 1879, 1900, 1910, 1912, 1973, 1982, 2020.

Sebenarnya, BMKG juga sudah menerbitkan peta-peta wilayah rawan gempa, namun masalahnya sejauh mana, pengawasan pemanfaatan lahan khususnya untuk permukiman oleh pemda sampai lurah-lurah terkait dipatuhi.

Mitigasi bencana suatu keniscayaan guna menghindari jatuhnya korban sesedikit dan sekecil mungkin!