PELAWAK yang baik adalah yang tidak ikut tertawa atas lawakan sendiri. Adakah si Nunung seperti itu? Selama ini dia hanya jadi “penggembira”. Jika terus eksis, semata-mata karena menang merk jebolan Srimulat, ditambah oleh peruntungan nasib yang tak lepas dari filosofi: wong pinter kalah karo wong begja. Tapi kali ini, “pelawak” bernama asli Tri Retna Prayudati ini lucunya bukan main. Bukan di panggung TV, tapi di kehidupan nyata. Biasanya tertawa menghibur orang, kini harus menangis ditangkap polisi gara-gara narkoba!
Indonesia punya pelawak legendaris yang lucunya mentok gardan, Basiyo, dari Yogyakarta. Ada juga Bing Slamet dari Jakarta, atau Ranto Edi Gudel (Mbah Ranto) dari Solo. Di luar itu didominasi oleh para pelawak yang pernah digembleng di Srimulat, semisal Tarsan, Basuki, Asmuni, Kadir, Tessy. Mereka adalah pelawak yang sesungguhnya, yang mampu memancing orang tertawa, tapi tidak ikut-ikutan tertawa.
Tapi pelawak seperti Eko Patrio, dan Nunung jebolan Srimulat, adalah sosok-sosok yang mujur saja. Mereka tak bisa melucu, tapi terbawa oleh lawakan anggota tim lainnya, ketidaklucuannya jadi tak terlihat nyata. Bagaimana mau dikatakan pelawak, ketika kedua orang ini berusaha melempar lelucon, ikut tertawa sendiri meski lawakannya tidak lucu juga.
Beruntung Eko Patrio sudah menemukan habitatnya yang baru, jadi politisi DPR, bahkan masuk periode ketiga. Sedangkan Nunung tetap di jalur hiburan di TV, meski tetap tampil seadanya dan semampunya. Kelebihan dia adalah, karena jebolan Srimulat sehingga masih ada yang selalu mengajaknya. Maka dia pernah tampil di Si Dul Anak Sekolahan, Opera van Java dan sekarang “Ini Talk Show” di Net TV, dan program-program cengengesan lainnya setiap bulan Ramadan.
Tapi ya itu tadi, Nunung sekedar jadi pelengkap penderita. Dia tak pernah mampu melempar lawakan yang bernas. Dari lawakannya yang kering pun, dia sudah ikut tertawa sendiri sampai terpingkal-pingkal dan kemudian terkencing-kencing. Namun demikian kocek terus terisi, rejeki terus mengalir. Benar kata orang bijak, orang bodo kalah oleh orang pinter, dan orang pinter kalah sama ora begja (mujur). Si begja itu salah satunya si Nunung alias Tri Retna Prayudati. Tidak lucu, tapi payu (laku).
Sebagai artis dunia hiburan di TV, memang membutuhkan tenaga ekstra. Di samping jadwal shuting yang tak menentu, juga siaran langsung yang menguras tenaga. Seiring dengan pertambahan usinya (lahir di Solo, 5 April 1963), dia perlu tambahan tenaga lewat doping obat-obatan agar tampil rosa-rosa macam Mbah Marijan. Tapi bukan jamu beras kencur atau temulawak, melainkan narkoba.
Nunung memang bukan Bolot yang selalu budeg di luar urusan uang dan perempuan cantik. Tapi gara-gara narkoba, dia jadi tak mendengar kisah-kisah sebelumnya, di mana sejumlah artis dikerangkeng gara-gara pil haram itu. Ada Polo, Doyok, Gogon, yang pernah masuk penjara gara-gara narkoba. Tapi karena mendadak bolot, semua itu jadi tak pernah didengarnya lagi.
Ternyata sudah beberapa bulan ini Nunung dan suaminya, Jan Sambiran, suka pesen narkoba yang harganya berjut-jut. Tapi pada kali yang ke-10, dia digerebek polisi bersama suaminya dari rumahnya di Tebet. Ternyata dia sudah lama dipantau polisi, sehingga hari nahas itu akhirnya tiba Jumat lalu. Dia ditangkap polisi bersama suami dengan sejumlah barang bukti berupa bubuk narkoba dan bong.
Mereka sudah dijadikan tersangka, dan itu berarti bisa sampai Pengadilan. Kali ini benar-benar lucu tampilan si Nunung. Bagaimana tidak? Biasanya tertawa menghibur orang, kini harus menangis ditangkap polisi gara-gara narkoba! Jika nantinya sekedar direhabilitasi, masih beruntung. Tapi jika harus tinggal di hotel prodeo, alamat kariernya bakal tamat. Bisa sementara, bisa permanen untuk selamanya. (Cantrik Metaram)





