JAKARTA, KBKNEWS.id – Anggota Kongres Demokrat Amerika Serikat dari Massachusetts, Jake Auchincloss, menyebut penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat tidak berkaitan dengan isu perdagangan narkoba, melainkan kepentingan minyak.
“Ini pertumpahan darah demi minyak. Tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba,” ujar Auchincloss kepada CNN.
Ia menambahkan, narkoba yang banyak beredar di AS saat ini adalah fentanyl asal China, bukan kokain dari Venezuela yang sebagian besar dikirim ke Eropa.
Menurut Auchincloss, alasan utama operasi militer AS di Venezuela adalah karena negara Amerika Latin tersebut memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Ia juga menyoroti janji kampanye Presiden AS Donald Trump kepada perusahaan minyak AS, khususnya Chevron.
“Chevron memiliki kontrak dan izin dari Departemen Keuangan AS untuk mengeksploitasi minyak Venezuela. Presiden ini menepati janji kampanyenya kepada perusahaan minyak besar,” kata Auchincloss.
Sebelumnya, Washington mengonfirmasi operasi militer ke Venezuela dengan tuduhan bahwa Maduro dan sejumlah pejabat negara bertanggung jawab atas terorisme narkoba dan kejahatan terorganisasi. Tuduhan tersebut telah dibantah pemerintah Venezuela.
Trump sendiri menyatakan AS akan mengambil alih cadangan minyak Venezuela dan mengundang perusahaan-perusahaan AS untuk berinvestasi miliaran dolar guna memulihkan industri minyak negara tersebut.
Saat ini, industri minyak Venezuela dikuasai perusahaan negara Petróleos de Venezuela (PDVSA).
Chevron, yang berbasis di Houston, menjadi satu-satunya perusahaan AS yang masih beroperasi di Venezuela melalui pengecualian sanksi, dengan membayar sebagian hasil produksi kepada PDVSA.
Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari cadangan global. Jumlah itu melampaui Arab Saudi (267 miliar barel), Iran (209 miliar barel), dan Irak (145 miliar barel).
Meski demikian, produksi minyak Venezuela saat ini hanya sekitar 800 ribu barel per hari, jauh menurun dibandingkan puncaknya pada akhir 1990-an yang mencapai 3,5 juta barel per hari.
Penurunan ini dipicu sanksi internasional dan keterbatasan investasi. Sebagai perbandingan, produksi minyak AS pada akhir Desember mencapai sekitar 13,8 juta barel per hari.





