
BAIK pihak Rusia mau pun Ukraina sama-sama meminta Dewan Keamanan PBB agar melakukan penyelidikan terhadap dugaan pembantaian massal di kota Bucha, Ukraina.
Pihak Ukraina mengungkapkan, sekitar 400-an jasad warga sipil bergeletakan di sejumlah ruang terbuka di kota Bucha, sekitar 37 Km dari ibukota Kiev, sejak invasi dan bombardemen yang dilancarkan Rusia, 24 Februari.
Mayat-mayat bergelimpangan baru dikonfirmasi oleh pemerintah kota Bucha, Rabu (30/3) lalu setelah tentara Rusia menarik diri dari kota Bucha, agaknya mulai menerapkan taktik baru mengepung Ukraina dari arah timur dan selatan.
Citra satelit perusahaan Amerika Serikat, Maxar Technology memindai dugaan adanya kuburan massal di Bucha, 10 Maret lalu, dan kemudian menemukan lokasi lainnya pada 1 April.
Wali kota Bucha Anatoli Fedoruk juga mengaku menemukan satu lokasi kuburan massal di salah satu wilayah kotanya, dari makam tersebut tampak menjulur tangan-tangan yang terikat dan sebagian korban mengenakan ikat kain putih di lengan mereka tanda menyerah.
Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan akan membentuk pengadilan khusus untuk menyelidiki kejahatan yang dilakukan pasukan pendudukan Rusia.
Mekanisme peradilan dengan melakukan kerjasama antara pakar hukum, penyelidik, penyidik dan hakim nasional dan in’tl untuk mengadili terhadap mereka yang nyata-nyata terlibat kejahatan perang
Rusia Bantah
Sebaliknya Jubir Kantor Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov mengatakan, pihaknya meminta sidang darurat DK PBB karena menganggap, tudingan terhadap Rusia sebagai provokasi serta ancaman terhadap kedaulatan negaranya serta keamanan int’l.
Peskov menyangkal keras tudingan, Rusia telah melakukan pembantaian massal dan akan terus mendesak agar DK PBB membahasnya.
Jubir Kemlu Rusia Maria Zakharova juga menyebutkan soal permintaan negaranya pada DK PBB< namun Inggeris yang memegang ketua bergilir DK PBB 2022 menolaknya.
Sementara Kemhan Rusia menyebutkan, rekaman video tentang ajsad bergelimpangan di Bucha merupakan bentuk provokasi baru, karena saat tentara Rusia meninggalkan kota itu, tidak satu pun warganya yang menjadi korban kekejaman.
Uni Eopa sendiri, diwakili Kepala Kebijakan LN Josep Borrell menyebutkan, gambar mengerikan tentang ratusan warga sipil yang tewas dan kehancuran infrastruktur sipil menunjukkan fakta kebrutalan perang yang terjadi.
“Pembantaian di Bucha dan kota-kota lain di Ukraina akan tertulis dalam kekajaman di Eropa. Pemerintah Rusia harus betanggungjawab atas pristiwa ini, “ ujarnya.
Di era modern saat ini, tentu tidak akan sulit memverifikasi apa yang terjadi, walau pelakunya tentu akan tetap berusaha berkelit. (AFP/Reuters/ns)




