JENEWA – UNHCR melaporkan Burundi, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Sudan Selatan, Suriah dan Somalia merupakan enam situasi pengungsi dan pengungsian yang paling parah dilanda krisis dana yanag tengah dialami badan pengungsi PBB tersebut.
UNHCR mencontohkan di Burundi, pengungsi tidak memiliki cukup makanan untuk memberi makan keluarga mereka karena pemangkasan ransum.
UNHCR juga mendapati di DRC yang sarat konflik dan di negara-negara penampung pengungsi Kongo, anak-anak muda khususnya tidak bisa mendapat pekerjaan dan pendidikan.
Selain itu, hampir 12 juta pengungsi Suriah dan pengungsi di dalam negeri dalam situasi yang buruk karena dana yang tersedia hanya cukup untuk memberi mereka jumlah minimum yang diperlukan untuk bertahan hidup.
Sebelumnya diberitakan, dalam laporannya Selasa (9/10/2018), UNHCR mengatakan tahun ini hanya menerima separuh lebih dari 8,2 miliar dolar yang diperlukan bagi operasi kemanusiaan.
Sebanyak 68,5 juta orang telah kehilangan tempat tinggal secara paksa di seluruh dunia, dengan 25,4 juta di antaranya adalah pengungsi. Meskipun jumlah orang yang mengungsi akibat konflik dan penganiayaan meningkat, badan pengungsi PBB mengatakan dana yang diperlukan untuk membantu mereka menurun.
Juru bicara UNHCR Babar Baloch mengatakan kondisi ini meningkatkan penderitaan pengungsi dan pengungsi di dalam negeri.
Dengan terbatasnya dana, ia mengatakan prioritas harus diberikan kepada upaya penyelamatan jiwa, makanan, tempat tinggal dan layanan kesehatan.





