Pidato Presiden Sukarno

Pidato Presiden Sukarno selalu ditunggu rakyat Indonesia, meski hanya lewat radio (RRI).

PADA zaman Orde Lama, setiap tanggal 17 Agustus ada yang ditunggu-tunggu rakyat, yakni pidato Presiden Sukarno di halaman Istana Negara. Rakyat seluruh Indonesia mendengarkan liwat radio yang dipancarkan oleh RRI. Setelah Orde Baru dan dilanjutkan di era reformasi, Presiden pidato tanggal 16 Agustus di depan anggota DPR-MPR-DPD dengan istilah sidang tahunan untuk menyampaikan RAPBN dan Nota Keuangan tahun berikutnya. Tapi ironisnya, meski disiarkan langsung oleh TV rakyat tidak antusias menunggu dan mendengarkan.

Terus terang, gaya pidato Presiden RI di masa Orde Baru dan era reformasi tidak semenarik Presiden Sukarno dulu. Pidato Presiden Soeharto terasa datar dan hambar. Begitu juga presiden-presiden selanjutnya, gayanya biasa-biasa saja, tidak berapi-api. Tak ada yang sampai menggebrak podium seperti Presiden Sukarno. Giliran Prabowo yang bisa menggebrak podium, sayangnya dia baru tingkat calon presiden …..dan kalah lagi!

Bung Karno memang dikenal orator ulung, sejak remaja dia sudah belajar pidato di rumah kos-kosan HOS Tjokroaminoto di kampung Peneleh, Surabaya. Di kamarnya, di depan ruang gelap yang dianggapnya      ribuan massa, dia pidato menggebu-gebu, berteriak-teriak sendirian. Kartosuwiryo yang kamarnya bersebelahan, sangat terganggu oleh teriakan-teriakan Sukarno yang menirukan pidato para pemimpin dunia. “Diam, berisik!” ujar Kartosuwiryo sambil menggedor-gedor dinding kamar Bung Karno.

Puluhan tahun kemudian takdir Illahi menentukan, Bung Karno menjadi Presiden RI yang pertama, sementara Kartosuwiryo yang terpengaruh kadrun di zamannya, justru masuk hutan angkat senjata melawan pemerintahan Sukarno dengan DI/TII-nya. Maka ketika Presiden Sukarno harus menandatangani surat eksekusi hukuman mati untuk Kartosuwiryo, Bung Karno meneteskan air mata pilu.

Bung Karno terus memimpin rakyat Indonesia, sejak 1945 hingga 1967. Pidato-pidatonya selalu menghentak siapapun yang mendengarkan, termasuk para pemimpun dunia. Pidato-pidato Bung Karno di dalam dan luar negeri, telah mempengaruhi dan menyemangati para pemimpin bangsa Asia-Afrika untuk merdeka, terlepas dari penjajahan kolonialisme dan imperialisme.

Gaya pidato Presiden Sukarno, memang memukau. Pada saatnya meninggi, pada saatnya pula merendah. “Inggris kita linggis dan Amerika kita seterika,” kata Presiden Sukarno. Di kesempatan lain dia menegaskan, “Insinyur kita kalah sama tukang becak. Tukang becak siap menikah meski tak punya apa-apa, sedangkan insinyur kita baru mau menikah setelah punya gaji dan rumah.” Untuk menyemangati anak muda, Bung Karno juga mengatakan, “Berikan aku 10 pemuda, akan aku goncang dunia.” Pernah pula Sang Proklamator mengatakan,  “Capailah bintang-bintang di langit!”

Ya, bagi Bung Karno bintang-bintang di langit itu sangat menginspirasi. Setidaknya menurut Darmosugondo wartawan Istana tahun 1960-an yang juga penyiar RRI Jakarta. Sebelum menyusun pidato 17 Agustus Bung Karno suka menatap langit di tengah malam. Bintang-bintang di langit hitam itu telah mengilhami topik-topik dalam pidatonya nanti. Bukan dituangkan lewat mesin tik, melainkan tulisan tangannya yang sangat khas.

Pada pidato Presiden Sukarno sering diselipkan Bahasa Belanda dan Inggris, karena memang sangat menguasainya. Tapi sering pula masuk idiom-idiom Jawa termasuk bahasa pedalangan. Maka Bung Karno sering mengatakan, rawe-rawe rantas malang-malang putung; kekejera kaya  manuk branjangan, kopat-kapita kaya ula tapak angin. Pendek kata pilihan kata Bung Karno selalu  menarik perhatian para pendengarnya.

Pidato Bung Karno selalu ditunggu-tunggu rakyat, baik datang langsung ke lokasi, atau sekedar mendengarkan lewat RRI. Rakyat tak pernah bosan dengan pidato Bung Karno, yang suaranya selalu jernih meski sudah tidak lagi muda. Pernah terjadi, saat Presiden Sukarno mencanangkan Trikora 19 Desember 1962 di alun-alun lor Yogyakarta, rakyat tak beranjak pergi meski hujan lebat.

Penulis yang masih di Sekolah Rakyat, bebas pelajaran pada hari itu. Oleh guru kelas IV, kami diperintahkan mendengarkan pidato Bung Karno lewat radio di rumah Kades Kedondong, yang berjarak 1,5 Km dari sekolah kami, SR Margosari. Ternyata, di rumah Pak Kades itu kami hanya bisa mendengarkan pidato Bung Karno saja, tak pernah melihat bentuk radionya. Maklum, di jaman itu radio merupakan barang mewah, sehingga para bocah pun ingin melihat bentuknya kotak bisa ngomong itu.

Di desa penulis, yang memiliki radio kemudian adalah Mas Purbosukarto, yang harus menjual sawah dulu untuk memiliki radio Ralin baru. Kemudian ganti lagi radio Phillips L4 26 T warna kuning, made in Holland. Ketika Presiden Sukarno pidato 17 Agustus lewat RRI Jakarta, dan malamnya disiarkan ulang, kami para bocah mendengarkan sambil duduk-duduk di drum minyak tanah. Sedangkan para orangtua di ruang tamu sambil macit gemblong (juadah).

Selama berkuasa, Presiden Sukarno telah menyampaikan pidato HUT RI sebanyak 21 kali, dari 17 Agustus 1946 sampai 17 Agustus 1966. Di antaranya yang penulis ingat adalah: 1960, Jalannya Revolusi Kita (Jarek); 1961 Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional (Resopim), 1962 Tahun Kemenangan (Takem), 1963 Genta Suara Revolusi Indonesia (Gesuri), 1964 Tahun Vivere Pericoloso (Tavip), 1965 Tahun Berdikari (Takari), dan 1966 Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah).

Pada 17 Agustus 1967 Bung Karno sudah bukan lagi Presiden RI, posisinya digantikan oleh Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden. Kekuasaan Bung Karno memang sudah dilucuti. Pada 16 Agustus 1967 Bung Karno dan keluarganya harus meninggalkan Istana Merdeka dan  dipindahkan ke Wisma Yaso sebagai tahanan kota. Oleh penguasa baru RI, Bung Karno dilarang ketemu teman-temannya, apa lagi pidato yang menjadi hobinya dilarang keras. Ini siksaan batin yang mempercepat kematiannya. Sang Proklamator itu wafat 21 Juni 1970 dalam usia 69 tahun. (Cantrik Metaram)