Presiden Kim Takut Alami Nasib Serupa Maduro

Seperti diungkapkan seorang diplomat pembelot Korut, Presiden Kim Jong Un disebut cemas bakal digulingkan oleh AS seperti dilakukan terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. (Reuters)

OPERASI militer presisi dan kilat yang dilancarkan militer Amerika Serikat saat menyerang Venezuela dan menculik Presiden Nicolas Maduro, 3 Januari lalu disebut oleh seorang diplomat Korea Utara yang  membelot, memicu kecemasan besar rezim pemerintah Kim Jong Un.

Mantan diplomat Korea Utara Lee Il-kyu  seperti dilaporkan AFP yang dikutip Kompas.com (28/1) menilai, -peristiwa itu membuat Presiden Korea Utara Kim Jong Un merasa dirinya rentan digulingkan oleh AS.

Kepanikan yang menurut Lee muncul di lingkaran kepemimpinan Korea Utara diantisipasi dengan menyusun skenario terburuk bagi Kim Jong Un

Lee Il-kyu,  penasihat politik Korut di Kuba dari 2019 hingga 2023, mengatakan, operasi cepat Washington di Caracas adalah skenario terburuk bagi para pemimpin Korut.

“Kim merasa, operasi yang disebut ‘penggulingan kekuasaan ’ itu mungkin juga bakal dilancarkan terhadap dirinya , ” kata Lee, yang kini bekerja di lembaga pemikir yang didukung negara di Seoul.

Selama ini, kepemimpinan Korea Utara menuduh Washington berusaha menyingkirkan rezimnya dan menyatakan bahwa program nuklir serta misil mereka diperlukan sebagai penangkal terhadap dugaan upaya pergantian rezim oleh AS.

Namun menurut Lee, penggulingan Maduro kini akan memicu kepanikan di kalangan elite keamanan Korut.

Kim akan “merombak seluruh sistem terkait keamanan pribadinya dan langkah-langkah penanggulangan jika terjadi serangan terhadap dirinya.”

Lee, diplomat Korut  yang membelot saat ditempatkan di Havana, Kuba,  negara sekutu utama rezim sosialis Maduro yang memimpin Venezuela.

Ia memainkan peran penting dalam negosiasi tingkat tinggi, termasuk mengamankan pembebasan kapal Korut yang ditahan di Panama pada 2013 –  tugas yang membuatnya menerima penghargaan langsung dari Kim Jong Un.

Salah satu misinya yang terakhir adalah upaya yang akhirnya gagal untuk mencegah Kuba menjalin hubungan diplomatik dengan Seoul.

Namun, rasa frustrasi mendalam terhadap sistem politik dan kenegaraan di Korut membuatnya menjadi salah satu diplomat berpangkat tertinggi yang membelot dalam beberapa tahun terakhir.

“Saya sudah muak,” katanya. Ia mengatakan, penolakan kesempatan karier setelah menolak menyuap atasannya menjadi titik terakhir yang membuatnya memutuskan hengkang.

Nyaris gagal

Pelariannya nyaris gagal. Dalam momen hidup dan mati bagi keluarganya, Lee bersama istri dan putrinya sempat terjebak di bandara sebuah negara Amerika Tengah yang namanya tidak ingin ia sebutkan.

Meski sudah menyatakan niat membelot, petugas bandara bersikeras ia harus naik pesawat menuju Venezuela, yang hampir pasti akan membuatnya dikirim kembali ke Kuba.

Otoritas Kuba kemudian berkewajiban menyerahkannya ke Korea Utara—yang menurutnya sama dengan hukuman mati.

“Saya berjuang secara fisik dalam keputusasaan, mencoba menyelamatkan keluarga saya. Tapi tidak berhasil,” tuturnya.

Permohonannya akhirnya diterima ketika seorang diplomat Korea Selatan datang dan memberi tahu petugas bahwa Lee dan keluarganya kini berada di bawah perlindungan Seoul.

“Pada saat itu, semua petugas menghilang,” katanya. “Jika melihat ke belakang, itu adalah momen yang menunjukkan kekuatan nasional Korea Selatan.”

Lee hanya segelintir pembelot Korut yang bernasib mujur, lolos dari maut dan kini bisa mengenyam kebebasan. (AFP/Kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here