Rumah Sakit Penuh, Wabah Apa Berkah?

 

TIDAK MENOLAK PASIEN

tmp_31996-IMG_20160311_193226-562834373Selama dua hari saya di kamar 2  UGD itu. Saya pun mendapat jatah menandatangani inform concern bersedia diterapi di UGD selama menunggu kamar rawat inap yang diantrikan oleh petugas.

Selama di UGD, selama itu pula saya melihat kesibukan paramedis, dokter jaga dan petugas rumah sakit melayani pasien. Tidak terlihat bagi saya keluhan dari mereka, meskipun pontang-panting melayani pasien yang terus bertambah.

Mereka dengan sabar melayani, meskipun berbagai prilaku dan kurenah keluarga  yang kecemasan dan rintihan pasien yang tengah kesakitan dikeluhkan kepada mereka. Hanya saja, mereka para dokter dan perawat itu tetaplah manusia, mereka punya keterbatasan juga.  Di ujung aplusan jaga dengan rekan mereka, kelihatan sekali mereka sangat letih.  Tidak jarang mereka pulang terlambat dari semestinya.

Yah, saya yang menyaksikan hanya menitip doa dalam hati, semoga penat mereka  terobati dengan selamat sampai di rumah dan bertemu dengan orang-orang yang dicinta. Dan juga Sang Penjaga Alam, Allah SWT memulihkan tenaga mereka dan membangunkan mereka dengan segenap energi dan kesegaran maksimal di pagi hari agar mereka bisa kembali beraktivitas esok harinya.

Pernah saya bertanya kepada  Brother Yosep, perawat yang menjaga Kamar 2. Kenapa, RS Polri ini terus saja menerima pasien, padahal UGD sudah penuh dan membludak. Jawabnya sangat mengejutkan saya; “kita tidak boleh menolak pasien, karena mereka datang dengan penuh harap ke sini, untuk diobati.”

Jadi seberapapun pasien yang datang, dengan catatan masih ada obat untuk mengobati, maka pasien akan tetap ditangani oleh UGD rumah sakit ini.  Pelayanannya pun standar, ketika pasien datang, pihak keluarga mendaftar untuk mendapatkan identitas perawatan, di tempat pendaftaran. Berkas pendaftaran dibawa ke ruang tindakan dan berkas itu diserahkan ke perawat jaga.

Perawat jaga berdasarkan berkas pendaftaran memberikan resep untuk mengambil infus ke apotik. Setelah pasien diinfus dan ditensi, kemudian dirongent toraknya dan dicek darahnya ke lab. Sementara itu, dokter jaga mulai melakukan pemeriksaan dan menanyakan keluhan pasien.

Setelah dokter mendapatkan hasil dari lab dan rongent ditambah catatan keluhan pasien, barulah dokter memberikan obat dan langkah-langkah terapi. Jika diperlukan dokter langsung mengkonsulkan ke dokter spesialis sesuai kondisi dan penyakit yang diderita pasien. Hasil kesimpulan dari dokter spesialis inilah yang menjadi patokan sementara selama observasi awal di UGD.

Semua pelayanan dilakukan secepat mungkin, yang memperlambat hanya antrean pasien yang begitu banyak. Akan tetapi untuk sebuah standar pelayanan UGD  menurut saya, ini sudah luar biasa, di banding rumah sakit lain yang pernah saya kunjungi. Tidak heran kalau di RS Polri termasuk pavorit bagi warga Jakarta Timur, untuk cepat mendapatkan solusi kesehatan yang mereka rasakan.

Setelah pasien UGD mendapatkan pelayanan awal, selanjutnya fokus dokter dan perawat jaga beralih ke pasien baru. Pasien lama akan ditangani apabila ada keluhan saja, termasuk kalau infusannya habis atau mampet.

Nah, selanjutnya adalah evaluasi dari hasil observasi, setelah obat awal dikasih maka beberapa jam kemudian dokter akan datang lagi untuk menanyakan, jika perubahan belum signifikan maka pasien akan diberikan rekomendasi rawat inap untuk pengobatan lebih baik dan lebih intensif. Untuk itu, pihak  keluarga diminta kembali ke bagian pendaftaran untuk mengantere kamar rawat inap. Setelah itu, adalah masalah penantian kamar. Kamar akan  cepat dapat jika banyak pasien rawat inap pulang.

Sehubungan dengan ramainya pasien yang dirawat, penantian pun semakin panjang. Hal inilah yang menyebabkan pasien  sampai 5 hari di UGD, yang seharusnya hanya berbilang jam saja. Apalagi saat ini, akses kesehatan jauh lebih mudah karena warga sudah menggunakan BPJS dan jaminan lainnya.

Hanya saja ketika saya melihat membludaknya UGD sampai ke lorong dan luar gedung, saya tidak melihat ini semacam pelayanan rumah sakit, tapi lebih mirip Posko Bencana yang sedang menangani korban wabah.  Jadi, kondisi ini berkah apa wabah?

Advertisement