spot_img

Serahkan Pada Ahlinya

INDONESIA itu negara yang memiliki banyak ahli, tapi kenapa negara yang baldatun toyibatun warobbun ghofur tak kunjung tercapai? Ya karena para ahli itu bercampur dan berbaur menjadi satu (kolaborasi), sehingga semuanya tidak jelas. Ada ahli hukum, ahli agama, ahli waris, ahli surga, ahli neraka, ahli zina, ahli hisap, sampai ahlinya ahli of the core alias Pak Ndul. Maka hadits Nabi mengatakan, segala sesuatu yang diserahkan bukan pada ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.

Sekedar contoh, yang ahli hukum nyampur dengan ahli korupsi, maka sejumlah Hakim Agung ditangkap. Ahli agama (ustadz) nyampur dengan ahli zina, maka banyak murid pesantren dihamili guru ngajinya, misalnya kasus Hery Irawan di Bandung. Ironisnya, meski si Hery sudah divonis mati, ustadz ahli zina yang lain masih bermunculan. Tidak percaya? Klick saja Mbah Google, nanti akan ditunjukkan di mana-mana oknum ustadz banyak yang ditangkap karena skandal seks dengan santriwatinya.

Ahli zina kemudian menjadi ahli neraka, itu memang sudah klop, dalam Quran juga ada peringatan untuk itu (surat Al Isra ayat 32). Ahli waris bisa menjadi ahli surga terjadi ketika anak selalu mendoakan arwah orangtuanya. Hadits Nabi riwayat Muslim juga menyebutkan hal itu: “Apabila anak adam (manusia) telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya darinya, kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah (sedekah yang pahalanya terus menerus mengalir), ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.

Dalam Islam, khususnya Bahasa Arab, ahli bisa mengandung makna penghuni. Tetapi dalam Bahasa Indonesia, ahli maksudnya adalah orang yang benar-benar menguasai sebuah ilmu. Beda dengan staf ahli, dia tugasnya ya memberi petunjuk pada menteri tentang hal-hal teknis, karena sang mentri –umumnya dari parpol– yang tak menguasai bidangnya. Staf khusus lebih parah lagi, asal dia bawaan menteri parpol, tugasnya setiap bulan cari dana ke ditjen dan biro-biro untuk disetorkan ke parpol induk sang mentri.

Kenapa bukan ahlinya dijadikan menteri, ya karena balas jasa presiden terpilih pada perpol mitra koalisinya. Maka hanya terjadi di Indonesia, bukan ahli ITE dipercaya jadi Mentri Kominfo. Yang Tim Hore saat kampanye dulu, bisa dijadikan komisaris independen. Maka kemudian ada Timses dijadikan Mendikbud, karena hanya pinter ngomong. Karena ternyata tak bisa kerja yang dicopot lagi.

Ada juga Menteri Pertahanan yang dipercaya banyak ngurus hal-hal bukan bidangnya. Bagaimana mungkin eks jendral yang mimpin pasukan, dipercaya memimpin pasukan tanaman singkong ribuan hektar di Kalteng. Ya gagal totalah. Tak kalah pula parahnya, Menteri Pertahanan disuruh ngurus pembangunan proyek air bersih di daerah. Tapi mentrinya kok ya mau. Jangan-jangan sang mentri tak bisa membedakan antara mempertahankan tanah air dan mempertahankan air tanah.

Menko Polkam Sudomo dulu saat menjelang pelantikan Presiden Soeharto pernah datang ke gedung MPR-DPR untuk menyaksikan gladi resik. Sambil memegang kursi yang akan diduduki Presiden dan Wapresnya, Pak Domo bilang, “Banyak orang yang kepengin duduk di kursi ini, tetapi tidak bisa!” Kalau boleh dilanjutkan, mungkin Pak Domo ingin mengatakan, “Sebaliknya yang sudah tak mau duduk di situ, masih dibujuk-bujuk agar mau.” Padahal setelah dianya mau beneran, belum waktunya sudah ditarik lagi itu kursi.

Intinya, jabatan itu amanah, yakni posisi yang tak perlu dikejar asal sudah takdirnya akan menghampirinya. Dan kini banyak tokoh yang memaksakan diri. Sudah tiga kali kalah dalam Pilpres, masih maju lagi dan maju lagi. Dia sudah lupa umur, tak menyadari bahwa dirinya sudah uidzur. Sampai-sampai dianya berdoa, “Ya Tuhan, jangan Kau ambil nyawaku sebelum berkuasa, sehingga aku bisa memberi makan seluruh anak Indonesia.”

Ini menandakan bahwa pemanjat doa ini sosok yang ambisius, syahwat kekuasaannya lebih besar ketimbang syahwat kelelakiannya. Padahal jika merujuk ke hadits Nabi, orang yang meminta jabatan itu pasti punya motif tertentu. Sabda Nabi, “Sungguh aku tidak akan mengangkat sebagai pejabat orang yang memintanya dan tidak juga orang yang berambisi terhadap jabatan itu”. (HR. Bukhari). Sebab jabatan jika jatuh pada orang yang bukan ahlinya, akan hancur jadinya, apa lagi diberikan pada anak kemarin sore yang masih pupuk bawang. (Cantrik Metaram)

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles