
SRI LANKA, negeri berpenduduk 22 juta jiwa di kawasan Samudera Hindia nyaris lumpuh akibat krisis ekonomi sejak April lalu, bahkan stok BBMÂ menipis, hanya tersisa untuk sehari, bahan pangan melambung tinggi harganya dan menghilang dari pasar.
Menteri Energi Sri Lanka Kanchana Wijesekera bahkan mengatakan pada Minggu (3/7/2022), negaranya tinggal memiliki sisa bahan bakar untuk digunakan kurang dari kebutuhan untuk sehari saja.
Antrian warga yang mengular sampai beberapa Km mengular mendapatkan BBM sudah menjadi pemandangan sehari-hari di Colombo dan kota-kota lainnya, bahkan ada warga yang mengantri BBM dua hari dua malam di SPBU di tengah kota.
Menteri Energi Kanchana Wijesekera mengaku cadangan bensin tersisa cuma 4.000 ton atau ekuivalen dengan kurang sehari dari total kebutuhan di seluruh negeri untuk berbagai penggunaan, mulai dari alat transportasi, listrik dab kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Pasokan bensin berikutnya diharapkan baru tiba pada 22 atau 23 Juli,” kata Wijesekera seperti dikuti AFP di Colombo, seraya menambahkan, ia udah berupaya mencari pemasok lain,tetapi tidak ada yang sanggup mengirimkannya sebelum 22 Juli.
Pusat-pusat perbelanjaan dan took-toko tutup, Minggu (3/6) akibat situasi yang tak menentu, dan keadaan diprediski makin memburuk dengan bukanya lagi perkantoran dan kegiatan usaha Senin ini.
“Kami telah menghubungi pemasok lain, tetapi kami tidak dapat mengonfirmasi pasokan baru sebelum tanggal 22,” tambah dia, dikutip dari AFP.
Pekan lalu, Sri Lanka yang kekurangan uang mengumumkan penghentian dua minggu untuk semua penjualan BBM kecuali untuk layanan penting guna menghemat bensin dan solar dalam keadaan darurat.
Penduduk Sri Lanka yang putus asa terlihat tak ingin lagi menggunakan kendaraan pribadi dan berharap mendapatkan tumpangan kendaraan umum, namun bus milik swasta yang merupakan dua pertiga dari armada negara juga terpaksa mengurangi layanan pada Minggu karena sangat terpengaruh oleh kekurangan bahan bakar.
“Kami mengoperasikan sekitar 1.000 bus di seluruh negeri dari 20.000 kendaraan milik anggota kami,” kata ketua Asosiasi Operator Bus Swasta Gemunu Wijeratne.
Menurut dia, situasinya bakal makin memburuk karena pihaknya tidak mendapatkan kepastian kapan dapat menerima pasokan solar lagi. âBelum kelihatan solusinya, â kata Wijeratne.
Lebih Banyak yang Antri
Taksi roda tiga (bajaj) juga tampak jarang yang masih beroperasi di ruas jalanan di ibukota, Colombo, Minggu, sebagian besar terlihat dalam antrean berhari-hari hanya untuk mendapatkan jatah enam liter bensin di sejumlah SBPU.
Selain kelangkaan BBM, penduduk Sri Lanka juga mengalami kekurangan bahan makanan pokok selama beberapa bulan terakhir ini yang selan harganya melambung tinggi, juga susah diperoleh, sementara pemadaman aliran listrik hampir terjadi sepanjang malam.
Kelangkaan devisa atau mata uang asing untuk membiayai impor yang paling penting telah menjadi penyebab Sri Lanka bangkrut, juga menghadapi rekor inflasi tinggi sejak akhir tahun lalu.
Untuk menekan pengeluaran da menghemat penggunaan enerji, seluruh lembaga pemerintah dan sekolah yang tidak penting diperintahkan ditutup hingga 10 Juli.
Media lokal melaporkan telah terjadi bentrokan sporadis di luar stasiun bahan bakar akhir pekan lalu, pasukan melepaskan tembakan untuk membubarkan massa yang memprotes militer yang menyelak  antrian.
Sri Lanka saat ini sedang dalam pembicaraan dengan Dana Moneter Internasional untuk kemungkinan bailout setelah negara itu gagal membayar utang luar negerinya sebesar 51 miliar dolar AS, April lalu.
Merdeka dan menjadi negara berbentuk republik sejak 1972, Sri Lanka  terperangkap dalam perang saudara sekitar 26 tahun (1983 â 2009) melawan kelompok separatis Gerakan Macan Tamil Eelam (LTTE).
Selain kekurangan obat-obatan dan layanan kesehatan, penduduk Sri Lanka juga terancam kelaparan jika pemerintah tidak menemukan solusi pengadaan pangan bagi rakyatnya. (AP/AFP/Reuters)




