spot_img

SUMANTRI NGENGER

BAGAWAN Suwandageni di pertapan Nglagrastina sangatlah prihatin. Punya dua anak ngebelangsak semua. Sumantri si anak sulung di padepokan kerjanya cuma baca komik, sementara si bungsu Sukrasono ngelayap melulu ke tempat-tempat sepi, keluar masuk hutan bertapa laku prihatin. Mau jadi paranormal barangkali.

Sebetulnya Sumantri ingin melanjutkan ke perguruan tinggi Universitas Gajah Mungkur di Wonogiri, tapi tak punya biaya. Mau ambil kredit bank di BNI, program itu sudah lama dihapuskan. Cari kerja di iklan-iklan koran, kebanyakan jadi tenaga pemasaran, bahkan otsorching.

“Sumantri anakku, daripada di rumah cuma lontang-lantung nggodain cewek, coba kamu ngenger (mengabdi) di kota. Di Maespati kerajaannya Prabu Harjuna Sasrabahu, barangkali nasib peruntunganmu bisa berubah,” ujar Baga­wan Suwandageni suatu sore sambil minum wedang skoteng. Sepucuk surat diserahkan kepada Sumantri untuk Sang Prabu. Dia sebetulnya punya kartu bebas naik busway, tapi kan tak bisa digunakan oleh putranya yang jelas-jelas jauh sebelum usia 60 tahun.

Dengan bekal kartu kuning Depnaker, SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) dari Polres, ijazah SMA Kelas Jauh dan surat pindah dari kelurahan, berangkatlah Sumantri ke Maespati dengan naik KA Matarmaja. Sengaja dia berangkat diam-diam, sebab bila Sukrasono adiknya tahu pasti klayu (mau ikut). Maklum, sesama anak bagawan Sukrasana, tampang si bungsu jelek sekali. Sudah bentuknya raksasa kontet, bicaranya pating pecotot (tak keruan).

Tiba di Stasiun KA di kota Maespati hari masih pagi, sehingga sempat subuhan di mushola stasiun. Kemudian naik becak menuju ke istana kediaman Harjuna Sasrabahu. Kata si tukang becak, ini program baru raja Maespati. Dulu becak sudah hapus, tapi setelah Harjuna Sasrabahu jadi raja, dibolehkan lagi. Bahkan patih Sasramiruda siap memberikan pelatihan menggenjot becak.

Sewaktu tiba di istana Hardjuno Sasrabahu orang nomer satu di Maespati tersebut tampak sedang baca koran pagi sambil menikmati kopi tubruk dan singkong goreng. Dengan agak takut-takut dan ragu Sumantri menghadap, sementara surat titipan dari ayahnya segera diserahkan. Prabu Harjuna Sasrabahu sangat memaklumi, Begawan Suwandageni memang belum kenal email dan tahu HP canggih.

“Oh,  jadi kamu anak Paman Bagawan Suwandageni. Wah,  dia teman baik saya,  dulu kami sering  mbedhil bajing   (nembak tupai) berdua…!” sambut Prabu Hardjuna Sasrabahu ramah sambil menepuk-nepuk punggung Suman­tri, setelah membaca sepintas surat tersebut.

Surat dari Bagawan Suwandageni dibaca lebih lanjut. Ketika sampai pada kalimat “minta pekerjaan,” berkerutlah dahi Harjuna Sasrabahu. Pusing dia! Maklum, raja yang masih bujangan ini juga dilanda kemelut.   Dia  ingin  kawin  dengan   dewi   Citrawati  putri Magada, namun persyaratannya maha berat. Bagaimanc tidak? Citrawati sanggup dipersunting siapa saja, asal bisa. sekaligus memindahkan Taman Sriwedari tempat rekreasi kegemarannya.                                                                                 I

Memindahkan  Taman Sriwedari dari kahyangan  Ngutorosegara  ke Maespati memang bukanlah perkara gampang. Selain tidak boleh  ada  selembar pun daun  yang rontak  dan  secuil pun tembok yang retak, warga penghuni Taman Sriwedari menuntut ganti rugi pemindahan dan penggusuran itu tak tanggung-tanggung. Meskipun cuma tanah garapan dan nilai NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak)-nya dalam PBB tak lebih dari Rp 250.000,- perM2 mereka minta ganti rugi Rp 1.000.000,-semeternya.

“Begini Sumantri, saya memang kenal baik dengan bapakmu, tapi dalam soal pekerjaan saya tak mau koneksi-koneksian. Kau boleh bekerja padaku, asal bisa memindah­kan Taman Sriwedari ke negeri Maespati ini,” kata Prabu Hardjuna Sasrabahu pada akhirnya. Tanpa malu-malu dia mensubkan proyek yang diborong-nya.

“Beres paduka. Bagi hamba, apa sih yang tak bisa dikerjakan? Bersama Sumantri, semuanya bisa…..,” jawab putra Begawan Suwandageni itu jumawa sekali.

Bagi Sumantri, sebetulnya memindahkan dan menggusur Taman Sri Wedari sangatlah berat. Cuma karena malu dicap generasi santai yang tak bisa apa-apa, terpaksa dia harus menduplikasi cara jago Pilkada membohongi rakyat. Tanpa pikir panjang permintaan Prabu Harjuna Sasrabahu disanggupi saja. Yang penting kan pandai menata kata-kata.

Sumantri pun buru-buru pulang ke Nglagrastina untuk konsultasi dengan keluarga. Wajahnya njegadul (cemberut). Dia pusing oleh kecongkakannya sendiri. Sukrasono melihat kakaknya pulang sambil bawa oleh-oleh buah jamblang, senang sekali hatinya. Tapi dia menjadi kaget sewaktu tahu kakak yang dirindukan siang malam itu menangis tersedu-sedu di hadapannya.

“Dimas Sokrasana, kalau begini aku lebih baik mati saja.” Keluh Sumantri.

” Uyang-uyang (pulang) akang Atli kok angis (nangis), malahan ama pacal ya?” kata Sukrasono sambil memperhatikan wajah  Sumantri yang makin kucel saja.

Sumantri segera menceritakan problim yang dihadapi. Mendengar kesulitan kakaknya, Sukrasono cuma senyum pepsodent, meski giginya sudah omong sana-sini.

“Ah, ecil (kecil) itu Akang Atli. Di mana letak Taman Sliwedali itu, bial saya pindahkan,” ujar Sukrasono optimis.

Sumantri memang sangat percaya akan kesaktian dan kemampuan adiknya, sehingga tanpa malu-malu operan borongan proyek itu disubkan lagi pada Sukrasono.

Berkat kesaktian raksasa kontet itu pula Taman Sriwedari berhasil dipindahkan dengan aman dari Ngutorosegara ko Maespati. Penduduk yang menghuni Taman Sriwedari bersedia dipindahkan, karena dijanjikan akan diberi rumah tapak tanpa uang muka alias DP nol rupiah. Luar biasa  memang Patih Suwanda, lewat kata-kata manisn dan santunnya, yang tadinya minta ganti rugi tinggi, kini mau dindahkan ke  rumah BTN. Inilah wujud keberpihakan Prabu Harjuna Sasrabahu dan Patih Suwanda  atas nasib wong cilik.

Dan sesuai janji Dewi Citrawati, putri Magada tersebut bersedia menjadi nyonya Hardjuna Sasrabahu.  Demikian pula Prabu Harjuna Sasrabahu, karena tak tahu bahwa proyek penggusuran taman itu telah disubkan pada orang lain, Sumantri diterima bekerja. Tidak sekedar magang jadi prajurit, tapi langsung diorbitkan menjadi patih dengan nama baru, Patih Suwanda. Dia disebut dari golongan profesional, bukan dari parpol. Karenanya soal loyalitas pada raja, tidak diragukan lagi.

“Meski kamu bukan dari IPDN Jatinangor, saya promosikan jadi patih. Kamu tahu kan motto kerja saya? Kerja, kerja dan kerja….,” kata Prabu Harjuna Sasrabahu.

“Beres boss, eh paduka. Seratus hari kerja saya, bisa dilihat nanti hasilnya.” Patih Suwanda memberikan garansi.

Sukrasono yang mendengar karier kakaknya di Maespati makin melejit, ingin menagih janji. Dia menyusulnya de­ngan pakaian apa adanya. Nenteng ransel isi baju beberapa potong dan sebotol air mineral. Warga kota Maespati tentu saja gempar melihat raksasa kontet masuk kota. Dulu yang banyak ABRI masuk desa, kok sekarang ada buta bajang (raksasa mini) blusukan ke kampung-kampung? Gambar Sokrasana diunggah ke medsos dan jadi viral.

Patih Suwan­da yang juga hobi medsos, segera tahu kehadiran Sokrasana. Yakinlah bahwa raksasa bajang itu tidak lain adalah adik kandungnya sendiri.

Patih Suwanda merasa malu sebagai patih yang terhormat disegani rakyat kok punya adik jelek macam mercon bantingan. Maka secara diam-diam diperintahkanlah seorang staf khusus untuk menangkap dan menghadapkannya.

“Ah, Akang Atli boong. Atanya (katanya) mau ajak aya (saya) ke kota, mana uktinya (buktinya)?” tegur Sukrasono dongkol setelah ketemu kakaknya yang kini tampak keren dengan baju safarinya.

“Bukannya saya ingkar Adinda. Tapi memang belum waktunya, sebab saya masih banyak kesibukan. Pengangkatan PNS baru dimoratorium, maka tolong, kamu pulang saja dulu, kapan-kapan saya jemput kembali,” jawab Patih Suwanda penuh kelicikan. Uang 50 ribuan lima lembar diserahkan, cukup untuk naik KA Sawunggalih ke Nglagrastino.

Sukrasono yang lebih menghargai kasih sayang menolak pemberian tersebut. Dia bertahan ingin ikut kakaknya di Maespati. Patih Suwanda yang takut ketahuan punya saudara jelek, mencoba mengusir dengan menakut-nakuti pa­kai pistol. Eh, tanpa sengaja picu pistol itu tersenggol. Dor! Matilah Sukrasono. Pers dilarang meliput, Kapolda Maespati juga dilarang bicara. Wartawan ditutup mulutnya dengan amplop masing-masing Rp 5 juta. Selesai sudah kasusnya. (Ki Guna Watoncarita)

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles