spot_img

TAMAN SRIWEDARI PUTER (1)

NEGERI Magada yang dipimpin Prabu Citradarma urbanis dari Citrapuran Solo, terkenal akan kemajuannya. Karena sang prabu cinta keseragaman, nama istri diganti menjadi Citraresmi. Anak perempuannya diberi nama Citrawati, dan kakak lelakinya pun diberi tetenger (nama) Citragada. Piala Citra yang diperebutkan para bintang film Indonesia, konon juga pemberian raja negeri Magada tersebut.

Dewi Citrawati terkenal akan kecantikannya, sehingga wajahnya sering menghiasi sampul majalah. Tapi itu duluuu! Setelah majalah dan koran terdesak internet, wajah Dewi Citrawati banyak muncul di layar mesin ATM, bersaing dengan Erick Tohir menteri BUMN Indonesia. Saking kondangnya, Dewi Citrawati pernah ditawari main sinetron untuk sejuta episode, tapi menolak. Alasannya, tak mau capek.

“Sinetron kok syuting tiap hari, kapan istirahatnya. Lagian nanti, di episode ke-1.000.000 saya kan sudah nenek-nenek. Nggak lucu ah….,” kata Dewi Citrawati pada produser pelaksana sekaligus sutradara, Bram Kecapi.

“Kan bisa didempul pakai Isamu, tenang saja nona,” bujuk sang produser tetapi putri Cinderela dari Magada itu bergeming.

Selain cantik jelita Dewi Citra dijuluki rakyat Magada sebagai Putri Giman, alias putri yang gila taman. Soalnya taman-taman bukan sekedar menghiasi taman keputren, tapi juga sampi jalanan umum, dari jalan protokol hingga jalan lingkungan. Prabu Citradarma sangat mendukung gagasan putrinya, sehingga dana APBN pun dikucurkan untuk membangun pertamanan di perbagai wilayah.

Negeri Magada sudah selesai dengan masalah banjir, sebab program normalisasi kali Yamuna berhasil diwujudkan. Beda dengan negeri sebelah, menolak normalisasi memilih naturalisasi, tapi tak dijalankan juga. Kepala pemerintahannya kini malah fokus pada pembangunan ribuan sumur resapan, yang katanya efektip mengurangi banjir. Padahal aslinya, setelah sumur itu tak mampu menampung volume air, akhirnya membludag lagi ke mana-mana.

“Ketimbang dana ratusan miliar hilang percuma, mending dimanfaatkan untuk pelihara ikan lele dumbo.” Kata wayang di DPRD.

“Jangan-jangan dana sumur resapan malah banyak yang meresap di kantong pejabatnya.” Komentar wayang akar rumput.

Seperti lazimnya anak raja, banyak politisi yang mengompori dan menyeret-nyeret untuk menjadi adipati. Oleh karena itulah meskipun perempuan ada yang mencoba mengorbitkan Dewi Citrawati sebagai adipati. Alasannya, di era gombalisasi dan digitalisasi ini, wajar-wajar saja, lha wong di DIY saja anak perempuan bisa dijadikan Pengeran Mangkubumi. Untung saja Dewi Citrawati tak berminat, lantaran Prabu Citradarma juga melarangnya.

Kini Dewi Citrawati kembali menjadi topik pembicaraan, sebab banyak adipati dan raja yang berminat mempersunting sebagai istrinya. Sebetulnya peminat banyak sekali. Tapi karena musim pandemi Covid-19, akhirnya peserta dibatasi. Hanya yang lulus tes PCR dan antigen bisa ikut sayembara. Hasilnya terdapat  10 peserta yang  lolos seleksi dan punya peluang menjadi menantu Prabu Citradarma. Ada yang masih muda, tapi ada pula yang sudah berusia oversek (lebih dari seket tahun), tapi masih pede saja melamar Dewi Citrawati dengan alasan masih rosa-rosa macam Mbah Marijan.

“Maaf, menurut data yang ada pada kami, istri Anda sudah ada tiga, kok masih ikut pasang giri (sayembara) memperebutkan sekar kedaton Dewi Citrawati.” Tanya pers sok usil.

“Panitia tak melarang peserta poligami kok, dan kata juragan ayam bakar Puspo Wardaya, banyak istri banyak rejeki.” Jawab Adipati Edy Mulyadiningrat penuh percaya diri.

“Bukannya banyak istri banyak masalah?” kejar pers.

“Itu kan kalau antara kebutuhan benggol dan bonggol tak berbanding lurus. Lihat LHKPN-ku, maka dijamin Dewi Citrawati jadi biniku tinggal mamah karo mlumah.” Jawab Adipati Edy Mulyadiningrat tanpa malu-malu.

Demikianlah pasang giri memperebutkan Dewi Citrawati digelar dengan sistem gugur. Adipati Edy Mulyadiningrat dengan nomer undian 5 selalu berhasil mematahkan perlawanan pesaingnya. Ada yang hanya dibanting sekali langsung stuip, ada yang dipithing langsung nungging. Diprediksi dialah yang kemudian akan memithing Dewi Citrawati sebagai istri keempatnya.

Sementara itu di pertapan Ardisekar Begawan Suwandagni merasa prihatin, karena dua anaknya Bambang Sumantri dan Sokasrana masih menganggur. Padahal ilmu kanuragannya luar biasa, mereka sakti-sakti. Tapi ketika melamar kerja kok susah banget. Kata pihak perusahaan, yang dicari tenaga skill bukan bodygyard. Ekonomi Begawan Suwandagni juga sedang keteter, sebab selama pandemi Coropa padepokan kosong, para cantrik pulang kampung, sehingga tak ada pemasukan bagi sang begawan. Walhasil insentip uang prakerja sebanyak Rp 3,5 juta untuk Sumantri-Sokasrana habis untuk makan sehari-hari.

“Rama begawan, bagaimana kalau saya cari kerja ke Maespati. Di pertapan nganggur rasanya sumpek sekali.” Ujar Bambang Sumantri kepada ayahnya.

“Kerja apa di sana nanti? Di mana-mana lowongan kerja ditutup, yang banyak justru PHK. Sudahlah, di pertapan saja dulu.Mbakar-mbakar singkong juga jadi.” Nasehat Begawan Suwadagni.

Tapi Bambang Sumantri bersikeras untuk melamar kerja di negri Maespati yang dipimpin Prabu Harjuna Sasrabahu. Dia memang raja kaya raya, karena pemilik royalti teknik pondasi Sasrabahu yang dipakai untuk jalan tol di Indonesia. Jika satu tiang pancang dapat royalty Rp 1 juta, berap miliar penguasa Maespati tersebut dapat uang dari PT Jasa Marga.

“Saya juga ikut kakang Atli, saya juga pengin kelja.” Kata Sukosrono sang adik.

“Jangan, nanti kamu malah ditangkep polisi dengan tuduhan menciptakan ketakutan pada publik,” kata Begawa Suwandageni menesihati putra nomer duanya.

Putra kedua sang begawan ini tampangnya memang jelek sekali. Selain penderita stunting (kuntet), kepalanya kena hidrocephalus sehingga kelihatan gedhe sekali macam ganden tukang kayu. Matanya juling, giginya berantakan mirip raksasa. Padahal kakaknya Sumantri, ganteng sekali. Jangan-jangan istrinya almarhumah serong dengan seorang raksasa, sehingga melahirkan anak yang bentuknya tak beraturan. (Ki Guna Watoncarita)

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles