Hari ke-32 Perang: AS Terus Menumpuk Pasukan

HANYA Allah dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tau, apakah serangan darat ke Iran jadi dilakukan, tapi yang jelas, penambahan jumlah personil terus dilakukan.

CBS News melaporkan, Selasa (31/3), ratusan personil atuan berkualifikasi khusus AS seperti US Navy Seal dan Army Rangers telah tiba di Timur Tengah di tengah eskalasi konflik dengan Iran yang telah berlangsung lebih dari sebulan.

Kehadiran mereka melengkapi sekitar 50.000 an personil militer AS yang ditempatkan di sejumlah pangkalannya di negara-negara Teluk, Arab Saudi dan Jordania.

Akhir pekan lalu, 2.000-an personil pasukan elit dari satuan Lintas Udara ke-82 AD AS sudah didatangkan, menambah 5.000-an marinir yang diangkut kapal serang amfibi USS Tripoli dan USS Boxer yang sudah lego jangkar di perairan dekat Iran.

Bisa jadi, kehadiran pasukan tambahan tersebut hanya sebagai gertakan agar Iran membuka blokade Selat Hormuz atau opsi serangan darat dipilih untuk menghancurkan seluruh kemampuan militer Iran.

Langkah ini disebut sebagai upaya memberi Presiden Trump lebih banyak opsi militer dalam menghadapi Iran.

Namun, sebagai pasukan darat terlatih, mereka dapat digunakan untuk berbagai operasi strategis.

Beberapa kemungkinan misi mencakup pengamanan Selat Hormuz yang saat ini praktis tertutup akibat serangan Iran, operasi perebutan Pulau Kharg—pusat ekspor minyak Iran di Teluk Persia—hingga misi yang menargetkan stok uranium yang diperkaya di fasilitas nuklir Isfahan.

Pihak Iran sendiri di berbagai kesempatan, sejauh ini menolak untuk menyerah, bahkan menantang dan sesumbar menjadikan wilayahnya sebagai  “killing field” bagi pasukan AS jika berani masuk.

Situasi hari ke-32

Iran menyasar kawasan industri strategis Israel, termasuk fasilitas kimia dan energi di Neot Hovav, Bersheba, menandai serangan ke-86 sejak awal konflik.

Sebaliknya koalisi AS dan Isrel erangan udara terkoordinasi Israel terus menargetkan kota-kota utama Iran, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah.

Dalam kurun waktu sebulan (per akhir Maret 2026), dilaporkan sekitar 3.200 orang tewas akibat konflik tersebut, sebagian besar korban di Iran.

Milisi Houthi proksi Iran di Yaman dilaporkan meningkatkan keterlibatan mereka mendukung Iran melawan AS dan Israel dengan menyerang wilayah Israel dengan rudal-rudalnya.

Proksi Iran di Lebanon yakni Hizbullah juga aktif melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel. Konflik di darat antara Hizbullah dan pasukan Israel di Lebanon, bahkan menewaskan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan PBB (Unifil).

Perang ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga memicu krisis ekonomi dan politik global, termasuk mundurnya timnas Iran dari kompetisi internasional. (CBS/AFP/ns)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here