Gemass Ajak Anak Konsumsi Makanan Sehat

Gemass
Foto dok Gemass

JAKARTA (KBK) – Meningkatnya kasus penyakit degeneratif di Indonesia disinyalir berasal dari asupan dan pola makan yang semakin hari makin memprihatinkan. Guna menekan laju persebaran penyakit tersebut Gerakan Makan Sehat Anak Sekolah Indonesia (Gemass Indonesia) hadir membentengi.  Dr.Amaranila Lalita Drijono, sp.KK Founder Gemass Indonesia mengatakan jika pelbagai penyakit degeneratif tersebut dibiarkan dapat menghancurkan generasi unggul bangsa.

“Untuk mencegah itu Gemass hadir memberikan modul pembelajaran seputar pola makan sehat ke anak-anak sekolah dasar,” kata wanita yang akrab disapa Dokter Nila itu.

Gerakan yang lahir dari kepedulian para Ikatan Alumni FK UI 87-88 tersebut lalu membuat pilot project pertama dengan target utama tiga sekolah dasar di Kota Bojonegoro, Jawa Timur pada awal tahun 2015. Bukan tanpa alasan karena pada saat itu Bupati Bojonegoro Drs Suyoto Msi merupakan selaku pihak yang paling welcome.

Serangkaian modul pembelajaran dengan materi pola makan sehat, jenis makanan bergizi dan jenis asupan yang baik bagi tubuh mulai diajarkan ke berbagai anak-anak sekolah dasar kelas 4 dan 5. Nila menuturkan 12 tahun pertama usia anak, merupakan saat dimana pembentukan semua anatomi tubuh termasuk pembentukan perilaku mengonsumsi makanan.

“Jika usia sudah lebih dari 12 tahun akan sulit merubahnya, selain itu anak kelas empat dan lima sekolah dasar sangat cepat dan tanggap kalau menerima hal-hal baru,” tegas Nila kepada KBK, Senin (21/11).

Nila kembali menegaskan jika Indonesia menginginkan generasi unggul tanpa penyakit, sudah seharusnya mulai saat ini anak-anak dibawah usia 12 tahun diberikan pengetahuan seputar makanan sehat. Pasalnya memasuki tahun 2016 Nila melihat penyakit degeneratif seperti jantung, dibates, kolesterol, kanker dan struk sudah menyebar ke lini massa. Nila melihat saat ini tak sedikit anak yang sehat tetapi jika dihitung dari profil gizinya mereka sangat kekurangan dan dampaknya berakibat pada perkembangan otak.

“Otak merupakan organ tubuh yang paling terakhir dicukupi oleh zat gizi yang masuk dari makanan. Sehingga kalau dari awal kurang gizi jadi yang masuk hanya karbonhidrat yang hanya memenuhi kebutuhan untuk gerak, tapi tidak ada gizi untuk membangun tubuh. Belum lagi makanan yang dikonsumsi itu tidak sehat. Efeknya domino mulai dari terserang kanker hingga daya analisis lemah,” papar Nila.

Setelah 6 bulan diberikan modul pembelajaran, buah manis pun dipetik Nila. Nila mengaku sebagian anak sekolah dasar di Bojonegoro persepsi tentang makanan dan jajanan telah berubah. Para anak menjadi lebih cerdas memilah jenis makanan. Kegiatan Gemass ternyata juga direspon positif oleh Pemda Depok. Nila berujar melalui modul yang dimiliki Gemass, Pemda Depok ingin satu SD di setiap Kecamatan mendapatkan pembelajaran tersebut.

“Depok rencananya awal tahun 2017,” tambah Nila.

Selain di lingkungan sekolah dasar Gemass juga mengajak kalangan PKK dan anak-anak dari komunitas sekolah informal, misinya tetap sama yakni memberikan pengetahuan terkait pola, jenis dan asupan makanan yang baik dan bergizi bagi ntuk tubuh. Nila berharap Gemass melalui gerakannya dapat memberikan kontribusi terhadap tumbuh kembang anak 20 tahun mendatang.

Advertisement