400.000 Warga Sipil Terjebak dalam Pertempuran di Ghouta

Ilustrasi Enam anak tewas akibat serangan di ghouta/ AFP
SURIAH – Pesawat tempur jet yang diterbangkan oleh pemerintah Suriah dan sekutu-sekutu Rusia terus mengebom pinggiran kota Damay Ghouta yang terkepung.

PBB mengatakan bahwa pertempuran meningkat, meski ada kesepakatan antara Rusia, Iran dan Turki yang menetapkan bahwa tidak boleh ada aktivitas militer di Ghouta Timur.

“Ini seharusnya menjadi daerah yang aman, tapi tidak aman jika pesawat diluncurkan sepanjang hari dan semalaman,  kemana kita harus pergi?” seorang saksi mengatakan kepada Al Jazeera.

Pada hari Minggu, sekitar 30 orang tewas akibat serangan udara. Menurut Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia untuk Suriah (SOHR), korban tewas terbesar dalam satu hari dalam setidaknya tiga minggu, ketika pasukan pro-pemerintah meningkatkan serangan mereka ke wilayah tersebut.

Ghouta Timur telah dikepung oleh pasukan Presiden Bashar al-Assad sejak tahun 2013 dalam upaya untuk memaksa daerah kantong pemberontak tunduk.

“Rezim tersebut tidak menghormati kesepakatan de-eskalasi. Rusia mengatakan mereka akan memberikan jaminan, tapi mereka tidak melakukannya,” kata Mounther Fares, juru bicara kelompok pemberontak Ahrar al-Sham.

PBB mengatakan sekitar 400.000 warga sipil yang tetap terjebak di sana menghadapi “malapetaka” karena pemerintah telah memblokir pengiriman bantuan.

PBB telah memperingatkan situasi kemanusiaan di daerah yang terkepung semakin memburuk.

Sedikitnya 500 orang membutuhkan evakuasi medis segera, gizi buruk merajalela, dan bayi telah meninggal karena kekurangan makanan.

“Rezim tersebut mencoba untuk memaksa penduduk Ghouta untuk menerima dipindahkan ke utara Suriah. Tetapi orang-orang di sini tidak akan menerima ini, mereka tidak akan dipindahkan secara paksa,” kata Hazem Shami, seorang aktivis di Ghouta Timur.

Advertisement