60 Orang Tewas Akibat Kekerasan di Sudan Selatan

Ilustrasi Warga sipil Sudan Selatan berlari menyelamatkan diri dari pertempuran di pangkalan militer PBB di kota Malakal, 18 Februari 2016 lalu/ VOA

JABA – Dalam sepekan, pertempuran di Sudan Selatan telah menewaskan sedikitnya 60 orang, hingga dikekhawatiran kawasan itu bisa kembali jatuh ke situasi perang.

Juru bicara Angkatan Darat Lul Ruai Koang menuding para pemberontak telah melakukan aksi “pembakaran warga sipil dan gedung-gedung”, mencederai perempuan serta menculik anak-anak”.

Dari Sabtu pekan lalu hingga Kamis (13/10/2016), kalangan di Angkatan Darat yang setia kepada mantan Wakil Presiden Riek Machar telah membunuh 11 tentara pemerintah dan 28 warga sipil, kata Koang dalam pernyataan kepada pers nya, yang dilansir Antara, Sabtu (15/10/2016).

Ia menambahkan jika selain itu, dua puluh satu pemberontak juga tewas. Namun hingga kini Juru bicara pihak pemberontak belum dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Sudan Selatan, negara termuda di dunia, jatuh ke jurang perang saudara pada 2013 setelah Presiden Salva Kiir yang berasal dari suku Dinka, memecat Machar, dari suku Nuer, dari jabatannya sebagai wakil presiden.

Kesepakatan perdamaian yang dicapai pada 2015 kelihatannya berhasil mengakhiri perang, namun perjanjian itu berulang kali dilanggar dan bentrokan-bentrokan sengit terjadi lagi pada Juli.

Machar keluar dari negara itu dan mencari perawatan medis di Afrika Selatan. Posisinya sebagai wakil presiden telah digantikan oleh Jenderal Taban Deng Gai.

Pemerintah menginginkan masyarakat internasional untuk menganggap para pemberontak sebagai teroris dan melakukan tindakan yang bersifat menghukum bagi pemberontak.

Kong mengatakan tindakan yang dimaksud bisa seperti “larangan bepergian, pembekuan aset serta mengekstradisi ke Mahkamah Kejahatan Internasional (di Den Haag) terhadap para pemain kunci, termasuk Riek Machar.”

Misi Perserikatan Bangsa-bangsa di Sudan Selatan (UNMISS) mengatakan pihaknya telah menerima laporan soal terjadinya serangan-serangan mengerikan, termasuk pembakaran orang hingga tewas. UNMISS mendesak kedua pihak bertikai untuk mengendalikan pasukan mereka.

Advertisement