JAKARTA (KBK) – Rapat Panja DPR RI Komisi IX mengungkapkan fakta yang mencengangkan. Dari data yang dipaparkan BPJS Kesehatan ternyata peserta BPJS Mandiri yang notabene berasal dari kalangan berduit menghabiskan anggaran BPJS hingga 75 persen dari total anggaran yang disiapkan untuk membayar claim seluruh peserta.
Sementara, peserta BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan peserta BPJS penerima upah dari kalangan tidak mampu, hanya menyerap anggaran claim 15 persen.
Ketua Komisi IX, Dede Jusuf mengatakan defisit anggaran BPJS hingga Rp5 Trliun, salah satunya disebabkan jumlah peserta PBI yang mencapai 90 juta dan peserta BPJS Mandiri 14 juta, namun menghabiskan claim hampir 75 persen, akhirnya dana PBI tersedot untuk membayar claim BPJS Mandiri.
“Contoh BPJS Mandiri penyakitnya, cancer, jantung, yang bisa memakan dana puluhan juta, dengan hanya membayar iuran Rp65 ribu, tetapi menanggung hinga Rp50 juta biaya berobat, sementara yang peserta BPJS PBI biasanya claim sakitnya seperti korengan, flu, demam, jadi kasian masyarakat miskin dananya tersedot untuk BPJS Mandiri,” jelas cucu Roestam Effendi ini, kepada KBK, seusai Rapat Panja DPR, Senin (29/2/2016).
Bahkan, peserta BPJS Mandiri juga tercatat paling tinggi macet pembayarannya.
“Dan biasanya mereka cuma bayarnya sekali, sudah itu lupa, seharusnya BPJS juga punya kolektor, agar dana itu tidak defisit,” ujarnya.
Mantan Gubernur Jawa Barat ini juga mengatakan soal pentingnya kualitas pelayanan ke perserta BPJS, bukan hanya kuantitas.
“Bukan soal jumlah, tetapi pelayanannya, punya kartu tapi tidak terlayani, jadi untuk apa jumlahnya tambah banyak tapi selalu kita dengar pelayanannya buruk,” paparnya.





