Teror Kejahatan dan Kecelakaan Hantui Ibukota

FY (29) pelaku penyiraman air keras pada enam siswi SMP 207 di Jakbar (8/11) lalu. Warga Jakarta dihantui beragam aksi kejahatan dan kecelakaan yang tidak terduga

BERAGAM modus teror kejahatan atau tindak kriminalitas dan kecelakaan yang tak terduga menghantui warga DKI Jakarta dan sekitarnya dalam aktivitas kesehariannya.

Bisa dibayangkan kesedihan orang tua dan keluarga ke enam siswi SMP Negeri 207 Kembangan, Jakarta Barat mendengar kabar, anak mereka yanga pulang dari kegiatan rutin sekolah, Jumat lalu (08/11) menjadi korban penyiraman air keras.

Pelakunya ternyata FY (29), pekerja bengkel servis alat pendingin (AC) yang sudah melakukan aksi teror di tiga lokasi berbeda di kawasan Jakarta Barat yang meresahkan warga sejak dua pekan ini.

Berdasarkan keterangan polisi, FY yang diduga waras atau dalam keadaan tidak mengalami delusi atau halusinasi, dengan sadar menyiramkan air keras (rumus kimianya: NaOH) atau lebih spesifik cairan kaustik soda yang biasa digunakan di bengkel.

FY berkendara sepeda motor memilih sasaran secara acak terhadap orang-orang yang ditemuinya di pinggir jalan dan menyiramkan botol berisi cairan tersebut ke wajah korban-korbannya yang saat itu sedang berada di Jl. Mawar, Srengseng, kembangan, Jakbar.

Pelaku yang pernah mengalami kecelakan kerja, jatuh dari lantai tiga bangunan kemungkinan mengalami frustrasi karena tidak mampu berobat, lalu melampiaskan kekecewaannya pada orang lain agar merasakan penderitaan yang sama.

Tingkat kriminalitas di ibukota dan sekitarnya memang cukup tinggi, menurut catatan polisi terjadi 32.301 kasus pada 2018 atau sekitar 16 menit sekali dengan “crime rate” atau dialami oleh 142 dari 100.000 penduduk.

Berbagai modus kejahatan terjadi secara tak terduga, mulai dari akibat sepele misalnya saling pelotot saat berpapasan, senggolan motor, ketersinggung karena ucapan seseorang, penjambretan atau pencurian dengan pemberatan, dendam pribadi, terlibat tawuran atau terperangkap di tengah tawuran dan peristiwa tak terduga lainnya.

Skuter Maut
Sementara di bilangan FX Jl. Sudirman, Jaksel, Ammar Nawar (18) dan Chandra Gunawan yang mengendarai tiga skuter listrik tewas secara mengenaskan dan empat rekannya: Wanda (18), Bagus (18), Wulan (19) dan Fajar (19 luka-luka), Minggu dini hari (3/11) tertabrak sedan.

Penabrak yang berinisial FY, diduga putera anggota DPD Sumatera Barat EY bersuamikan salah seorang tokoh PPP Sumatera Barat berinisial H, dilaporkan sempat melempar tubuh salah satu korban yang tersangkut di mobil yang dikendarainya.

Menurut keterangan polisi, FY saat kejadian dalam keadaan mabuk karena mengosumsi alkohol namun tidak ditemukan bukti ia kecanduan narkoba.

Polisi tidak bersedia menyebutkan identitas para pelaku dan nama kedua orang tuanya, juga tidak menahan FY dengan dalih ia dijamin tidak akan melarikan diri dan tidak ada lagi barang bukti baru yang diperlukan.

Angka lakalantas di wilayah Jabodetabek juga cukup tinggi, tercatat 5.140 kali pada 2017, 524 korban meninggal dan 804 luka-luka, lalu pada 2018 (sampai Sept.) 5.400 kali (384 meninggal, 1.007 luka-luka).

Segudang “PR” harus dikerjakan untuk menekan kejahatan, mulai dari pendidikan tentang etika, saling menghargai, sanksi hukum bagi pelaku, sikap proaktif warga mencegahnya, juga pemenuhan prasarana dan sarana di ruang publik seperti lampu-lampu penerangan jalan dan cctv serta rambu-rambu atau petunjuk lain.

Begitu pula untuk menekan lakalantas, diperlukan aturan lebih ketat untuk mendapatkan SIM, sanksi hukum lebih tegas pada pelanggar tatib berkendara dan juga ketersediaan sarana dan prasarana lalu-lintas.

Advertisement