Sudah Tiga Heli MI-17 Jatuh, Kenapa?

Jatuhnya helikopter MI-17 Skadron 31 Penerbad di Kendal, Jawa Tengah (6/6) , berarti sudah tiga pesawat sejenis jatuh dan menewaskan sejumlah kru dan penumpangnya.

JATUHNYA helikopter MI-17 TNI-AD diĀ  kawasan Industri di Kec.Kaliwungu, Kab. Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (6/6) menambah deretan kecelakaan maut pesawat buatan Rusia itu untuk ketiga kalinya.

Empat penerbang tewas dalam musibah kali ini yakni Kapten Cpn (penerbang) Kadek, Fredy, Hendro dan Lettu Cpn Wisnu, sedangkan lima lainnya Lettu Cpn Vira Yudha, Praka Nanang, Rofiq, Supriyanto dan Andi mengalami luka-luka.

Menurut Kadispen TNI-AD Brigjen Nefra Firdaus, heli nahas bernomor registrasi HA5141 itu dalam kondisi baik saat dilakukan pre-flight check dan latihan terbang pertama, namun jatuh dalam latihan manuver tatktis berikutnya Ā pukul 12.35 WIB setelah terbang selama 1,05 jam.

Saksi mata, Sarwono (50), pengawas kontraktor di sekitar lokasi menuturkan, heli tampak oleng sebelum menyentuh tanah dan ia menyaksikan korban yang masih hidup Ā berguling- guling berusaha menjauhi pesawat yang lalu meledak disertai api yang membubung tinggi.

Sebelumnya, Heli MI-17 Penerbad jatuh dalam penerbangan dari Bandara Oxibil, Kab. Bintang ke Bandara Sentani, Jayapura bersama 12 awak dan penumpangnya pada 28 Juni 2019 dan reruntuhannya baru ditemukan sekitar delapan bulan kemudian, Februari 2020.

Tim evakuasi hanya menemukan 12 jenazah awak dan penumpang helikopter, sementara tujuh senapan serbu SS-1, tiga pistol dan satu pelontar granat, raib, kemungkinan dijarah penduduk sekitarnya.

Tiga belas dari 19 awak dan penumpang tewas akibat jatuhnya heli MI-17 Penerbad yang yang mengangkut pekerja pembuatan patok di sepanjang perbatasan RI- Malaysia di hutan belantara Kab. Malinau, Kalimantan Utara, 11 November 2013.

Menurut catatan, Skadron 31 Penerbad mengoperasikan 12 unit heli MI-17 yang dibeli dari Rusia seharga 11 juta dollar AS per unit padaĀ  (kurs sekarang sekitar Rp165 milyar) pada 2011.

Heli MI-17 yang dikembangkan dari heli MI-8 produksi Uni Soviet di era Perang Dingin berkecepatan 250 Km, daya jelajah 500 Km, kapasitas 30 orang dan empat ton kargo, 1,5 ton ragam senjata dan bom di enam cantelan (gun pot) dan badannya serta sudah diproduksi ribuan unit dan digunakan oleh 80-an negara

Selama ini, investigasi penyebab kecelakaan pesawat TNI dilakukan tertutup dengan alasan menjaga kerahasiaan militer , padahal, transparansi diperlukan guna menghindari musibah-musibah berikutnya.

Di era now yang ditandai keterbukaan, sudah waktunya TNI mengubah paradigma dan budaya lama yang serba tertutup demi kemaslahatan bersama.

 

 

 

Advertisement