
SENGKETA perbatasan antara dua kekuatan nuklir bertetangga, China dan India di wilayah Ladakh belum usai, kini China dan Taiwan kembali tegang akibat penyusupan pesawat- pesawat tempur negara tirai bambu itu.
Dalam pernyataan singkat, Selasa (9/6) Kemenhan Taiwan (MND) menyebutkan, sejumlah pesawat tempur Sukhoi SU-30 China telah memasuki wilayah pertahanannya di barat daya negeri itu.
AU Taiwan merespons pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh pesawat-pesawat tempur AU Tentara Pembebasan China (PLA) dengan peringatan melalui radio dan memantau mereka sampai keluar dari wilayah udara Taiwan.
Pelanggaran koridor udara oleh AU PLA itu dilakukan bertepatan dengan rencana latihan militer rutin bersandi “Han Kuang” yang akan digelar oleh Taiwan Juni mendatang dengan simulasi menghadapi serangan dari luar.
Sebaliknya China yang menolak mengakui kedaulatan Taiwan dan mengklaim Taiwan adalah bagian wilayahnya dalam “satu China” meningkatkan aktivitas pesawat-pesawat tempur dan kapal-kapal perangnya di sekitar Taiwan sejak Presiden Tsai Ing-wen terpilih pada 2016.
Ancaman untuk “membebaskan” Taiwan, kalau perlu secara paksa, juga sering dilontarkan oleh Presiden China Xi Jinping, namun sejauh ini baru berupa “show of Force” kapal-kapal perang atau pesawat-pesawat tempurnya meliwati Selat Taiwan.
Kapal induk terbaru China “Shandong”, melintasi Selat Taiwan Desember lalu, menyusul pesawat-pesawat tempurnya pada Februari dan bahkan Mei lalu untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun pesawat-pesawat tempur Shenyang J-11 China melintasi Selat Taiwan.
Belanja Militer Tertinggi ke-2
China dengan belanja militer 261 milyar dollar AS (sekitar Rp3.654 triliun) atau ranking ke-2 setelah Amerika Serikat, tentu bukan apa-apa, dibandingkan Taiwan yang berada di ranking ke-23 dengan anggaran militer 13 milyar dollar AS atau sekitar Rp182 triliun.
| Arsenal nuklir China berdasarkan laporan intelijen Barat terdiri paling tidak memiliki 50-an rudal balistik antarbenua (ICBM) Dong-Feng (a.l. DF-5 dan DF-41) berjangkauan 15.000 Km dan kecepatan max. sampai 22 Mach (26.950 Km/jam) dan sekitar 1.200 rudal jarak menengah.
AU China diperkuat sekitar 4.200 pesawat berbagai jenis, sebagian copypaste MiG-21,MiG-29, Sukhoi SU-27, SU-30 dan TU-16 serta membuat sendiri pesawat tempur seperti siluman J-21 Chengdu dan 1.170 helikopter. Sedangkan matra darat China a.l. memiliki 13.000 tank dan 40.000 panser, 2.650 kendaraan peluncur roket, 10.000 pucuk artileri dan ribuan peluncur roket multi laras. Di Laut, China mengoprasikan 770 kapal berbagai jenis seperti dua kapal induk, 36 destroyer, 52 fregat, 50 korvet, 76 kapal selam dan 285 aneka jenis kapal pendukung lainnya. AB China yang terbesar kedua di dunia setelah AS didukung sektar 2,3 juta personil, belum termasuk jutaan pasukan cadangan, sebaliknya militer Taiwan hanya diperkuat oleh sekitar 300 ribu personil. |
|
| Sebaliknya, AD Taiwan juga terbilang kecil dibandingkan dengan China, hanya memiliki 1.855 tank tempur, 2.050 kendaraan lapis baja, 1.642 artileri campuran dan 115 peluncur roket.
Matra laut Taiwan hanya diperkuat 87 kapal terdiri dari 24 fregat, empat perusak, satu corvet, empat kapal selam dan 43 kapal patroli serta 10 penyapu ranjau. Walau kecil, Taiwan tidak bisa diremehkan karena memiliki alutsista canggih, di udara didukung pesawat-pesawat tempur F-16 Fighting Falcon termasuk seri baru Blok 70 Viper, helikopter serang AH-64 Apache dan angkut UH-60 Chinook (semua buatan AS) dan pembom Mirage 2000 buatan Perancis. Pertahanan udara Taiwan mengandalkan sistem Aegis dan rudal anti rudal Patriot, begitu pula matra laut yang dilengkapi rudal-rudal Harpoon, sementara di darat diperkuat tank-tank M1A2 Abrams dan howitzer swagerak M109 Paladin. Taiwan juga baru saja menerima sejumlah alutsista canggih dari AS seperti torpedo anti kapal induk MK48, rudal-rudal anti tank Javelin dan ratusan rudal panggul Stinger. Memisahkan diri dari China daratan dalam perang saudara 1949, Taiwan tidak memiliki hubungan diplomatik resmi dengan AS yang mengakui China pada 1979, namun demikian AS memiliki perjanjian untuk membantu pertahanan negara pulau itu. Jika perang pecah, tentu Taiwan tidak sendirian, di belakangnya ada AS yang pasti bakal “ringan tangan” membantunya. (AFP/Reuters/NS) |
|




