Menjemput Harapan Anak-anak Bukit Lempayan

Sri Astuti bersama murid-murid PAUD yang didirikannya/Ist

Pulau Sumbawa menjadi saksi perjuangan seorang wanita bernama Sri Astuti. Rendahnya tingkat pendidikan anak usia dini di daerahnya membuat ia bekerja keras meyakinkan masyarakat agar bergotong royong. Mereka harus menyediakan lokasi belajar bagi anak-anak usia dini.

Ketiadaan dana, keterbatasan fasilitas serta hambatan fisik yang dialaminya tak pernah dijadikannya alasan untuk berhenti berjuang. Sri memang tak sempurna melangkah, karena saat kecil ia terserang polio. Namun, halangan yang mendera semakin membuatnya kokoh untuk terus berjuang membantu anak-anak di desanya.

Sri tak akan pernah berhenti untuk berbagi harapan bagi anak-anak yang berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar. Batinnya berontak saat anak-anak di desanya yang rata-rata usia 2-6 tahun merana. Mereka harus ikut orang tua berladang atau ke sawah. Atau bahkan ada yang diajak serta berburu.

“Tidak seharunya mereka di sana. Harusnya kan berkumpul bersama teman-temannya bermain sambil mendapat pendidikan yang baik,” ujarnya.

Bersama teman dan masyarakat di lingkungannya, Sri mengajak warga menyediakan sarana pendidikan anak usia dini. Ia sadar, anak-anak di desanya harus disiapkan sedini mungkin untuk menggapai masa depannya.

Tak terasa, sudah tujuh tahun PAUD Bukit Lempayan yang mereka dirikan berjalan. Istimewanya, selama itu ula Sri dan teman-teman pengelola tidak memungut sepeser pun dari warga yang “menitipkan” anaknya ke lembaga ini.

“Yang mungkin tidak masuk akal bagi orang lain adalah kesejahteraan guru-guru. Perbulan terkadang mereka dapat kadang-kadang tidak. Kalaupun dapat, tidak lebih dari Rp 100 ribu per bulan per orang,” jelasnya.

Tantangan terbesar Sri sebenarnya adalah akses transportasi anak-anak didiknya. Lokasi PAUD dengan tempat tinggal penduduk relatif jauh. Banyak orang tua di desanya enggan menyekolahkan anak mereka ke PAUD karena jauh dan kesibukan di sawah atau ladang.

Sri dan rekan-rekannya pun berinisiatif menjemput mereka satu per satu. Selama ini memang guru-guru dengan sukarela menjemput siswa-siswa agar mereka mau atau mengijinkan anak-anaknya ke sekolah,” tambahnya,

Jerih payah Sri berbuah manis. Perjuangannya dilirik donatur ibu kota. Melalui program CSR InspirAksi dari Tata Motor yang bekerja sama dengan Dompet Dhuafa, Sri mendapat hibah delman. Moda ini dimungkinkan untuk menjemput anak-anak PAUD dengan jumlah banyak.

“Dia datang dengan membawa membawa harapan bagi anak-anak,” ujar warga Desa Dasan Anyar Kecamatan Jereweh, Sumbawa Barat, NTB.

Disarikan dari tayangan YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=lMfNNdCp0Yg

Advertisement