ISRAEL—Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah akan terus melanjutkan aneksasi terhadap dataran tinggi Golan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam rapat kabinet pertemanya yang digelar di Golan. “Dataran Tinggi Golar akan tetap berada di tangan Israel selamanya,” ujar Netanyahu.
Media Israel melaporkan, Netanyahu menggelar rapat kabinet di kawasan tersebut di tengah kabar adanya tekanan agar Netanyahu mengembalikan Golan. Dataran Tinggi direbut Israel dari Suriah pada perang 1967. Aktivis HAM Suriah dari Majdal Shams, Golan, Mais Ibrahim mengkritik keputusan Netanyahu menggelar rapat di sana.
“Kami adalah orang Suriah, dan kami dibesarkan sebagai orang Suriah. Kami akan tetap jadi orang Suriah terlepas dari apa yang Israel katakan dan siapa yang mengendalian Suriah, meski perang berlanjut 100 tahun lagi atau kami merdeka besok,” kata Ibrahim, seperti dikutip ROL dari Al Jazeera.
Menurut Pusat HAM Arab Al-Marsad yang berbasis di Golan, lebih dari 131 ribu penduduk Suriah (termasuk Muslim, agama Druze dan Kristen) keluar dari Golan ketika Israel mengokupasi 49 tahun lalu. Lebih dari 20 ribu orang, sebagian besar beragama Druze tinggal di enam desa dan sekarang masih berada di wilayah okupasi.
Sementara, di 33 permukiman Yahudi yang ada di Golan, ada sekitar 21 ribu orang pemukim ilegal dan dilindungi otoritas Israel. Meski penduduk lokal Suriah terpisah karena perang, sebagian besar menolak okupasi Israel. Mereka menolak tawaran jadi warga negara Israel dan lebih memilih jadi warga yang tak berkewarganegaraan.
Peneliti dan analis Suriah yang tinggal di Golan, Salman Fakheraldeen menuduh Israel memanfaatkan kehancuran Suriah. “Israel memanfaatkan fakta, Suriah adalah negara yang sedang runtuh,” katanya merujuk perang sipil. ROL/Al Jazeera





