
TINGKAT Keterisian Tempat Tidur (BOR) rumah sakit di di sejumlah wilayah merambat naik, indikasi melonjaknya pasien Covid-19 pasca mudik dan arus balik dalam rangkaian acara Idul Fitri 1442 H.
Di Kudus, Jawa Tengah terjadi lonjakan paparan Covid-19 sampai 1.200 kasus, baik yang dirawat di RS mau pun isolasi mandiri di rumah bahkan 189 tenaga kesehatan di kota tersebut dikonfirmasi terpapar Covid-19.
Sebanyak 42 desa di Kudus masuk zona merah sehingga terpaksa dikarantina, dan pada Rabu lalu tercatat 32 orang meninggal akibat terinfeksi Covid-19 sehingga jenasah harus antri karena terbatasnya jumlah petugas pemulasaraan jenasah di RSUD dr. Loekmono Hadi.
Para pasien terpaksa diinapkan di lobi RSUD dr Loekmono Hadi (2/6) lalu, bahkan sebagian ada yang menginap di ambulance di ruang parkir rumah sakit tersebut, karena UGD sudah kewalahan menampung kedatangan pasien baru.
Di wilayah Jawa Timur, dilaporkan pula keterisian tempat tidur atau BOR di ruang ICU rumah-rumah sakit di kota Blitar, Madiun, Ponorogo sudah mencapai 60 sampai 70 persen, bahkan di kota Bojonegoro sudah mencapai 80 persen.
Sementara di RS Darurat Covid-19 di Kemayoran, Jakarta, walau tingkat BOR belum mencapai separuhnya, namun sudah tampak tren kenaikannya yakni menjadi 38 persen pada Kamis (3/6) dibandingkan 20 persen pada dua pekan lalu.
RSDC Kemayoran yang semula wisma atlit Asian Games berdaya tamping 5.994 tempat tidur khusus, diperuntukkan bagi pasien Covid-19 tanpa gejala, bergejala ringan sampai sedang, sementara untuk pasien berkategori berat bisa dirujuk di 101 RS peemerintah mau pun swasta.
Naiknya BOR di RS tidak hanya terjadi di P. Jawa saja, tetapi dari Pontianak dilaporkan pula, 80 persen ruang ICUÂ dan 70 sampai 80 persen ruang rawat isolasi di kota tersebut sudah terisi.
Kenaikan BOR juga dilaporkan dialami sejumlah RS di Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan dan Lampung.
Jangan sampai, akibat ketidakpatuhan atau menganggap sepele prokes, angka ledakan Covid-19 seperti yang terjadi di India.
Â
Â
Â
Â
Â
Â
KOTA Kudus di Jawa Tengah yang dikenal dengan industri rokok kretek, sedang mengalami lonjakan kasus Covid-19 ditandai ratusan tenaga kesehatan yang terpapar, bahkan dikabarkan belasan jenasah harus antri di Unit Pemusalaraan Jenasah RSUD dr Loekmono Hadi (2/6).
Selain terbatasnya tenaga di RSUD, menurut salah seorang petugas, Anas, petugas RS harus menangani mulai dari pemusalaraan jenasah sampai membawanya ke TPU, sementara di area TPU tidak ada petugas atau warga desa yang membantu, mungkin takut tertular.
| Selain angka kematian yang melonjak menjadi rata-rata sekitar 32 sehari, sebanyak 189 nakes di Kudus juga terkonfirmasi positif Covid-19 dan seoarng diantaranya meninggal, Rabu kemarin. |
Bupati Kudus Hartopo mengakui, RS-RS rujukan di kota Kudus kekurangan nakes yang berguguran dan untuk menangani lonjakan pentebaran Covid-19 saat ini diperlukan tambahan 400 perawat dan 60 dokter.
IGD RSUD dr Loekmono juga kewalahan menampung pasien walau dengan gejala berat sekali pun sehingga beberapa diantaranya terpaksa dirawat di atas ambulance yang diparkir atau di lorong-lorong RS untuk menyelamakan nyawa mereka.
Sejumlah RS terpaksa menolak pasien karena memang sudah melebih kapasitas dan nakes yang ada termasuk dokter sudah kewalahan, apalagi jumlah mereka menurun drastis karena terpapar atau sedang menjalani isolasi mandiri.
Sejumlah pasien terpaksa diminta mencari RS untuk rawat inap ke kota-kota di sekitarnya termasuk Semarang, sedangkan yang bergejala ringan atau tanpa gejala diminta cukup melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.
Sebanyak 14 pasar tradisional di seputar kota Kudus ditutup selama 14 hari sejak 1 Juni setelah 42 desa sekabupaten masuk kategori zona merah Covid-19. Sejak awal pandemi, 626 orang warga Kudus meninggal.
Data Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten
Kudus mencatat, Â hingga Senin (31/5), jumlah pasien positif Covid-19 yang dirawat di rumah sakit sebanyak 298 orang dan 972 orang positif Covid-19 yang dirawat di RS atau menjalani isolasi mandiri.
Upaya pencegahan dengan menggalakkan penggunaan prokes terutama di seluruh kota-kota dan kabupaten harus terus ditingkatkan agar lonjakan penyebaran Covid-19 tidak meluas ke level nasional.




