Lockdown Agaknya Tak Terelakkan

PEMBATASAN Sosial Berskala Besar (PSBB) lebih ketat,  lockdown atau apa pun namanya agaknya perlu segara diambil guna menyelamatkan penduduk Indonesia dari ganasnya amukan Covid-19.

Alasannya, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro yang sudah diberlakukan dan diperpanjang beberapa kali di sejumlah wilayah ternyata dinilai gagal mengendalikan penyebaran penyakit akibat virus corona itu.

Inkosistensi penegakan peraturan, ringannya sanksi, beda tafsir dan level komitmen para kepala daerah, rendahnya disiplin publik serta munculnya varian baru virus, berkontribusi naiknya korban Covid-19.

Masih jauhnya capaian vaksin untuk mencipakan herd immunity, juga program 3T (Testing, Tracing dan Treatment) dengan berbagai kendalanya, juga ikut menciptakan kendala pelaksanaan PPKM.

Jika tidak segera diambil tindakan, dikhawatirkan sistem layanan kesehatan bakal kolaps, tercermin dari tingginya tingkat hunian RS, menghilangnya tabung  oksigen di pasaran dan banyaknya (calon) pasien Covid-19 yang tak terlayani.

Pasien Covid-19 yang memadati lorong-lorong  rumah sakit atau tenda-tenda darurat, antrian zenasah di ruang pemusalaraan dan pemakaman menunjukkan betapa seriusnya persoalan yang dihadapi.

Peringatan Para Pakar Kesehatan

Peringatan terkait  kemungkinan outbreak atau ledakan angka korban Covid-19 sudah dilontarkan sejumlah pakar kesehatan, termasuk epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman.

Dari pemodelan kasus aktif covid-19 yang ia rancang untuk  Indonesia, menurut Dikcy, pertambahan harian kasus Covid-19 berada di kisaran 80 ribu, bahkan merujuk pemodelan matriks, bisa sampai 100 ribu kasus per hari.

Dicky melihat, data resmi yang dirilis pemerintah masih jauh dari angka sebenarnya, sehingga implikasinya sangat serius, menciptakan misinterpretasi dan mismanajemen, sehingga strategi yang diambil bisa keliru.

Ia mengingatkan, penyebaran Covid-19 di Indonesia bisa lebih parah dari India, karena jumlahnya bagai “fenomena gunung es” yang hanya sebagian tampak di permukaan.

Tingginya positivity rate (di atas 40 persen) menunjukkan, satu dari dua orang yang dites (swab antigen atau PCR) , positif terpapar Covid-19, sedangkan penelusuran kontak erat (tracing) masih jauh dari ideal (1 : 30) atau dari satu orang terpapar, ditelusuri 30 kontak eratnya).

Sementara epidemiolog Universitas Indonesia, Yunis Tri Miko dalam suatu acara TV (29/6) memohon dengan sangat pada  pemerintah, agar secepatnya memberlakukan lockdown terutama di wilayah zona merah di P. Jawa.

“Saya sedih menyaksikan, tetangga saya sekeluarga terdiri dari enam orang terpapar Covid-19. Salah seorang yang paling parah meninggal karena tidak ada RS yang menerimanya. Yang lain juga terpaksa dirawat di rumah saja seadanya, “ kata Yunis.

BOR Makin Melonjak

Tingkat keterisian RS (Bed Occupancy Rate –BOR) di Pulau Jawa dan Sumatera, memang sudah di atas ambang batas yang ditoleransi (di atas 80 persen), bahkan di Jabodetabek, jumlah pasien sudah melebih total kapasitas RS.

“Berapa pun penambahan bed atau ruang rawat di RS, tidak bakal mampu menampung lonjakan jumlah pasien,  apalagi, selain gedungnya,  ruang bertekanan negatif, ventilator dan alat pendukung lainnya juga perlu disediakan, “ tuturnya.

Selain itu, jumlah nakes juga perlu ditambah, disesuaikan dengan penambahan ruang atau kapasitas RS, padahal mereka juga sudah kelelahan dan sekitar 1.000 nakes termasuk 405  dokter dan perawat berguguran.

WHO juga sudah menyampaikan pesan khusus pada pemerintah RI bahwa tingat penyebaran Covd-19 di Indonesia sudah pada tingkat mencemaskan sehingga perlu segera langkah sosial khusus (public health social measure) termasuk lockdown (PSBB) ketat).

“Indonesia perlu belajar dari India untuk menurunkan gelombang pandemi, “ demikian pernyataan Badan Kesehatan Dunia tersebut yang dikeluarkan baru-baru ini.

Secara spesifik, WHO menyebut keadaan Covid-19 Indonesia cukup mengkhawatirkan. Karenanya perlu tindakan segera untuk mengatasi situasi ini di banyak provinsi.

Sementara India sendiri, berkat kebijakan lockdown total di New Delhi dan Mumbai serta vaksinasi massal bagi 323 juta warganya, penyebaran Covid-19 berhasil ditekan secara signifikan.

Persisnya jumlah kasus, Minggu (28/6) lalu bisa ditekan menjadi 46.148 kasus dan yang meninggal  979 orang, padahal, pada puncaknya, awal Mei lalu, kasus harian pernah menembus lebih 420.000 kasus dan kematian lebih 4.000 orang sehari.

Begitu dahsyatnya “tsunami “ Covid-19 ydi negeri Bollywood itu, sehingga banyak pasien tidak tertampung di RS, tabung oksigen habis, korban tewas dikremasi di ruang terbuka ,  bahkan banyak yang dibuang ke Sungai Gangga.

Sementara Kebijakan PPKM Mikro yang sudah dilaksanakan berjilid-jilid ternyata gagal menahan laju penyebaran Covid-19 karena berbagai faktor seperti  inkonsistensi peraturan, beda tafsir diantara kepala derah dan sikap abai sebagian warga.

Di tengah ancaman outbreak Covid-19 yang sudah di depan mata, Presiden Jokowi juga sudah mengisyaratkan pemberlakuan PPKM Darurat di Jawa dan Bali, kemungkinan  dalam satu dua hari ini.

Kita tunggu saja, tetapi jangan sampai layanan kesehatan keburu kolaps dan para nakes terus berguguran sehingga korban Covid-19 tak tertangani lagi.

 

Advertisement