Dokter Paru Sebut Gas Air Mata Bisa Sebabkan Kematian

Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk ke lapangan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Sabtu malam (1/10/2022). (Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

JAKARTA – Dokter Paru RSUP Persahabatan, Feni Fitriani Taufik, mengatakan bahwa gas air mata bisa menjadi penyebab kematian tergantung banyaknya jumlah paparan dan kondisi korban.

“Kalau disertai pajanan yang besar, ditambah kondisi lain sehingga kerusakan di paru lebih lanjut, itu yang bisa berakibat fatal. Walaupun sebenarnya tidak banyak, tapi dengan multifikasi efek itu, mungkin terjadi kematian,” katanya dalam talkshow daring via Instagram RSUP Persahabatan, Rabu (12/10/2022).

Feni menjelaskan, gas air mata bukan semata-mata gas, ada campuran bahan kimia padat dan kimia cair yang bersifat iritatif.

Begitu gas air mata disemprotkan, bahan kimia tersebut bisa mengenai mata, kulit, dan saluran pernapasan yang menyebabkan rasa perih, kemerahan, mata dan hidung berair, serta pilek.

Tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh gas air mata, lanjut dia, beragam, mulai dari ringan hingga berat. Besarannya bahaya tersebut tergantung jumlah gas air mata yang mengenai tubuh dan durasi paparan dengan gas kimia.

“Kalau kita bandingkan dengan kerusuhan yang dilemparkan di alarm terbuka, itu, kan, orang menjauh sehingga kontaknya bisa tidak berlama-lama. Tapi kalau di ruang tertutup, maka risiko orang terpajan makin lama, dan berefek kepada tubuh yang terkena pajanan,” ujarnya.

Selain itu, kondisi fisik korban paparan gas air mata juga memengaruhi tingkat bahaya. Terdapat kelompok tertentu yang disebut sebagai kelompok rentan gas air mata.

Seperti, anak-anak yang saluran napas dan kondisi fisiknya lebih lemah dengan efek yang akan lebih berat dibandingkan dewasa muda.

Kemudian, orang yang punya komorbid yang berkaitan dengan gangguan saluran napas seperti asma dan orang yang merokok.

“Kejadian kemarin (Kanjuruhan) selain masanya tidak bisa menjauh karena tidak bisa keluar ruangan, ada kepanikan, desak-desakan, sehingga gangguan saluran napas jadi bertambah-tambah. Sehingga, efeknya jadi lebih berat dirasakan, dan kita lihat, korbannya jadi besar,” tuturnya.

Feni menjelaskan, jika paparan gas air mata berlangsung dalam waktu lama, akan menyebabkan partikel kimia semakin banyak masuk ke dalam tubuh, yang bisa menimbulkan respons radang berat di saluran napas.

Kemudian, terjadi pembengkakan dan penyempitan yang menyebabkan seseorang susah menghirup dan mengeluarkan napas. Jika gangguan sampai berlanjut hingga ke paru-paru, maka akan mengganggu proses penangkapan oksigen.

Feni menyampaikan bahwa penanganan terbaik untuk terhindar dari bahaya gas air mata adalah menghindar secepat mungkin dari pajanan. Dan, sesegera mungkin mencuci muka, mata, dan hidung untuk menetralisir paparan bahan kimia.

Penggunaan kaca mata pelindung, masker, dan pakaian lengan panjang juga bisa memperkecil potensi paparan kimia dari gas air mata.

“Kalau ada sarana medis itu bisa diberikan oksigen atau ke fasilitas kesehatan terdekat, karena kepanikan membuat orang tidak bisa objektif menilai kondisi dirinya,” kata dia.

Sumber: Antara

Advertisement