
PAKET sanksi negara-negara Uni Eropa (UE) terhadap Rusia agar membuat kemampuannya membiayai perang dengan Ukraina melemah, ternyata malah menyulitkan dan membenani perekonomian anggota-anggota UE sendiri.
Sebelumnya UE (2/12) sepakat mematok (capping) harga minyak mentah ekspor Rusia sebesar 60 dollar AS per barrel (kemudian diputuskan 65 dollar) dan Senin lalu (19/12) para pemimpin UE sedang mempertimbangkan penetapan harga gas ekspor Rusia 275 euro per MWh (megawatt jam).
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bahkan mengusulkan agar harga minyak ekspor Rusia dipatok 30 dollar agar Rusia benar-benar kehilangan kemampuannya membiayai perang melawan Ukraina.
Terkait pematokan harga gas Rusia, salah satu anggota UE, Ceko meminta agar batas minimalnya diturunkan ke 188 euro per MWh agar warganya tidak perlu membatasi penggunaan listrik terutatama di musim dingin saat ini.
Selain itu, petinggi Ceko juga berharap, dengan harga gas murah, industri di negara-negara UE termasuk negaranya yang bergantung impor dari Rusia masih bisa jalan, tidak sampai bangkrut.
Namun anggota UE lainnya, Jerman dan Belanda menolak usul Ceko tersebut, karena jika harga gas termasuk dari Rusia terlalu murah, produsen enggan menjualnya ke Eropa sehingga pada gilirannya UE juga yang bakal rugi.
Sejauh ini UE sudah mengenakan Sembilan paket sanksi terhadap Rusia. Yang terakhir berupa pencekalan terhadap 141 orang dan 49 perusahaan atau Lembaga di negeri Beruang Merah itu.
Para tetangga dan juga bekas negara satelit Uni Soviet seperti Polandia dan Rumania serta negara-negara di kawasan Baltik seperti Lithuania, Latvia dan Estonia yang juga bekas sempalan Soviet justeru meminta UE mengenakan sanksi lebih keras pada Rusia karena mereka mengalami dampak langsung invasinya ke Ukraina.
Rasa aman negara-negara tersebut terancam akibat Perang Rusia dan Ukraina, terbukti dari jatuhnya rudal Ukraina di wilayah Polandia beberapa waktu lalu walau pun tidak disengaja.
Negara-negara tersebut bahkan mengusulkan sanksi lebih luas terhadap Rusia termasuk ekspor produk pertanian dan pupuk, padahal keran ekspor minyak mentah baru dibuka oleh Rusia bagi Turki dan Perancis serta negara-negara sahabatnya di Timur Tengah.
Hanya usulan pemblokiran terhadap Lembaga keuangan Rusia, Gazprom yang menangani transaksi jual-beli gas seperti yang diusulkan oleh Lithuania sedang dipertimbangkan UE.
Bunuh Diri
Sebaliknya, Wamenlu Rusia Sergei Grushko kepada TASS mengemukakan, pemerintahnya akan menangani sanksi sesuai dengan kepentingannya.
“Langkah UE menjatuhan paket sanksi terbaru pada negara kami, semakin dekat dengan bunuh diri, “ ujarnya. Rusia menganggap, paket sanksi terhadap negaranya malah bisa membuat inflasi di Rusia makin meroket akibat cadangan energi yang terbatas sehingga harus mengurangi kegiatan produksi.
UE pekan lalu menyepakati untuk mematok harga minyak ekspor Rusia 65 dollar AS per barrel, padahal Rusia sudah menjualnya dengan harga 60 dollar AS, sehingga dengan sanksi UE pun Rusia masih untung.
Sementara Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) juga sudah bersiap-siap mengantisipasi sanksi dengan mengurangi produksi menjadi du juta barrel per hari agar harga minyak tidak jatuh di bawah harga pasar kini (80 dollar untuk jenis Brent).
Perang, selain unjuk kekuatan militer, juga ketahananan ekonomi. Siapa yang mampu lebih lama bertahan, bakal keluar sebagai pemenangnya (Reuters/NS).




