Mengenal Sindrom Tourette, Kelainan Saraf Langka yang Sebabkan Tubuh Bergerak Sendiri

Ilustrasi Sindrom Tourette. (Foto: Freepik/Beststudio)

JAKARTA – Baru-baru ini viral di media sosial TikTok yang memperlihatkan seorang wanita mengalami gerakan fisik berulang, menarik kepalanya ke kiri lalu diikuti dengan siulan. Dalam video yang diunggah oleh pemilik akun @dexarahachika888 disematkan #tourettessyndrome.

Sindrom Tourette termasuk salah satu kelainan saraf yang langka. Sindrom Tourette dapat menimbulkan gejala dalam bentuk gangguan motorik (gerakan) maupun vokal atau sering dikenal dengan gangguan tik (tic).

Gangguan yang muncul ini dapat berlangsung tahunan dan dapat muncul tanpa sebab, serta tidak terkontrol. Dapat juga terjadi sewaktu-waktu, terutama saat menyaksikan suatu peristiwa tertentu.

Sindrom tourette juga diidap oleh penyanyi asal Amerika Serikat, Billie Eilish. Dalam wawancara di acara My Next Guest milik David Letterman di Netflix, Eilish mengaku bahwa dirinya memang mengidap sindrom tourette dan sering melakukan gerakan tics berulang. Eilish mengungkapkan, hidup dengan sindrom tourette bisa sangat melelahkan.

“Jika Anda merekam saya cukup lama, Anda akan melihat banyak tik,” kata Eilish sebagaimana dikutip BBC.

Penyebab dan Gejala Sindrom Tourette

Sindrom yang dikenal dengan Tourette’s disorder dan Gilles de la Tourette syndrome ini adalah salah satu gangguan perilaku dan perkembangan. Gangguan perkembangan ini tidak hanya melibatkan kelainan saraf, tetapi juga memengaruhi kejiwaan seseorang.

Sindrom ini bersifat genetik dan ditandai dengan adanya gerakan spontan yang tidak disadari, serta berlangsung cepat. Munculnya tanda awal dari sindrom ini umumnya dimulai pada saat anak-anak, terutama pada usia sekolah sekitar usia 4-6 tahun dan tingkat keparahan gejala maksimal di usia 10-12 tahun.

Pada beberapa kasus, dilaporkan bahwa pada usia mendekati 21 tahun gejala dari sindrom Tourette mengalami perbaikan. Prevalensi terjadinya kelainan ini juga lebih banyak terjadi pada anak laki-laki dibandingkan perempuan, dengan rasio kejadian 4:1.

Penyebab secara pasti dari sindrom ini sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Namun, dugaan para ahli saat ini menyatakan bahwa sindrom Tourette disebabkan karena multifaktorial seperti faktor genetik, serta senyawa kimiawi dalam otak. Yang terjadi biasanya adalah ketidakseimbangan hormon dopamin dan serotonin dalam otak.

Faktor lingkungan seperti tekanan pada saat masa kanak-kanak, paparan rokok saat kehamilan, serta stres dalam kehamilan juga bisa menjadi pemicu. Selain itu kurangnya asupan oksigen pada saat kehamilan sehingga menyebabkan kondisi hipoksia janin, hingga infeksi juga turut menjadi penyebabnya.

Jenis Tik

Dikutip dari Kumparan, ada beberapa jenis tik yang diketahui saat ini, seperti:

  • Tik Motorik. Tik jenis ini memengaruhi gerakan tubuh, seperti berkedip, mengangkat bahu, atau menyentakkan lengan.
  • Tik Vokal. Ini menyebabkan penderita sindrom tourette membuat suara tertentu, seperti bersenandung atau berteriak.
  • Tik Simpel. Ini menyebabkan gerakan sederhana yang melibatkan beberapa bagian tubuh. Seperti menyipitkan mata atau mengendus.
  • Tik Kompleks. Gerakan ini biasanya melibatkan beberapa bagian tubuh secara bersamaan, seperti mengayunkan kepala yang dilanjut dengan menyentakkan lengan atau melompat.

Gejala biasanya dimulai saat anak-anak, berusia sekitar 5 hingga 10 tahun. Gejala yang sering adalah tik motorik yang terjadi di area kepala dan leher. Tik akan memburuk pada saat pengidapnya mengalami stres atau perasaan berlebihan. Gejala cenderung membaik ketika seseorang tentang atau fokus mengerjakan suatu aktivitas.

Gejala tik bisa berubah dari waktu ke waktu, dan gejala timbul tenggelam. Dalam kebanyakan kasus, tik berkurang selama masa remaja dan awal masa dewasa, bahkan hilang sepenuhnya. Namun, banyak orang dengan sindrom tourette mengalami tik hingga dewasa bahkan gejalanya semakin buruk.

Sebagian besar anak yang didiagnosis dengan sindrom tourette sering kali diiringi dengan gangguan lain, seperti gangguan mental, perilaku atau gangguan defisit perhatian/hiperaktivitas (ADHD), kecemasan, atau gangguan obsesif-kompulsif (OCD).

Saat ini tidak ada obat untuk sindrom tourette. Namun, jika gejala tik dirasa parah dan mengganggu aktivitas sehari-sehari, segeralah berkonsultasi ke dokter. Perawatan medis bisa dilakukan untuk membantu mengurangi gejala.

Advertisement