
ASUPAN air minum bagi anak di tengah cuaca panas yang melanda sebagian wilayah Indonesia dan negara-negara Asia beberapa pekan ini, sangat diperlukan, selain menghindari dari paparan langsung sengatan sinar matahari.
“Dalam jangka panjang, cuaca panas bisa berdampak buruk bagi kesehatan tubuh terutama anak-anak, “ kata Ketum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah Yanuarso (Kompas, 27/4).
Cuaca panas (sekitar 37,5 – 40 derajat Celsius) diperkirakan terjadi di sejumlah provinsi sampai akhir musim kmarau, Oktober a.l. akibat tiupan angin monsun dari Australia yang menyapu tutupan awan sehingga sinar matahari langsung menerpa permukaan daratan.
Dalam waktu bersamaan, saat ini juga terjadi panas ekstrim di sejumlah negara di Asia sampai di atas 50 derajat Celsius seperti di Tiongkok, India, Pakistan, Bangladesh, Thailand dan Laos. Di China, suhu panas ekstrim menyerang 12 provinsi dan di India menewaskan 13 orang dan puluhan korban dirawat di RS.
Pemicu panas ekstrim di atas Asia terutama pemanasan global dan tingginya tekanan udara di atas permukaan laut mulai dari Teluk Benggala sampai perairan Filipina, diperparah oleh banyaknya penggunaan bahan bakar fosil.
Sementara Piprim lebih jauh mengingatkan, cuaca panas di Indonesia yang tidak biasa saat ini menuntut tubuh untuk mendapatkan asupan air lebih banyak, khususnya yang banyak beraktifitas di luar rumah.
Yang pertama harus diperhatikan, lanjutnya, memastikan agar anak terhidrasi dengan baik. “Pastikan cairan elektrolit masih mencukupi dan hindari anak dari sengatan langsung sinar matahari, “ ujarnya.
Kebutuhan minum anak dengan usia lebih dini, menurut Piprim, lebih banyak ketimbang manusia dewasa yakni antara 65 sampai 80 persen dari berat badannya yang semakin berkurang sejalan dengan pertambahan usia, menjadi antara 55 sampai 60 persen berat badan.
Bayi usia 0 sampai enam bulan memerlukan air 700 mililiter (ml) per hari yang diperoleh dari ASI, sedangkan bayi berusia antara enam sampai 12 bulan 800 ml, satu sampai tiga tahun 1.300 ml, empat ampai delapan tahun 1.700 ml dan Sembilan sampai 13 tahun 2.100 sampai 2.300 ml.
Asupan air meningkat lagi dalam situasi tertentu, misalnya beraktivitas fisik, olahraga, berpergian jauh terutama yang membonceng orang tuanya saat mudik, apalagi di bawah suhu panas ekstrim langsung yang menerpanya.
“Lagipula, sensitivitas anak terhadap rasa haus lebih rendah ketimbang orang dewasa, tamaban lagi, mereka tidak bisa mengekspresikan rasa hausnya dengan baik, sehingga tidak disadari oleh orang tua, “ tutur Piprim.
Selain itu di tengah cuaca panas, anak lebih mudah mengalami kelelahan, stress, makan tidak teratur dan kurang tidur sehingga memicu gangguan kesehatan seperti diare, mulas, muntah, konstipasi dan keracunan makanan.
Waspada! dan lindungi anak kita dari berbagai gangguan akibat cuaca panas akhir-akhir ini.




