Tata Cara Vaksinasi Antirabies pada Hewan dan Gejalanya

Ilustrasi. (Foto: ANTARA/HO/Pexels)

JAKARTA – Rabies di Indonesia merupakan masalah serius dalam kesehatan masyarakat karena hampir selalu berujung pada kematian (almost always fatal) setelah gejala klinis muncul.

Infeksi rabies pada manusia biasanya terjadi akibat kontak dengan hewan seperti anjing, kera, serigala, atau kelelawar melalui gigitan atau kontak virus melalui air liur dengan luka terbuka.

Virus ini memasuki ujung saraf yang terletak di area gigitan dan menyebar ke ujung saraf tepi, mencapai sistem saraf pusat yang biasanya berada di sumsum tulang belakang, dan kemudian menyerang otak.

Berdasarkan data, anjing merupakan sumber utama penularan rabies yang mengakibatkan kematian manusia, menyumbang hingga 99% dari semua kasus penularan rabies kepada manusia.

Selain penting untuk menjaga kesehatan hewan peliharaan, pemberian vaksin antirabies pada hewan akan memberikan perlindungan pada manusia dari dampak gigitan hewan rabies. Suntikan anti rabies pada hewan juga bisa mencegah resiko kematian hingga 100 % pada manusia.

“Vaksinasikan anjing peliharaan Anda segera,” kata dr. Gede Putra Suteja, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bali, dilansir dari Antara, Selasa (20/6/202.

Dia mengingatkan akan hal tersebut karena rabies adalah penyakit yang fatal, baik bagi hewan maupun manusia. Hampir semua pasien yang menunjukkan gejala klinis rabies akan mengalami kematian atau memiliki risiko kematian 100 persen.

Seorang balita perempuan meninggal dunia pada Minggu (11/6/2023) di Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, setelah digigit oleh anjing peliharaannya sekitar satu bulan sebelumnya.

Balita tersebut tidak segera mendapatkan perawatan medis setelah digigit oleh anjing. Dia hanya dirawat di rumah oleh keluarganya, hingga akhirnya dibawa ke rumah sakit ketika gejalanya sudah parah, dan akhirnya meninggal dunia di RSUD Buleleng.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam Buku Saku Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Kasus Gigitan Hewan Penular Rabies (HPR), rabies adalah penyakit infeksi akut yang menyerang sistem saraf pusat oleh virus rabies.

Karena virus ini menyebar melalui sistem saraf, sehingga tidak dapat dideteksi melalui pemeriksaan darah. Masa inkubasi penyakit rabies bervariasi, antara dua minggu hingga dua tahun, tetapi biasanya berkisar antara tiga hingga delapan minggu.

Sementara menurut panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), masa inkubasi penyakit yang berisiko kematian ini rata-rata adalah 30-90 hari.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), intervensi utama terhadap penyakit itu adalah dengan memberikan vaksin kepada anjing. Pasalnya, jika hewan pembawa rabies itu masih berkeliaran dan tidak terlindungi vaksin, maka masih bisa menularkan rabies ke manusia.

Vaksinasi HPR

Menurut dokter hewan (drh) I Nyoman Sunita, vaksinasi antirabies pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing adalah salah satu cara untuk mencegah penularan rabies. Sebelum melakukan vaksinasi pada hewan peliharaan, penting bagi masyarakat untuk memperhatikan kondisi hewan, seperti usia dan suhu tubuhnya.

Vaksinasi antirabies pada hewan peliharaan dapat dilakukan di klinik dokter hewan dan fasilitas vaksinasi hewan yang disediakan oleh pemerintah daerah. Sebelum vaksinasi antirabies dilakukan, dokter hewan akan melakukan pemeriksaan kondisi tubuh anjing atau kucing.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa hewan dalam keadaan sehat, suhu tubuhnya normal (tidak melebihi 40 derajat Celsius atau dalam keadaan demam), dan umur hewan yang akan divaksin minimal tiga bulan.

Setelah Vaksinasi 

Menurut dokter hewan (drh) I Nyoman Sunita, setelah hewan peliharaan menerima vaksinasi antirabies, anjing atau kucing tersebut sebaiknya tidak dimandikan selama satu minggu.

Hal ini disebabkan karena tubuh hewan merespons vaksinasi. Perubahan suhu yang tiba-tiba dapat menyebabkan hewan tersebut sakit atau mengalami demam.

Selain itu, pemilik diimbau untuk tidak mengganti jenis makanan hewan setelah vaksinasi guna menghindari potensi terjadinya diare yang dapat membuat hewan sakit.

Pemilik hewan peliharaan juga sebaiknya tidak membawa hewan tersebut dalam perjalanan jauh untuk mencegah kelelahan pada hewan.

Selanjutnya, anjing atau kucing tidak boleh dilepas ke luar pekarangan rumah guna memutus rantai penularan rabies. Vaksinasi antirabies perlu dilakukan sekali dalam setahun.

Gejala Rabies

Hewan yang terinfeksi virus rabies dapat menunjukkan gejala-gejala seperti takut terhadap cahaya dan air, tiba-tiba menjadi menyendiri, mengeluarkan air liur secara berlebihan, menjadi agresif dan galak, serta suka menggigit benda-benda di sekitarnya. Selain penularan melalui gigitan, virus rabies juga dapat menular melalui jilatan pada luka di tubuh manusia.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa terdapat dua tipe rabies pada hewan. Tipe pertama adalah rabies ganas, di mana anjing terlihat beringas dan menyerang semua benda yang bergerak. Sedangkan tipe kedua adalah rabies tenang, di mana hewan tidak mengenali tuannya, sering menghindar, mudah berontak bila ada provokasi, mengalami kenaikan suhu tubuh, dan akhirnya mengalami kelumpuhan otot.

Pada manusia yang terinfeksi virus rabies, gejala klinis umumnya meliputi demam, kelemahan otot, hilang nafsu makan, sensasi kesemutan atau rasa terbakar di area gigitan, serta sakit atau nyeri kepala.

Selain itu, anjing yang terinfeksi juga dapat mengalami mual dan muntah, kebingungan atau rasa terancam tanpa sebab, hiperaktif, mengalami halusinasi, insomnia, dan mengalami kesulitan menelan.

Pencegahan Rabies

Untuk mencegah rabies pada manusia, beberapa tindakan dapat dilakukan, seperti segera mencuci luka dengan sabun selama sekitar 15 menit dan menghindari penggunaan peralatan agar tidak menyebabkan luka tambahan. Selanjutnya, penderita harus menggunakan antiseptik seperti alkohol 70 persen atau povidon iodine.

Setelah itu, sebaiknya segera membawa penderita ke puskesmas atau rumah sakit yang memiliki fasilitas untuk mengobati rabies dan memberikan vaksin antirabies (VAR) untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit tersebut. Namun, jika virus rabies sudah menyebar ke sistem saraf pusat, pemberian VAR tidak akan efektif.

Luka yang berada di daerah berisiko tinggi seperti leher, wajah, kepala, jari tangan dan kaki, area genital, serta luka yang dalam dan luas, memiliki risiko yang lebih tinggi terkena rabies. Semakin dekat jarak luka gigitan dengan otak, maka gejala klinis akan muncul lebih cepat.

Dr Imran Pambudi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, mengungkapkan bahwa ada 11 kasus kematian akibat rabies antara Januari dan April 2023 dari total 31.113 kasus gigitan hewan yang berpotensi menularkan rabies. Dari jumlah tersebut, 23.211 kasus gigitan telah menerima vaksin antirabies.

Advertisement