
IDUL Fitri 1444H yang jatuh pada 10 Dzulhijjah (28 atau 29 Juni 2023) tidak saja dirayakan di berbagai wilayah di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tetapi juga di berbagai penjuru dunia.
Saat di Tanah Suci, 2,5 juta jemaah haji melakukan serangkaian prosesi seperti thawaf, mabit atau bermalam di Mina, tahalul (mencukur rambut), melontar jumrah, sya’i dan puncaknya wukuf di Padang Arafah, umat Islam di berbagai belahan dunia melakukan shalat Idul Adha.
Idul Adha atau hari raya qurban adalah napak tilas keteladanan Nabi Ibrahim yang rela dan ikhlas melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anaknya, Ismail walau pada detik-detik terakhir diganti Allah dengan domba.
Selain mengacu pada akidah Islam, ritual rangkaian acara Idul Adha juga diwarnai atau berakulturasi dengan budaya dan adat istiadat penduduk muslim di tiap-tiap negara.
Di Semarang, Jawa Tengah misalnya, sebagai bentuk rasa syukur, digelar acara Apitan sebagai salah satu rangkaian perayaan Idul Adha yakni berupa arak-arakan kendaraan mengangkut gunungan hasil tani untuk diperebutkan oleh massa.
Apitan konon sudah menjadi tradisi sejak era Wali Songo di era tempo doeloe sebagai luapan rasa syukur yang dilakukan di tengah Idhul Adha.
Sementara di wilayah Pasuruan, Jawa Timur digelar tradisi “Manten Sapi” dengan mendandani sapi yang akan dijadikan kurban, mengalungi dengan kembang tujuh rupa dan membalut tubuhnya dengan kain kafan sebagai lambing kesucian.
Sedangkan acara Grebeg Gunungan digelar di DI Yogyakarta dengan mengarak gunungan hasil bumi dari halaman keraton sampai Masjid Gede Kaumam lalu diperebutkan oleh massa yang hadir.
Di Cirebon, Jawa Barat, digelar tradisi Gamelan Sekaten berupa tabuhan gamelan yang dilakukan di Keraton Kesepuhan sebagai penanda bagi umat muslim merayakan hari kemenangan Idul Adha.
Sedangkan di Aceh, digelar tradisi Meugang di tengah perayaan Idul Adha dengan mengolah daging sapi atau kerbau untuk disantap bersama-sama oleh masyarakat setempat.
Shalat Idul Adha juga digelar di sejumlah wilayah yang penduduk muslimnya minoritas, misalnya di Jayapura menggunakan di 136 masjid dan lapangan di sekitar wilayah kota, sedangkan di kota terujung timur Indonesia, Merauke, shalat Ied dipusatkan di halaman kantor bupati setempat.
Tradisi Idul Adha Mancanegara
Disamping menggelar shalat Idul Adha, rangkaian acara di hari raya Idul Qurban itu juga dilakukan sesuai adat istiadat di masing-masing negara, misalnya di Arab Saudi yang diliburkan selama tiga hari.
Selain domba dan sapi, umat Islam di Arab Saudi juga memotong unta untuk kurban yang dagingnya yang sudah diolah dikirimkan ke berbagai negara yang membutuhkannya.
Sedangkan di Mesir, pemotongan hewan kurban dilakukan di pinggir jalan. Aneka warna balon udara dilepas dari halaman Masjid al-Seddik, Kairo sebagi luapan kegembiraan masyarakat menyambut Idul Adha.
Di China, umat muslim mudik ke kampung halaman masing-masing saat Idul Adha dan umumnya keluarga-keluarga muslim memasak berbagai hidangan dan panganan camilan, sedangkan di Maroko, mrouzia dan boulfaf yang dibuat dari daging sapi atau kambing yang dipanggang menjadi santapan spesial di acara Idul Adha.
Di Moskow, Rusia yang baru diguncang aksi kudeta oleh kelompok tentara bayaran Wagner (23/6), shalat idul Adha tetap digelar di 55 lokasi yang tersebar di ibukota Rusia itu walau sebelumnya ada larangan oleh organisasi keagamaan Yardyam yang bukan tergabung dalam Majelis Ulama Rusia.
Idul Adha 1444H di Rusia yang jatuh pada hari Rabu (28/6) tidak masuk hari libur, namun sehari sebelumnya, di wilayah-wilayah yang merayakannya sampai 30 Juni, jam kerja dipersingkat.
Di Jepang WNI muslim juga menunaikan kewajiban kurban dengan menitipkan hewan di rumah pemotongan setempat atau berkurban di tanah air bekerjasama dengan Lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa, Lazisnu atau Human Initiative.
Walau pun populasi muslim di Jepang relatif sedikit (120-ribu atau sekitar satu persen dari total penduduk) dan mayoritas pemeluknya berasal dari Indonesia dan negara-negara Timur Tengah, Idul Adha dipusatkan di Masjid Mie, Prefektur Mie di P. Honsju.
Mereka hanya kumpul-kumpul dan menyantap menu berasal aneka kuliner dari masing-masing negara asal, tidak ada kurban, karena memang tidak ada fakir miskin, lagi pula orang tidak bisa sembarangan menyembelih hewan.
Pluralitas Islam tampak di ragam acara dalam rangkaian Idul Adha, namun yang terpenting, semangat berkurban dan berbagi antar sesama umat, toleran dan wajah Islam yang rahmatan lilalamin harus dikedepankan.




