
PERANG antara dua negara serumpun Korea Selatan dan Korea utara sudah berakhir 70 tahun lalu (25 Juni 1951 sampai 27 Juli 1953), namun sampai hari iniĀ keduanya belum meneken perjanjian perdamaian.
Hari ini di Panmunjom, Korea 70 tahun lalu ditandatangani naskah gencatan senjata antara parapihak bertikai di Korea yang antara lain memuat kesepakatan untuk menciptakan Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan kedua negara.
Dengan tidak dilakukan perjanjian perdamaian sampai hari ini berarti Ā kedua negara masih dalam status perang, sementara saling ancam terus berlangsung, hanya konflik militer terbuka saja yang ditangguhkan.
Di tengah kesulitan ekonomi dan sanksi Barat serta PBB, Korut terus melakukan uji coba rudal-rudal balistik dan hulu ledak nuklir, sebaliknya Korsel terus memperkuat militernya termasuk menggelar latihan dengan mitranya, AS.
Korut dalam peringatan Perang Korea kali ini mengundang Menhan Rusia Sergei Shoigu dan salah satu politburo Partai Komunis China Li Hongzhong untuk menyaksikan parade militer yang Ā memamerkan rudal nuklir yang pengembangannya dilarang DK PBB.
Ironisnya, Rusia dan China yang berada di belakang Korut saat Perang Korea dan keduanya kini juga anggota tetap DK PBBĀ seharusnya mengenakan sanksi ketat terhadap Korut mengirimkan wakilnya untuk hadir dalam acara tersebut.
Sebaliknya, di Seoul Korsel, perigatan Perang Korea diwarnai suasana keharuan saat Presiden Yoon Suk Yeol mengundang puluhan veteranĀ perang asing untuk menghormati rekan-rekan mereka yang gugur dalam perang.
Perang Korea disebut juga perang proksi antara Barat dipimpin AS yang tergabung dalam kontingen pasukan PBB bersama puluhan negara Eropa Barat lainnya, melawan Korut yang didukung China dan Rusia serta sejumlah negara Eropa Timur.
Diperkirakan 600-ribuan angota pasukan Korsel dan sampai 390-ribu tentara AS tewas, 480-ribu dan 103-ribu terluka, sementara di pihak Korut sekitar 300-ribuan dan China sampai 400-ribuan tewas dan masing-masing 230-ribu serta 486-ribu terluka.
Era Perang Dingin telah terliwati pasca runtuhnya Uni Soviet akhir 1991, namun ancaman Perang Korea berikutnya masih belum pupus, malah terus bereskalasi, tercermin dari retorika-retorika para pemimpin dan kesiapan militer termasuk para proksinya.
Jika perang pecah lagi, tidak terbayangkan kehancuran dan korban yang akan jatuh, mengingat kemajuan persenjataan di era now sangat lebih mematikan dan berdaya rusak dahsyat.(AP/ns).




