
KAWASAN Timur Tengah seolah-olah tidak pernah sepi dari konflik dan saat ini menghangat lagi antara Lasykar Hezbollah dukungan Iran yang beroperasi di Lebanon melawan tentara Israel.
Sebelumnya, di tempat dan waktu yang dirahasiakan, pimpinan Hezbollah Hasan Nasrallah dan sayap militer Palestina Hamas, Ismail Haniyeh yang menguasai wilayah Gaza berunding di Beirut untuk membahas kesiapan poros perlawanan terhadap tentara Yahudi.
Keduanya dilaporkan membahas langkah bersama untuk mengintensifkan perlawanan di wilayah Palestina yang diduduki Israel di Tepi Barat dan Gaza serta penyerbuan polisi Israel ke situs ketiga Islam Masjid AL-Aqsa, 7 April lalu.
Gesekan antara Hezbollah dan pasukan Israel juga telah terjadi berminggu-minggu di perbatasan Lebanon dan Israel, puncaknya serangan puluhan roket yang diluncurkan oleh Hezbollah ke wilayah Israel sejak April lalu.
”Jangan membuat kesalahan. Kami tidak menghendaki perang, tapi kami siap melindungi warga sipil, tentara dan kedaulatan kami, “ seru Menhan Israel Yoav Gallant dalam pernyataannya yang ditujukan pada Hezbollah seperi dikutip Reuters (9/8)
Sementara Kedubes Arab Saudi di Beirut meminta warganya untuk segera meninggalkan Lebanon dan menghindari daerah-daerah yang berpotensi terjadi kontak senjata.
Inggris menyarankan untuk warganya untuk tidak melakukan perjalanan ke sejumlah wilayah bagian selatan Lebanon dekat kamp Palestina Ain el-Hilweh, kecuali urusan mendesak.
Sebelumnya, sebanyak 13 orang dilaporkan terbunuh dalam pertempuran yang terjadi di kamp tersebut pada 29 Juli lalu, sebagian besar korban adalah anggota kelompok militan.
Menurut sumber keamanan di kamp tersebut, pertempuran melibatkan faksi utama Fatah dan kelompok Islam garis keras. Kamp Ain el-Hilweh adalah yang terbesar dari 12 kamp Palestina di Lebanon yang mampu menampung sampai 250.000 pengungsi Palestina.
Sejumlah negara Arab seperti Bahrain, Uni Arab Emirat, Jordania, Mesir, Maroko dan Sudan sudah menormalisasi hubungan dengan Israel, namun isu Palestina yang berlangsung lebih seabad (sejak 1917) terus menggantung tanpa solusi bahkan bereskalasi dengan konflik-konflik lainnnya termasuk melibatkan Hezbollah dan Iran. (berbagai sumber/ns)




