Koalisi Loncat Sana-sini

Ketum PKB Muhaimin Iskandar (kanan) tiba-tiba dipasangkan dengan Bacapres untuk bacawapres Koalisi Perubahan untuk Persatuan (PKB, Nasdem dan PKS) Anies Baswedan sehingga konstelasi koalisi capres/ cawapres dalam Pilpres 2024 berubah.

SUHU politik nasional makin memanas setelah Partai Nasdem tiba-tiba mengajukan Ketum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sebagai bakal calon wakil presiden (bawapres), mendampingi Anies Baswedan yang sudah dicalonkan Koalisi Perubahan  untuk Persatuan.

Yang membuat berang jajaran Partai Demokrat (PD) , Anies baru saja menemui Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang Yudhoyono beberapa hari lalu dan menyebutkan akan mendeklarasikan puteranya, Ketum PD Agus Harimurti Yudhoyono sebagai bakal cawapres.

Waktu itu Anies sesumbar, isu pasangan capres/cawapres  tak  perlu dibicarakan lagi, karena yang penting adalah membahas strategi pemenangan pemilu 2024 bagi Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang beranggotakan Nasdem, PD dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Setiap kali didesak kapan bakal cawapresnya dideklarasikan, Anies juga dengan santai menjawab: “tunggu waktu yang tepat, tidak perlu buru-buru, “ sementara di sejumlah  event, Agus dan Anies tampak akrab dan sering tampil bersama.

Salah satu petinggi PD Herman Khairon menyebut manuver yang dilakukan Anies menetapkan bakal cawapresnya tanpa memberitahukan pada PD tidak etis, tidak bermoral dan merupakan peghianatan.

Khairon mencatat, selain dalam piagam kerjasama yang ditandatangani ketiga anggota koalisi (Nasdem, PKS dan PD), paling tidak, lima kali yakni pada Ramadhan dan Idhul Fitri lalu, juga tertulis,  Anies menyebut AHY sebagai bacawapres.

Namun tiba-tiba nama Cak Imin diajukan sebagai bacawapresnya yang disampaikan oleh salah satu anggota Panitia Delapan (terdiri dari wakil-wakil KPP yakni Nasdem, PD dan Partai Keadilan Sejahtera-PKS) Sudirman Said.

Satu-satunya petunjuk terkait penetapan Cak Imin sebagai cawapres Anies adalah sowan atau kunjungan Anies beserta isteri ke kediaman orang tua Cak Imin di Jombang, Jawa Timur, 30 Agustus.

Anies sendiri dideklarasikan sebagai bacapres oleh Nasdem paling awal di antara koalisi atau kontestan lainnya yakni Oktober tahun lalu, lalu disusul dengan pembentukan KPP oleh Nasdem, PKS dan PD.

KPP mendeklarasikan Anies sebagai bacapres mereka pada 14 Juni lalu, namun sampai hari ini belum menetapkan bakal cawapresnya walau di berbagai kesempatan, AHY tampak akrab dan selalu hadir di berbagai event yang digelar KPP.

Ketum Nasdem Surya Paloh sendiri sudah memandatkan pada Anies nama bacawapres yang akan mendampinginya, walau banyak pihak  menduga, munculnya nama Cak Imin secara tiba-tiba adalah atas instruksinya.

Posisi Anies untuk “berlayar” dalam pencalonan presiden juga belum aman, misalnya jika salah satu koalisinya (PKS) hengkang ke koalisi lain karena Nasdem dan PKB yang masing-masing memiliki suara 9,05 dan 8,21 persen pada Pemilu 2019 belum memenuhi persyaratan presidential threshold (20 persen).

Menjelang penetapan pasangan capres dan cawapres 19 Okt. Sampai 25 November nanti, belum satu koalisi pun yang sudah menetapkan bacawapres dari sejumlah nama yang muncul.

PDI-P yang didukung oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan parpol non-parlemen yakni Partai Hanura dan Partai Bulan Bintang (PBB)  menetapkan Gubernur Jawa Tengah sebagai bacapresnya.

PDI-P, PBB dan Hanura belum menentukan nama bacawapres, sedangkan PPP mengajukan Menparekraf Sandiaga Uno.

PDI-P, satu-satunya parpol yang bisa mengajukan capres dan cawapres (karena perolehan suaranya di atas ambang batas persidensial tershold 20 persen) agaknya santai, menanti sampai hari terakhir pendaftaran capres/cawapres (19 Okt – 15 Nov. 2023)

Sebaliknya Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) yang semula terdiri dari Gerindra dan PKB, diperluas menjadi Koalisi Indonesia Maju (KIM) dengan masuknya Partai Golkar dan PAN.

KKIR terbelit masalah karena masuknya Golkar dan PAN membuat PKB yang sejak awal sudah bergabung dalam KKIR dan Ketumnya, Cak Imin yang semula digadang-gadang sebagai bacawapres KKIR mendampingi Prabowo, hengkang ke KPP dan “ditangkap” oleh Anies, akan dijadikan bacawapres yang akan mendampinginya.

Hengkangnya Cak Imin, juga membuat rumit terkait pemilihan bacawapres KIM, karena Prabowo harus mencari calon lainnya, sementara Golkar tentu mengajukan ketumnya, Airlangga Hartarto yang sejak Munas Golkar 2019 ditetapkan sebagai capres, sementara PAN mengajukan Menteri BUMN Erick THohir sebagai cawapres.

Pantas, sesuai yang disebutkan mantan Wapres Jusuf Kalla, pemilu kali ini yang paling rumit, penentuan bacawapres saja berlarut-larut belum selesai juga.

Kader PD di sejumlah lokasi pun meradang, mulai mencopoti banner dan spanduk-spanduk memuat foto pas balon presiden dan wapres Anies dan AHY yang terpampang di sudur-sudut jalan karena mereka merasa dipermalukan dan dihianati.

Politisi, kerap kali tampil bagai “musang berbulu ayam”, santun, bijak dan merakyat, penuh dengan slogan dan pencitraan, sehingga wajah aslinya baru kelihatan saat mereka “all out” dengan segala cara berupaya meraih kekuasaan.

 

 

 

 

 

 

Advertisement