
BERHUBUNGAN seksual dengan bersih dan dengan pasangan sah perlu terus digaungkan pada publik untuk mencegah paparan penyakit lain, mengingat 15 kasus positif cacar monyet yang ditemukan di Jakarta, semuanya akibat kontak seksual menyimpang.
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Maxi Rondonuwu mengemukakan di Jakarta (26/10), seluruh pasien adalah laki-laki yang ditularkan melaluai kontak seksual dengan pasangan sejenis dan berganti-ganti.
Penyakit cacar monyet (monkeypox-Mpox) disebabkan oleh virus cacar monyet dari genus Orthopoxvirus pertama kali terdeteksi di Jakarta pada Agustus 2022 dan jumlahnya terus bertambah setelah dilakukan penelusuran kontak.
Seperti dikonfirmasi oleh Direktur Surveilans Karantina Kesehatan Kemenkes Achmad Farchani baru-baru ini (Kompas, 20/10), cacar monyet dengan gejala demam dan lesi atau kelainan kulit terdeteksi dari seorang pasien yang tidak melakukan perjalanan ke luar negeri.
Surveialnce masih dilakukan guna mengetahui apakah pasien tersebut pernah melakkan kontak dengan orang yang melakukan perjalanan ke luar negeri. Temuan kasus tersebut di Jakarta adalah yang kedua, sedangkan sebelumnya terjadi pada 20 Agustus 2022.
Dalam kasus pertama yang menimpa seorang berusia 27 tahun baru bepergian dari luar negeri dengan gejala lesi dan ruam di wajah, telapak tangan dan kaki dan sekitar kelamin.
Walau baru dua kasus, hal itu tidak bisa dianggap sepele, mengingat Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeklrasaikan status kedaruratan kesehatan global cacar monyet pada 20 Juli 2022 saat mencapai 87.000 kasus dan 140 kematian di 111 negara.
Kasus cacara monyet lalu mereda, dan Dirjen WHO Thedros Adhanom Ghebeyesus mencabut status kedaruratan global cacar monyet pada Juli 2023 walau penyakit itu tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat global.
Waspada! Lakukan pola hidup sehat termasuk terkait kontak seksual.



