
KA TURANGGA jurusan Surabaya (st Gubeng) – Bandung tabrakan “adu kepala banteng” dengan KA komuter Bandung Raya jurusan Bandung – Cicalengka di KM 181 + 700 di wilayah Haurpugur, Cicalengka, Jawa Barat, Jumat (5/01) pukul 06:30.
Korban tewas empat orang yakni masinis KA komuter Bandung Raya Julian Dwi Setiono dan asistennya, Ponisan, pramugara KA Turangga Ardyansyah dan petugas keamanan stasiun Cimekar, Gedebage, Bandung, Enjam Yudi.
Evakuasi terhadap dua bangkai lokomotif KA nahas itu masih berlangsung melibatkan tim gabungan beranggotakan 200 oeang dari unsur PT KAI, TNI dan kepolisian, Kemenhub dan Basarnas.
Vice Presiden Publik Relation PTA KAI Joni Martinus mengemukakan, selain menggunakan kran atau alat pemindah, pekerjaan evakuasi juga dilakuan dengan enam dongkrak listrik serta berbagai peralatan pendukung lainnya.
Selanjutnya PT KAI akan bekerjasama dengan Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk menginvestigasi penyebab kecelakaan.
Menurut Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretapian Masyarakat Transportasi Indonesia Aditya Dwi Laksana, kecelakaan itu bisa dipicu kelalaian manusia dan prasarana sekitar lokasi, namun ia berharap PT KAI terus meningkatkan sistem keselamatan.
KA tabrakan di jalur rel tunggal kemungkinan disebabkan salah satu Pimpinan Perjalanan KA (PPKA) yang dipegang oleh kepala stasiun memerintahkan melepas KA (menaikkan sinyal hijau) padahal belum aman.
Kecelakaan bisa juga terjadi jika PPKA sudah memerintahkan agar sinyal (warna merah) diturunkan , namun ada gangguan hidraulik dan ia tidak mengeceknya langsung secara visual.
Salah satu masinis kedua rangkaian KA tersebut bisa juga lalai atau mengantuk sehingga tanpa disadarinya sehingga KA yang dikemudikan menerabas jalur KA yang belum aman.
Sejak tahun 2000 saja tercatat sejumlah kecelakaan KA, mulai dari tabrakan KA jurusan Jakarta dan KA jurusan Rangkasbitung pada 1 Mei 2020 yang menyebabkan lima orang tewas.
KA Tawangjaya dan KA Barang (parcel) tabrakan di dekat St. Pelabuhan, Krengseng, Kab. Batang, Jateng (10 Sept. 2000) menyebabkan 13 orang tewas dan 10 luka-luka.
Lalu, KA Mpu Jaya menabrak loko Cirebon Ekspress yang sedang langsir di Stasiun Kejaksaan, Cirebon (2 Sept ‘2001) menewaskan 40 orang dan melukai 62 orang.
Pembenahan manajemen keselamatan mendesak dilakukan, apalagi dengan kehadiran KA Cepat Jakarta Bandung (KCJB) Woosh yang melaju dalam kecepatan sekitar 350 Km per jam yang melayani Jakarta – Bandung pp sebanyak 40 perjalanan pada hari kerja dan 48 di akhir pekan (Jumat – Minggu).
Tentu saja sistem pengamanan KA Woosh tersebut lebih baik dibandingkan KA konvensional, namun mengingat kecepatannya jauh lebih tinggi sehingga jika terjadi kecelakaan berakibat fatal, perlu mitigasi untuk mengantisipasinya.




