Saudaraku, pendidikan itu benih harapan. Manakala suatu bangsa dilanda kegelapan, kekacauan dan keterpurukan, sedang tiada tahu kunci jawabnya, maka sandaran pamungkasnya adalah pendidikan.
Tugas pendidikan bukanlah memaksakan sesuatu pada peserta didik, melainkan menuntun mengeluarkan potensinya bertumbuh. Adapun potensi yg harus diaktifkan adalah budi-pekerti. Budi mengandung arti “pikiran, perasaan dan kemauan” (aspek batin); pekerti artinya “tenaga” atau daya” (aspek lahir). Pendidikan budi-pekerti mengupayakan bersatunya pikiran, perasaan dan kemauan manusia, melalui olah pikir, olah rasa, olah karsa, dan olah raga demi menghasilkan tenaga yang dpt mendorong karya penciptaan dan perbuatan yg baik, benar dan indah.
Peserta didik yg dikehendaki itu ibarat pohon berkah. Pohon berkah itu hendaknya berakar dalam, berbatang tinggi, bercabang-ranting rapi, berdaun rindang, berbuah lebat. Akarnya akhlak-karakter mulia; batangnya wawasan ketinggian pengetahuan; cabang-rantingnya keterampilan dan kecakapan tata kelola; daunnya kerukunan-kolaboratif; buahnya kreativitas inovasi.
Kedalam, pendidikan harus memberi wahana pada peserta didik utk mengenali kekhasan potensi dirinya sekaligus tujuan moral hidupnya. Keluar, memberi wahana pada peserta didik utk mengenali dan mengembangkan kebudayaan sbg sistem nilai, sistem pengetahuan dan sistem perilaku bersama. Bibit unggul individualitas hrs tumbuh di atas tanah sosialitas Pancasila yg subur.
Alhasil, peserta didik hrs memiliki wawasan generalis dgn keahlian spesifik. Ibarat pohon yang memiliki jaringan pembuluh yg meluas (floem) dan meninggi (xilem).Tak cukup dibekali keahlian khusus, explicit knowledge dan keterampilan teknis, tetapi juga memiliki wawasan holistik. Kapabilitas yg ditumbuhkan pun hrs memperhatikan keberfungsiannya secara efektif, yang dpt diaktualisasikan individu dlm turut memecahkan masalah konkret kehidupan masyarakat.
Peserta didik juga hrs dapat melampaui jangkauan teknologi dan data dgn memberikan wawasan kemanusiaan dan kebijaksanaan. Dengan teknologi, anak-anak masa depan masih bisa menemukan “rumah” sakinah, bukan menjerumuskannya ke “pengasingan”.


