
DIGUNCANG gempa berkekuatan dengan magnitudo 7,4 Rabu (3/4), Taiwan berhasil menekan risiko kerugian nyawa dan harta benda sekecil mungkin berkat kesiapannya melakukan mitigasi. Sejauh ini dilaporkan hanya sembilan korban tewas dan 900 terluka.
Aparat tanggap darurat masih mencari 20-an korban yang kemungkinan terjebak di bawah reruntuhan 26 bangunan yang roboh akibat guncangan gempa terbesar dalam 25 tahun terakhir yang menimpa kawasan Hualien.
Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) melaporkan, gempa besar Rabu lalu diduga terjadi akibat aktivitas Sesar Lembah Longitudinal yang merupakan sesar atau patahan paling aktif di dunia.
Gempa, menurut (USGS)Â terjadi di zona transisi tektonik dan subduksi lempeng Eurasia yang berorientasi ke timur ke arah subduksi lempeng Laut Filipina yang berorientasi ke barat.
Dilihat dari lokasinya, kedalaman dan mekanismenya, gempa diperkirakan terkait dengan patahan di dalam lempeng Eurasia di atas zona subduksi, sementara di lokasi gempa, lempeng laut Filipina bergerak ke arah barat laut lempeng Eurasia berkecepatan 78 milimeter per tahun.
Taiwan kerap mengalami gempa, yang besar a.l. di Kawasan Nantou pada 1999, menewaskan 2.400 orang dan melukai 50.000 orang dan sejak 1980 Taiwan telah diguncang lebih 2.000 kali gempa bermagnitudo di atas 4.0.
Gempa-gempa sebelumnya yang mengakibatkan korban cukup besar di Taiwan yakni yang terjadi di Taichung pada April 1935, menewaskan 3.200 orang dan 12.000 orang luka-luka, lalu di Tainan pada 1941 yang mengkibatkan ratusan  jiwa melayang.
Pada 2016 terjadi gempa bermagitudo 6,4 di wilayah Yuying, menewaskan 114 orang, Februari 2022 di Hualien berkekuatan sama dan menewaskan 17 orang dan di Kawasan Taitung Sept.22, tidak ada korban jiwa.
Langkah-langkah mitigasi, menurut Seismolog dn Guru Besar Misouri University of Science and Teknlogi Stephen Gao, kesiapan Taiwan menghadapi gempa adalah yang terbaik di dunia a.l melalui  pemberlakuan regulasi terkait konstruksi bangunan secara ketat, sistem peringatan dini yang mumpuni serta sosialisasi mitigasi secara masif.
Gedung-gedung sejak 1974 dibangun sesuai dengan persyratan tahan gempa (seismic force requirement/SFR) yang terus ditingkatkan sejak 1980-an dan sejak itu pemerintah juga melarang membangun di zona patahan.
Level ketahanan bangunan terhadap ancama gempa di Taiwan juga ncana alam biaya konstruksi bangunan mau tidak mau juga naik.
Selain itu, otoritas Taiwan juga bagi warga yang igin memeriksakan ulang ketahanan bangunan milik mereka, sebaliknya mengenakan sanksi tegas bagi pelanggar, misalnya terhadap kontraktor bangunan berlantai 17 yang rubuh akibat gempa pada 2016.
Lima pelaku yang terlibat dalam pembangunan dihukum karena harus bertanggungjawab atas kematian puluhan korban dalam peristiwa itu.
Latihan rutin kesiapan menghadapi gempa bagi siswa sekolah dan warga di pemukiman juga berkontribusi meningkatkan ketangguhan rakyat Taiwan menghadap bencana alam termasuk gempa.
Bagaimana di Indonesia? sudah siapkah kita menghadapi berbagai bencana termasuk gempa? Jangan-jangan mitigasi yang dilakukan sekedar seremoni, pencitraan atau proyek?




