Garin Nugroho: Krisis Humaniora

Berbagai proyek dan program pembangunan terus digencarkan sejak era Orde Baru sampai era Reformasi, namun jumlah orang miskin tidak berkurang dan dan ketimpangan ekonomi makin melebar. Apa yang salah?

CINEAS kondang dan budayawan Garin Nugroho menilai, Indonesia sedang mengalami krisis humaniora a.l. akibat konfigurasi kepemimpinan di negeri ini yang kurang perduli sehingga ia ragu, era generasi emas pada 2045 bisa dikejar.

Garin mengatakan hal itu dalam seminar “Revitalisasi cerlang budaya lokal dalam pembangunan karakter bangsa sebagai sarana pemberdayaan masyrakat yang digelar oleh Dompet Dhuafa dan Bina Trubus Swadaya di Bentara Budaya, Jakarta, Rabu (29/5).

“Yang mendominasi panggung ketatanegaraan dan politik di sini  adalah politisi yang populer, tokoh agama yang memiliki massa besar, kalangan militer dan para preman politik yang ikut nimbrung. Tokoh yang paham tentang humaniora malah tidak muncul, ” tuturnya.

Berbeda dengan Korea Selatan, ujarnya, yang secara sistematis merancang industri kreatif berbasis budaya lokal termasuk film, kuliner dan musik dengan mengumpulkan orang-orang terbaik di bidangnya sehingga produknya digandrungi terutama para remaja di berbagai belahan bumi termasuk Indonesia.

Sebelumnya, Inisiator dan Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi dalam pengantar seminar mengatakan, Forum Grup Diskusi  (FGD) yang digelar kali ini antara lain terpicu dari  kecemasannya tentang kondisi bangsa dan negara saat ini

“Saya terus terang gelisah, kenapa negeri ini nggak maju-maju (terkait humaniora -red). Orang miskin juga makin banyak, “ tuturnya, seraya menambahkan “sudah terlalu banyak seminar-seminar, sarasehan dan tulisan yang membahasnya, namun tidak mengubah keadaan.

Parni yang mantan Pemimpin Umum LKBN ANTARA, Pemred Republika dan Dirut RRI menyemangati para nara sumber dan peserta FGD agar membuahkan hasil kongkret untuk ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan dengan langkah-langkah nyata sehingga dapat berkontribusi dalam upaya perbaikan dan memajukan negeri.

Menyikapi anggapan orang terkait karut marut yang terjadi di berbagai bidang kehidupan di negeri ini, Parni menyitir penilaian sejumlah pihak tentang Indonesia sebagai soft nation dan soft culture (bangsa “lunak” dengan budaya “lunak”) yang agaknya berkontribusi pada sikap permisif atau pembiaran.   

Ragam budaya lokal

Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaaan Kemendikbud Ristek Dr. Restu Gunawan mengemukakan, selain potensi kekayaan alam dan SDM , Indonesia juga memiliki khasanah budaya lokal melimpah ruah seperti kuliner, batik dan ragam pakaian daerah, perahu pinisi, musik etnik dan destinasi wisata.

Masalahnya, menurut dia paradigma terkait pembangunan kebudayaan harus diubah, dari defensive saat ini yakni menyerap budaya asing menjadi offensive, gencar memperkenalkan produk atau budaya lokal dan memasarkannya ke negara lain.

Sedangkan Pendiri dan Ketua Dewan pembina Yayasan Bina Trubus Swadaya Bambang Ismawan memprihatinkan tergerusnya rasa empati, sopan santun atau adab dan etika bangsa Indonesia yang dulu diagung-agungkan.

“Di jalanan saja, pengendara saling serobot, tanpa rasa bersalah melanggar peraturan, “ tuturnya seraya menambahkan, restorasi kebudayaan melaui gerakan terstruktur, sistematis dan masif (TSM) harus dilakukan.

Sementara pembicara lainnya Guru Besar Filologi Universitas Hasanuddin, Prof. Dr Nurhayati Rahman mengungkapkan kearifan lokal suku Bugis yang tercermin dari naskah kuno terpanjang di dunia, La Galigo yang ditulis di lembaran daun lontar.

Nurhayati bersama ilmuwan Universitas Leiden, Belanda juga berupaya mengumpulkan naskah sastra kuno pra-era Islam itu dari 12 jilid yang sudah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Memory of the World pada 2011.

La Galigo mengisahkan relasi kehidupan antara sang pencipta di langit dan alam serta manusia sampai di dasar lautan, mengusung  konsep kesetaraan, serba “saling”. Saling menerima dan memberi, berbagi dan melindungi.

“Kalau sekarang disebut demokrasi, walau konsepnya mungkin tidak sama, “ tuturnya.

Namun ia kecewa dengan pemeliharaan  dan pengamanan naskah kuno tersebut, tidak seperti di negara lain, misalnya untuk menyentuhnya saja, kurator museum harus mengenakan masker, pencahayaan dan suhu tempat penyimpanan juga harus diatur agar naskah tidak jamuran atau mengeras.

“Kalau di sini, orang minta naskah tersebut untuk difoto copy juga bisa. Asal bayar, “ ujarnya.

Transformasi budaya  

Sedangkan cendekiawan Yudi Latif, Ph.D menilai, transformasi apa pun harus diawali dari perubahan budaya seperti dilakukan di era renaissance yakni kebangkitan peradaban dan budaya di Eropa di abad pertengahan serta Aufklaerung (pencerahan) atau gerakan intelektual yang dilancarkan di Jerman abad ke-17.

Terkait pelestarian budaya lokal, Yudi berpedapat perlu difikirkan storage atau sistem pengumpulan (inventarisasi-red), lalu untuk mentransmisikan dan kemudian penditribusiannya kepada publik.

“Subgenre musik K-Pop yang mendunia diangkat dari Distrik Gangnam, Korsel  yang dijadikan pusat mode, hiburan serta ragam festival yang lalu menginspirasi dunia, “ ujarnya.

Sementara GKR Mangkubumi Hamemanyu Hayuning Bawana memaparkan, budaya Jawa mengedepankan kewajiban ketimbang hak, toleransi dan harmoni serta memanusiakan manusia, tak hanya dalam fikiran, tetapi juga rasa serta menafikan upaya mengejar kekuasaan.

“Sing bener belum tetu pener, “ tutur GKR Mangkubumi yang maknanya, sesuatu yang benar pun harus dilakukan dengan (pada waktu-red) tepat atau pas.

Ia juga menutukan tiga filosofi yang diterapkan Kraton Yogyakarta yakni “Sangkan paraning dumadi” (manusi harus mengenali dirinya atau tahu diri-red), hamemayu hayuning bawono (melakukan pembangunan berkesinambungan, ramah lingkungan) dan Manunggaling kawulo Gusti (menyatukan rakyat dengan pemimpinnya).

Gerakan tanam sorgum

Pembicara lainnya, penggerak penanaman sorgum di Flores, NTT, Maria Loretta mengaku berjibaku mengajak warga menanam sorgum di wilayah NTT yang tanahnya kering dan berbatu-batu, tidak bisa ditanami padi, jagung atau palawija lainnya.

Ia menyayangkan, program pemerintah berupa penanaman padi atau jagung di Flores yang terkesan dipaksakan karena memang tidak bisa tumbuh dengan baik di lahan kering yang ditutupi bebatuan.

Berkat bantuan media, menurut Maria, ia berhasil mendapatkan benih sorgum yang dibutuhkan, dan kini usahanya telah berhasil. Sorgum  yang dipanen, diolah menjadi aneka camilan atau substitusi beras.

Penulis sendiri mencatat, berbagai anomali atau penyimpangan yang terjadi bertahun-tahun akibat pembiaran, sebut saja praktek korupsi, ketidakadilan, ketimpangan antara si kaya dan si miskin, intoleransi, money politics dalam pemilu atau pilkada sudah berlangsung secara terstruktur, sistematis dan masif (TSM)

Perlu Gerakan Nasional, karena sekedar seminar, raker, sarasehan oleh instansi, kelompok tertentu atau media agaknya tidak cukup untuk mengubah keadaan, mengingat yang hendak diubah, perilaku politisi, oknum birokrat atau penentu kebijakan yang berada di zona aman dan nyaman.

Isu character building atau pembangunan karakter bangsa memang pernah disinggung di era Presiden Soekarno walau agaknya lebih sekedar retorika di tengah ancaman disintegrasi bangsa pasca kemerdekaan dan memasuki era Perang Dingin Timur – Barat.

Pada awal kepemimpinan Presiden Jokowi, gerakan reformasi juga pernah disebut-sebut, namun tidak ada kelanjutannya. Frasa Reformasi ditampilkan sebatas untuk mengawali orasi pejabat, pemasangan spanduk atau plakat.

Transformasi, restorasi budaya atau apa pun namanya, juga pembentukan karakter bangsa atau bidang lain terkait humaniora agaknya  memang harus dilakukan, tetapi dari mana memulainya?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here