Dinasti kekuasaan ala Sri Lanka

Gelombang unjuk rasa yang melengserkan dinasti Rajapaksa di Sri Lanka JUli 2022. Dinasti Rajapaksa bangkit lagi dalam Pemilu September nanti.

“KEKUASAAN itu nikmat dan segala-galanya, sehingga harus dipertahankan habis-habisan, jika lepas pun harus direbut kembali”.

Pola berfikir semacam itu agaknya yang membuat keluarga dinasti -dinasti yang berkuasa atau pernah berkuasa, seperti klan Rajapakse di Sri Lanka terus mempertahankannya.

Masih segar dalam ingatan, seperti dilukiskan oleh BBC, puluhan ABG tampak riang gembira berenang dan bermain air di kolam renang Istana Kepresidenan Sri Lanka di Kolombo saat istana diserbu massa sehingga Presiden Gotabaya Rajapaksa kabur ke luar negeri, Juli 2022.

Momen itu tak pernah terbayangkan sebelumnya karena selama berbulan-bulan, Gotabaya menolak seruan lengser meskipun kakak laki-lakinya, Mahinda Rajapaksa, lebih dulu mengundurkan diri sebagai perdana menteri guna meredakan amarah publik.

Rangkaian aksi protes massa yang disebut aragalaya atau perjuangan dalam bahasa Sinhala, mencapai puncaknya pada Juli 2022.

Kekuasaan dinasti politik Rajapaksa selama bertahun-tahun  dipimpin oleh Mahinda mengendalikan politik Sri Lanka pada masa jabatan pertamanya, tampil sebagai pemimpin Sri Lanka pada akhir perang saudara melawan pemberontak Macan Tamil.

Euforia kemenangan melawan Macan Tamil  membantunya meraih predikat “penyelamat” nasional di antara mayoritas etnis Sinhala, bahkan Mahinda disetarakan dengan seorang kaisar.

Mahinda pun semakin berkuasa, begitu pula dengan keluarganya. Ia menunjuk adik laki-lakinya, Gotabaya, sebagai menteri pertahanan, posisi yang menurut para kritikus, digunakannya dengan tangan besi.

Dua saudara lainnya yakni Basil dan Chamal, masing masing menjabat menteri keuangan dan ketua parlemen dan keluarga Rajapaksa memiliki basis pendukung nasionalis yang mayoritas etnis Sinhala.

Lolos bertahun-tahun

Dinasti Rajapaksa selama bertahun-tahun mereka selamat dari tuduhan korupsi, kekacauan ekonomi, pelanggaran hak asasi manusia, dan penindasan terhadap kebebasan berpendapat.

Situasi politik baru mulai  berubah pada 2022, ketika sejumlah kebijakan memicu krisis ekonomi terburuk yang pernah terjadi di negara ini.

Selang 17 tahun setelah Mahinda pertama kali menjadi presiden, rakyat Sri Lanka merayakan kejatuhan keluarga Rajapaksa dan rakyat yakin, dinasti keluarga tersebut telah tamat.

Faktanya, kebangkitan dinasti Rajapaksa setelah dua tahun di pengungsian terjadi. Namal, putera Mahindra mendaftarkan diri dalam pemilihan presiden yang akan digelar pada 21 September mendatang.

“Hal yang buruk jika para tokoh yang dilengserkan setelah aragalaya [protes massa] ikut lagi dalam pemilu,” kata Lakshan Sandaruwan, seorang mahasiswa yang ikut serta dalam unjuk rasa kepada BBC Sinhala.

“Yang lebih buruk lagi, masih ada yang  mungkin yang akan memilih salah satu anggota keluarga tersebut,” imbuhnya.

Gotabaya Rajapaksa pun pulang dari pelarian, disambut pesta dan bunga dan  Namal bukanlah satu-satunya keluarga Rajapaksa yang kembali ke panggung politik.

Gotabaya Rajapaksa sendiri yang diusir para demonstran ke luar negeri, tidak tinggal lama dalam pengasingannya, kembali hanya 50 hari setelah kepergiannya yang “memalukan”. Pertama ke Singapura, lalu ke Thailand. Sekembalinya ke Sri Lanka, ia diberi hak istimewa sebagai mantan presiden: sebuah bungalow mewah dan keamanan, yang semuanya dibiayai uang negara.

Pengganti Gotabaya sama saja

Di bawah Ranil Wickremesinghe, tokoh oposisi yang ditunjuk sebagai presiden pengganti Gotabaya selama dua tahun sisa masa jabatannya ternyata juga tidak banyak bedanya.

Partai Sri Lanka Podu Jana Peramuna (SLPP) yang dipimpin keluarga Rajapaksa yang meraih kursi mayoritas atau dua pertiga di parlemen mendukung Wickremesinghe.

Selama menjadi presiden, Wickremesinghe berfokus pada pembangunan ekonomi Sri Lanka, namun, ia dituduh melindungi keluarga Rajapaksa karena mengizinkan mereka untuk berkumpul kembali.

Dia juga dituding melindungi keluarga Rajapaksa dari gugatan hukum walau tuduhan itu juga dibantahnya. Beberapa jam setelah Wickremesinghe menjadi presiden, militer dikerahkan untuk membubarkan kerumunan massa di Galle Face, Kota Kolombo, yang menjadi pusat protes.

Puluhan tentara menyerbu lokasi tersebut guna membongkar tenda-tenda dan barang-barang milik para demonstran.

“Ranil melindungi keluarga Rajapaksa dari kemarahan rakyat. Dia memastikan kelangsungan parlemen, kabinet, dan pemerintah  dipimpin oleh SLPP, “ seru pengunjukrasa.

Ranil juga dianggap  tidak melakukan apa apa untuk menghentikan korupsi, dan bahkan menghambat  kemajuan penyelidikan terhadap anggota keluarga Rajapaksa,” kata analis politik, Jayadeva Uyangoda.

“Dia juga melindungi mereka dari tekanan internasional yang meminta pertanggungjawaban atas pelanggaran HAM serius, dan tuduhan-tuduhan  berkaitan dengan perang,” imbuhnya.

Keterpurukan kondisi ekonomi telah membuat marah banyak orang Sri Lanka yang hidup dalam krisis keuangan dan mengalami lebih banyak kesulitan, apalagi reformasi untuk menghidupkan kembali ekonomi yang stagnan tidak berjalan sesuai harapan banyak orang.

Agaknya capaian demokrasi di Sri Lanka baru segitu, sehingga rakyat harus sabar menanti munculnya ratu adil atau penyelamat yang bisa membalik keadaan. (BBC/Kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here