JAKARTA – Serangan panik adalah kondisi kecemasan intens yang memicu rasa takut berlebihan dan dapat memengaruhi kondisi fisik, seperti jantung berdebar, sesak napas, pusing, gemetar, dan otot tegang.
Serangan ini dapat berlangsung selama beberapa menit hingga setengah jam, tetapi dampak emosional dan fisiknya bisa bertahan lebih lama.
Meskipun sering disamakan, serangan panik dan kecemasan memiliki perbedaan yang signifikan. Dalam siarannya, Popsugar mengutip penjelasan dari dua ahli kesehatan mental mengenai perbedaan serangan panik dengan kecemasan sehingga dapat bermanfaat untuk menentukan perawatan kesehatan mental yang tepat.
Psikiater Vania Manipod, DO, menjelaskan bahwa serangan kecemasan cenderung lebih ringan dan tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari dibandingkan serangan panik.
Sementara itu, serangan panik termasuk dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) sebagai lonjakan rasa takut atau ketidaknyamanan yang mencapai puncaknya dalam hitungan menit, disertai gejala seperti nyeri dada, keringat berlebih, rasa panas, hingga derealisasi (perasaan tidak nyata).
Menurut Manipod, terdapat berbagai jenis gangguan kecemasan, seperti kecemasan sosial, kecemasan umum, dan fobia. Gangguan kecemasan umum biasanya ditandai dengan kekhawatiran berlebihan, otot tegang, kelelahan, sulit tidur, dan kesulitan berkonsentrasi.
Psikolog dan profesor klinis di Sekolah Kedokteran Grossman Universitas New York Amanda Spray, PhD, ABPP, menambahkan bahwa gangguan kecemasan persisten dapat menjadi tantangan yang sama sulitnya dengan serangan panik berulang. Bahkan, orang yang mengalami gangguan kecemasan dapat pula mengalami serangan panik.
Kecemasan sesekali adalah hal yang normal, tetapi jika mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi ini dapat dikategorikan sebagai gangguan kecemasan. Namun, tidak semua orang yang mengalami serangan kecemasan sporadis memiliki gangguan kecemasan.
Untuk menghadapi serangan panik atau kecemasan, langkah pertama yang direkomendasikan adalah mengenali gejalanya. Kesadaran ini dapat membantu seseorang mengelola respons fisiknya.
Mengucapkan afirmasi seperti “Saya akan baik-baik saja” atau “Ini tidak akan membahayakan saya” juga bisa memberikan ketenangan.
Langkah berikutnya adalah melatih pernapasan dalam. Mengatur napas secara perlahan, dengan embusan yang lebih panjang daripada tarikan, dapat membantu mengendalikan hiperventilasi dan mengurangi intensitas gejala.
Selain itu, mencari dukungan profesional kesehatan mental sangat dianjurkan. Penanganan kesehatan mental biasanya melibatkan psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif, yang membantu individu memahami dan mengatasi pikiran cemas.
Pengobatan juga sering digunakan untuk mengatasi kecemasan dan serangan panik sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.




